Ads by BuzzCity

Senin, 30 Juli 2012

Home » » Bullying, Tidak Hanya di Sekolah Tetapi Juga di Perguruan Tinggi

Bullying, Tidak Hanya di Sekolah Tetapi Juga di Perguruan Tinggi

Ilustrasi 1; penindasan; www.safenetwork.org

Kasus bullying yang terjadi di SMA Don Bosco, Pondok Indah, Jakarta baru-baru ini hanyalah satu dari sekian ribu kasus bullying di sekolah di seluruh Indonesia yang terungkap. Saya yakin bahwa setiap sekolah (biasanya tingkat SMP dan SMA/SMK) pasti ada tindakan bullying yang dilakukan oleh kakak kelas (called: senior) kepada adik kelas (called: junior). Tindakan bullying sering dilakukan saat Masa Orientasi Siswa (MOS), dan bahkan tidak jarang juga sampai setelah MOS alias selama senior masih ada di sekolah itu.
Kasus-kasus bullying di sekolah-sekolah memang sudah cerita lama yang menjamur hingga sekarang, namun selalu tidak ada penanganan serius dari pemerintah. Dan lebih parah lagi kasus bullying ini tidak hanya terjadi di sekolah-sekolah, tetapi juga di perguruan tinggi yang notabene terdiri dari kelompok sosial berpendidikan tinggi. Perguruaan tinggi seharusnya menjadi contoh bagi tingkat pendidikan di bawahnya, tetapi justru sebaliknya, bahkan mungkin lebih parah.
Sebelum jauh bercerita tentang kasus bullying yang ada di perguruan tinggi, ada baiknya kalau kita tahu terlebih dahulu apa yang dimaksud bullying, jenis-jenisnya, dan dampaknya. Bullying dari kata dasar “bully” yang artinya menggertak mempunyai sinonim dengan kata intimidasi. Intimidasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti  tindakan menakut-nakuti (terutama untuk memaksa orang atau pihak lain berbuat sesuatu); gertakan; ancaman; dan lazimnya kita mengenalnya sebagai sebuah penindasan.
Jenis-jenis bullying tidak hanya penindasan secara fisik tetapi juga lisan dan tulisan. Banyak di antara kita yang memahami bahwa bullying hanyalah sebuah tindakan penindasan secara fisik, padahal bullying yang acap kali terjadi di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi adalah bullying secara lisan dan tulisan. Bullying secara lisan dan tulisan ini bisa berupa ancaman, paksaan, penghinaan, ejekan, menakut-nakuti, dll.
Bullying adalah budaya tidak baik, namun selalu dicintai dan diamalkan generasi muda saat ini. Padahal bullying mempunyai dampak tidak baik dalam pembentukan generasi penerus bangsa yang bermartabat dan bermoral. Bullying dapat menimbulkan kecacatan fisik jika bullying dilakukan dengan cara penganiayaan fisik. Seperti dimuat oleh viva.co.id, di Jepang banyak kasus bullying salah satunya adalah penyiksaan yang dilakukan oleh tiga anak kelas 3 SMP terhadap adik kelasnya dengan membakar rambutnya dengan rokok dan memotong hidungnya. Jika bullying dilakukan secara lisan maupun tulisan maka dampaknya adalah stress dan depresi berat. Jika korban tidak diberi perhatian khusus maka korban bullying secara lisan maupun tulisan (biasanya ejekan, ancaman, gertakan) bisa bunuh diri karena depresi berat. Seperti yang dimuat oleh viva.co.id, di Jepang seorang anak bernama Yumi, gadis tujuh tahun anak dari pasangan suami istri Shinji dan Setsuko bunuh diri dengan melompat dari kondominium rumahnya setelah dia depresi karena selalu mendapat ejekan dari teman-temannya di sekolah.
Ilustrasi 2; mengejek teman; www.safenetwork.org
Ilustrasi 3; bullying oleh guru terhadap murid; www.safenetwork.org
Di Indonesia, hingga saat ini belum ada tindakan preventif yang nyata  dari pemerintah khususnya kementrian kepedendidikan nasional untuk menanggulangi masalah bullying. Adanya hanya sekedar himbauan-himbauan. Sementara kasus bullying semakin menjadi-jadi di sekolah-sekolah.
MOS memang menjadi puncak ajang pem-bully-an senior kepada junior di sekolah-sekolah tingkat SMP dan SMA. Di dalamnya terdapat serangkaian kegiatan yang semuanya mengintimidasi juniornya, ancaman, pelecehan, hukuman, bahkan siksaan sering terjadi.
Di perguruan tinggi tidak jauh beda, hanya saja namanya menjadi Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (OSPEK). Tujuan utama OSPEK sebenarnya baik, yaitu ingin memperkenalkan kepada mahasiswa baru (maba) tentang bagaimana studi di kampus dan ingin memperkenalkan kampus agar maba lebih tahu tentang sejarah, organisasi, staf karyawan dan pengajar dari sebuah kampus. Namun, lagi-lagi cara yang salah dalam melaksanakan OSPEK telah memutar hingga 180 derajat paradigma OSPEK yang baik dan bermartabat menjadi paradigma yang buruk. Bahkan OSPEK sangat sarat dengan kegiatan intimidasi yang mana hukuman fisik selalu menghantui maba.
Beberapa tahun terakhir ini OSPEK dihilangkan, diganti dengan sebuah kegiatan orientasi mahasiswa yang namanya sesuai kehendak masing-masing kampus. Kalau di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) yang terkenal sebagai kampus pencetak guru, kegiatan orientasi mahasiswa diberi nama Masa Pengenalan Akademik (MPA). Di kampus-kampus lain tentunya tidak jauh beda dengan UNJ, tergantung kreasi masing-masing kampus dalam pemberian nama. Yang jelas, penghilangan OSPEK ini dan menggantinya dengan kegiatan baru ‘katanya sih begitu’ dan dengan nama yang baru setidaknya menghilangkan citra buruk tentang pelaksanaan kegiatan orientasi mahasiswa di perguruan tinggi. Kegiatan orientasi ini ‘katanya’  lebih mendidik, bermartabat, dan berbudaya, walaupun kenyataannya juga jauh dari harapan.
Kegiatan MPA di UNJ misalnya, kegiatan yang sebenarnya hanya tiga hari menjadi tiga bulan bahkan setahun. Kata senior, MPA utama memang tiga hari tetapi rangkaian kegiatan MPA bisa berbulan-bulan, dan itu ‘wajib’  diikuti oleh maba. Padahal maba juga tidak sebodoh itu, maba juga tahu bahwa dari pihak universitas memang mewajibkan MPA selama tiga hari, bukan berbulan-bulan bahkan setahun. Jelas, ini adalah perbuatan senior yang membuat-buat kegiatan dengan kedok ‘WAJIB’ dan selalu maba terjebak dalam ancaman yang sebenarnya tidak masuk akal. Jika maba tidak mengikuti seluruh rangkaian MPA  maka ancamannya adalah tidak mendapat sertifikat MPA, dan jika tidak memperoleh sertifikat MPA maka maba tidak bisa mengajukan beasiswa ataupun menyelesaikan skripsi. ‘Katanya’ sertifikat MPA adalah sebagai syarat pengajuan beasiswa dan skripsi. Sementara saya adalah satu dari sekian ratus mahasiswa UNJ yang sama-sama tidak memperoleh sertifikat MPA karena hanya mengikuti kegiatan MPA utama ataupun tidak mengikuti kegiatan MPA sama sekali yang bisa atau memperoleh beasiswa.
Aneh memang, senior mengajarkan maba untuk selalu jujur dan berakhlak baik sesuai dengan ajaran agama (‘ane’ dan ‘ente’ ), tetapi senior selalu berbohong dalam setiap kegiatan. Senior selalu berkata, “Kegiatan ini wajib dik. Ingat, jika  adik tidak mengikuti kegiatan ini maka pintu beasiswa dan skripsi tertutup bagi adik! Karena sertifikat MPA adalah syarat pengajuan beasiswa ataupun skripsi!”. Bentuk ancaman ini juga selalu disebarkan melalui sms dengan istilah jarkom (jaringan komunikasi). Apakah hal ini bukan termasuk “bullying”? Bagi senior tentu tidak, karena ada pasal istimewa “pasal 1 berbunyi Senior adalah pelaksana kegiatan dan TIDAK PERNAH SALAH” dan “pasal 2 berbunyi junior harus selalu mengikuti perintah senior dan wajib mengikuti seluruh kegiatan”.
Ancaman-ancaman tersebut selalu mengawali kegiatan MPA (eh salah, rangkaian kegiatan MPA). Selama MPA juga terjadi banyak intimidasi kepada maba, misalnya saja maba diberi tugas ini, itu, membuat atribut MPA dan tugas yang “se-ambreg” dalam waktu yang sangat tidak sebanding.Memang benar maba dilatih untuk bekerja keras, belajar tekun, rajin, disiplin, dan bertanggung jawab. Namun apakan dengan ancaman-ancaman? Yang mana jika tugas-tugas tidak selesai diberi hukuman, beberapa fakultas memang memberi hukuman bukan hukuman fisik, tetapi ada juga fakultas yang selalu memberi hukuman fisik. Ancaman tragisnya, jika tugas-tugas ada yang tidak selesai maka maba dinyatakan gagal mengikuti MPA, dan jika gagal maka tidak memperoleh sertifikat MPA. Bagi saya ini adalah sebuah lelucon, sertifikat MPA lebih penting dari sertifikat UAN SMA, bahkan sertifikat MPA menentukan kelulusan mahasiswa UNJ dari tugas akhir atau skripsi. Apakah hal ini logis? Senior memang ‘jago’  berbohong, tetapi tidak tahu kalau maba juga tak sebodoh senior bayangkan.
Dalam keadaan ini, maba pasti depresi dan banyak juga yang stress. Dan saya yakin di kampus-kampus lain juga tidak jauh beda dengan UNJ, seandainya tidak maka saya sangat salut dan bersyukur atas kampus tersebut. Kampus yang seharusnya membentuk manusia Indonesia yang berkepribadian baik dan bermartabat tinggi justru sebagai ajang bullying golongan senioritas kepada golongan junioritas.
Kesimpulannya adalah bullying itu terjadi dimana-mana, di sekolah, universitas, ataupun di lingkungan masyarakat. Kalau OSPEK identik dengan bullying secara fisik, maka MPA dan kegiatan sejenis lainnya identik dengan bullying secara lisan dan tulisan. Pemerintah harus bertindak secara cepat, ciptakan program yang mendidik kepemimpinan yang bermoral dan bermartabat bagi siswa sejak dini, tidak hanya sekedar himbauan-himbauan atau pasal-pasal hukum yang belum jelas juga penegakkannya.  
Saran saya untuk maba adalah jadilah mahasiswa baru yang berpikir kritis, jangan mau dibodohin senior kalian. Kuliah tidak seribet dan sekejam yang kalian bayangkan, santai saja. Semua akan terbiasa jika anda sudah menjalani perkuliahan.
Dan bagi para senior, buatlah kegiatan sebagus mungkin, mendidik, bermoral, atraktif, dan tidak usah pakai bohong-bohongan segala yang tujuanya hanya ingin mengintimidasi maba. Mahasiswa baru itu tidak perlu dipaksa-paksa dan diberi berbagai ancaman yang gajes (nggak jelas), tetapi perlakukan mahasiswa baru sebaik mungkin dan ciptakan kegiatan yang atraktif bukan kegiatan yang sarat dengan bullying. Insya Allah mahasiswa baru akan mengikuti kegiatan dengan senang hati tanpa paksaan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...