Ads by BuzzCity

Senin, 11 Juni 2012

Home » , » FASE REMAJA

FASE REMAJA


Masa remaja sering disebut dengan masa “puber”. Istilah “puber” dapat dipakai untuk anak yang menunjukan prilaku yang menyulitkan orang lain. Pubertas berarti kelaki-lakian dan menunjukan kedewasaan yang dilandasi oleh sifat keaslian dan ditandai oleh kematangan fisik. Pada masa ini terlihat perubahan-perubahan jasmaniah berkaitan dengan proses kematangan jenis kelamin. Terlihat pula adanya perkembangan psikososial berhubungan dengan berfungsinya seseorang dalam lingkungan sosialnya.

WHO mendefinisikan remaja sebagai berikut :
Remaja adalah merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan di mana :
¨      Individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukan tanda-tanda seksual sekundernya sampai saat ini mencapai kematangan seksual.
¨      Individu mengalami perkembangan psikologi, dan pola identifikasi dari anak menjadi dewasa.
¨      Terjadi peralihan dari ketergantungan sosial-ekonomi yang penuh kepada keadaan yang relatif lebih mandiri.
(Muangman, yang dikutip oleh Sarlito, 1991:9)

Dari segi usia dan perubahan yang terlihat, remaja merupakan masa peralihan antara masa anak dan masa dewasa yakni antara umur 12 tahun sampai 21 tahun.

Masa remajadianggap sebagai persiapan untuk memasuki usia dewasa dengan segala perubahan-perubahannya seperti perubahan fisik, hubungan sosial, bertambahnya kemampuan dan ketrampilan, pembentukan identitas diri. Pada akhir masa remaja diharapkan kedewasaan sudah tercapai, sudah mampu mencari nafkah sendiri dan membentuk keluarga.

Kadangkala terlihat adanya remaja yang tidak melibatkan diri dalam kehidupan masyarakat. Mereka tidak mau mengambil tanggung jawab penuh sebagai orang dewasa, walaupun umur sudah dapat digolongkan “dewasa”. Mereka belum memperoleh tempat dalam masyarakat, belum mempunyai pekerjaan tetap. Tanggung jawab dalam hidup berkeluarga dirasakannya sebagai beban yang terlalu berat, sehingga mereka hanya berpeluang dalam permainan “cinta”.

Oleh sebagian ahli psikologi, masa remaja dirinci menjadi beberapa masa yaitu :
1.      Masa Praremaja (remaja awal)
Masa praremaja biasanya berlangsung hanya dalam waktu relatif singkat. Masa ini ditandai oleh sifat-sifat negatif pada remaja sehingga masa ini disebut masa negatif dengan gejalanya seperti tidak tenang, kurang suka bekerja, pesimistik, dan sebagainya. Secara garis besar sifat-sifat negatif tersebut dapat diringkas yaitu :
a.      Negatif dalam prestasi, baik prestasi jasmani maupun prestasi mental, dan ;
b.      Negatif dalm sikap sosial, baik dalam bentuk menarik diri dalam masyarakat maupun dalam bentuk agresif terhadap masyarakat.
2.      Masa remaja (remaja madya)
Dalam diri remaja mulai tumbuh dorongan untuk hidup kebutuhan akan adanya teman yang dapat memahami dan menolongnya, teman yang sama-sama dapat merasakan suka duka. Remaja suka mencari sesuatu yang bernilai, pantas dijunjung tinggi dan dipuja-puja sehingga masa ini disebut masa merindu puja.

3.      Masa remaja akhir
Adalah ketika remaja telah dapat menentukan pendirian hidupnya, pada dasarnya ketika tugas-tugas perkembangan remaja telah terpenuhi antara lain, menemukan pendirian hidup.



1.      Kebutuhan Remaja
Mengacu pada perbedaan individu maka setiap remaja memiliki kualitas kebutuhan yang berbeda-beda, baik untuk kebutuhan yang bersifat fisik maupun non fisik. Kebutuhan seperti makan, minum, seks, pakaian, sedangkan kebutuhan non fisik sepeti ingin diperhatikan, dikasihi, dihargai, dipuji. Terpenuhi tidaknya kebutuhan itu akan mempengaruhi perilaku remaja. Dalam upaya memenuhi kebutuhannya, remaja seringkali mengalami friksi (friction) ataupun konflik baik dengan diri sendiri maupun orang lain. Kurang pekanya orang tua dan orang dewasa lainnya dalam mencoba memahami dan memenuhi kebutuhan remaja akan menimbulkan gejolak emosi pada diri remaja tersebut. Dampaknya ia akan memberontak ataupun menarik diri dari lingkungannya. Kurang adanya pengertian dari pihak orang tua ataupun orang dewasa lain terhadap sikap remaja yang dinilai menyimpang, akan mendorong mereka untuk memberikan label-label negatif kepada remaja sebagai seorang ‘pembangkang’, pemberontak, keras kepala, mau menang sendiri dan sebagainya.

Berikut ini adalah kebutuhan-kebutuhan yang sifatnya universal ada pada diri setiap remaja.
a.            Ingin dihargai keberadaannya
b.            Ingin dipuji
c.             Ingin diperhatikan
d.            Ingin mendapat pengakuan terhadap prestasi yang dicapai
e.             Ingin tampil beda dari yang lain
f.              Ingin selalu berada dengan kelompok sebayanya.

Untuk dapat memenuhi kebutuhan remaja maka pihak orangtua dan guru perlu berusaha untuk mengenal, memahami dan melakukan pendekatan terhadap remaja sebagai pribadi dengan segala karakteristik dan keunikannya. Belajar untuk memahami permasalahan remaja dari perspektif remaja sendiri. Adanya komunikasi yang sifatnya dialogis dengan remaja akan sangat membantu dalam upaya ia mengenal, memahami dan menerima diri apa adanya.


2.      Perkembangan Kognitif
Intelegensi diartikan keseluruhan kemampuan individu untuk berpikir dan bertindak secara terarah serta mengolah dan menguasai lingkungan secara efektif.
Perkembangan intelektual remaja sesuai dengan kematangan psikologisnya maka bagi remaja yang memiliki intelegensi tinggi cenderung lebih baik kemampuan untuk berpikir dan bertindak secara terarah, dan cenderung untuk cepat mengolah serta menguasai lingkungan secara efektif.

Karakteristik Perkembangan Kognitif Remaja

Pada masa remaja perkembangan intelegensi tidak mudah diukur, karena tidak mudah melihat perubahan dan perkembangan intelegensi remaja. Kira-kira pada umur 12 tahun seorang, anak berada pada masa operasi formal (berpikir abstrak).
Ciri-ciri khas :
a). Remaja telah berpikir dengan mempertimbangkan hal yang “mungkin” disamping hal yang nyata.
b). Remaja telah dapat berpikir abstrak dan hipotetik
c). Dapat melihat atau merasakan hubungan dan sangkut paut antara berbagai macam hal.
d). Bersikap kritis terhadap berbagai masalah yang dihadapi
e). Mandiri dalam mengambil berbagai keputusan.
f). Memperlihatkan bebagai usaha atau inisiatif yang bersifat intelektual.
g). Mampu menggunakan pengetahuan yang  dimilikinya.
h). Dapat mengasimilasikan fakta-fakta baru dengan fakta-fakta yang lama.
i).  Dapat membedakan mana masalah yang penting dan yang tidak penting.
j).  Mempunyai rasa toleransi yang besar terhadap orang yang berbeda pendapat dengan dirinya.


3.      Perkembangan Emosi

Pengertian Emosi

Sarlito Wirawan Sarwono (1982 : 59) berpendapat bahwa emosi merupakan “setiap keadaan atau kondisi pada diri seseorang yang disertai warna afektif  baik pada tingkat lemah (dangkal) maupun pada tingkat yang luas (mendalam)”. Crow dan Crow (1958) mengungkapkan emosi adalah pengalaman afektif yang disertai penyesuaian dari dalam diri individu tentang keadaan mental dan fisik dan berwujud suatu tingkah laku yang tampak.
Emosi dapat dikatakan sebagai keadaan perasaan yang mendalam dan biasanya menimbulkan perbuatan. Perasaan menyangkut aspek fisik dan psikis, emosi hanya untuk keadaan psikis saja. Emosi seseorang telah ada dan berkembang semenjak ia bergaul dengan lingkungan.

Jenis-Jenis Emosi

Perasaan dan emosi meliputi rasa senang, tidak senang, rasa benci - rasa sayang, rasa suka – tidak suka, terpesona, terkejut, kecewa, marah dan lain sebagainya.
Emosi sebagai suatu peristiwa psikologis mengandung ciri-ciri sebagai berikut:
a). Lebih bersifat subjektif dari pada peristiwa psikologis lainnya, seperti pengamatan dan berpikir.
b). Bersifat fluktuatif (tidak tetap)
c). Banyak bersangkut paut dengan peristiwa panca indera.

Hubungan antara emosi dan tingkah laku remaja :
a). Secara tradisional masa remaja dianggap sebagai periode “badai dan tekanan”, masa remaja adalah suatu masa diamana ketegangan emosi meninggi sebagai akibat dari perubahan fisik dan kelenjar.

b). Memperkuat semangat, apabila merasa puas dan melemahkan semangat jika merasa kecewa karena kegagalan, sebagai puncak rasa putus asa (frustasi).

c). Menurut Gessel dkk remaja sering marah meledak-ledak. Hal ini seringkali terjadi sebagai akibat dari kombinasi ketengan psikologis, ketidakseimbangan biologis, kelelahan, kurang tidur.

d). Kepekaan emosi (remaja) yang meningkat dapat berujud lekas marah, menyediri, kebiasaan nuerosa (garuk-garuk kepala, menggigit kuku dan lain), ledakan emosi (membanting-banting benda, suka berkelahi, tak suka makan).

Karakteristik Perkembangan Emosi Remaja
Pada usia ini seorang remaja cenderung banyak murung dan tidak dapat diterka. Kemurungan yang terjadi pada sebagian remaja merupakan akibat dari perubahan-perubahan biologis dalam hubungannya dengan kematangan seksual dan sebagian karena kebingungannya dalam menghadapi apakah ia masih sebagai anak-anak atau sebagai orang dewasa. Secara kongkrit dapat terlihat di mana :
a).  Remaja mengungkapkan amarahnya dengan menggerutu.
b).  Remaja merasa iri hati terhadap orang yang memiliki benda lebih banyak.
c). Remaja sangat peka terhadap ejekan-ejekan yang dilontarkan kepada dirinya.
d). Rasa sedih merupakan gejala awal yang sangat menonjol dalam masa remaja awal.
e). Pada remaja akhir “pemberontakan” merupakan ekspresi dari perubahan universal dari masa kanak-kanak ke dewasa.
f).  Seringkali remaja usia (15 – 18 tahun) melamun, memikirkan masa depan mereka. Banyak diantara mereka terlalu tinggi menafsir kemampuan mereka sendiri dan merasa berpeluang besar untuk memasuki pekerjaan dan memegang jabatan tertentu.
g). Banyak diantara remaja yang memiliki konflik dengan orangtua mereka, ini nampaknya sebagai akibat bertambahnya kebebasan.

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Emosi
a).  Kematangan organ persepsi
b).  Tingkat perkembangan bahasa.
c).  Faktor hereditas dan factor temperamen.
d).  Perkembangan pada masa preanatal dan pengalaman-pengalaman neonate.
e). Penyebab kepekaan emosi remaja meningkat; perubahan system, endoktrin, intuisi, penyesuaian terhadap seks yang berbeda, penyesuaian terhadap lingkungan yang baru, masalah-masalah sekolah dan pekerjaan dan lain-lain.

4.      Perkembangan Sosial Remaja
Perkembangan sosial remaja sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya seperti orangtua ,sanak keluarga, orang dewasa lainnya, dan teman sebayanya. Lingkungan sosial yang kondusif seperti orang tua yang pengertian, menerima remaja apa adanya, memberi kesempatan remaja untuk berkembang, semua itu akan sangat membantu proses pematangan sosial remaja. Sebaliknya, lingkungan sosial yang tidak kondusif, seperti pemberian label, ancaman dan tidak adanya kesempatan untuk berkembang akan menghambat kematangan sosial remaja.
Untuk dapat mencapai perkembangan sosial yang optimal, remaja perlu didorong dan diberi peluang untuk melakukan sosialisasi dengan lingkungannya. Dalam proses sosialisasi tersebut remaja diharapkan dapat melakukan penyesuaian diri terutama yang berkaitan dengan perilaku sosial seperti :
a).  Mengenal kelompok sosial baru
b).  Mengenal nilai-nilai sosial dalam persahabatan
c). Mengenal nilai-nilai yang berhubungan dengan dukungan dan penolakan sosial.
d).  Mengenal nilai-nilai yang berhubungan dengan kepemimpinan

Pengaruh Perkembangan Sosial Terhadap Tingkah Laku Remaja

Sebagai akibat terjadinya perkembangan sosial remaja dapat menunjukan gejala-gejala seperti :
a).  Lebih menyukai teman dari lawan jenisnya daripada teman sejenis.
b). Berbagai kegiatan sosial banyak dilakukan. Hal ini menjadikan wawasan sosial semakin luas pada remaja yang lebih besar.
c). Dapat menilai teman-temannya dengan lebih baik (objektif), sehingga pertengkaran menjadi berkurang.
d). Memiliki kepercayaan diri yang diungkapkan melalui sikap yang tenang dan seimbang dalam situasi sosial.
e).  Bila menghadapi teman-teman yang dianggap kurang cocok, ia cenderung tidak memperdulikan dan tidak menyatakan perasaan superioritasnya, seperti yang dilakukan oleh anak yang lebih besar.

Karakteristik Perkembangan Sosial Remaja

Beberapa ciri khusus tentang perkembangan sosial remaja seperti :
a).  Geng pada masa kanak-kanak berangsur-angsur bubar
b).  Minatnya dari permainan yang melelahkan berpindah pada kegiatan sosial yang lebih formal dan kurang melelahkan.
c). Minat terhadap kelompok yang terorganisasi kegiatannya direncanakan dan diawasi oleh orang dewasa dengan cepat menurun, karena remaja mau merdeka dan tidak mau diperintah.
d). Kelompok yang terlalu banyak anggota cenderung bubar pada akhir masa remaja dan digantikan dengan kelompok-kelompok kecil yang hubungannya tidak terlampau akbrab.
e). Pengaruh dari geng/kelompok sebaya cenderung meningkat selama masa remaja.

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Sosial Remaja

Ada beberapa factor yang cenderung mempengaruhi perkembangan sosial remaja, antara lain :
a).  Minat dan nilai-nilai yang sama dapat menimbulkan rasa aman.
b).  Pola hubungan sosial dalam keluarga termasuk pola asuh orang tua
c).  Penampilan diri
d).  Pengalaman masa lalu
e).  Kepribadian
f).  Status sosial ekonomi


Perbedaan Individu Dalam Perkembangan Sosial

Terdapatnya perbedaan individual dalam perkembangan sosial tidak dapat dihindarkan. Hal ini disebabkan oleh adanya :
a).  Tingkat kematangan yang berbeda-beda
b).  Pengaruh pola kehidupan lingkungan/sosial budaya
c).  Perbedaan status kelahiran, pekerjaan dan pendidikan.

Upaya Pengembangan Hubungan Sosial Remaja dan Implikasinya dalam Proses Pembelajaran.
Usaha ini dapat dilakukan dengan cara :
a).   Melaksanakan kegiatan-kegiatan kelompok. Seperti diskusi, sosiodrama, darmawisata, dan lain-lainnya.
b).  Memberi kesempatan seluas-luasnya untuk aktif dalam kegiatan kelompok
c). Memberikan bimbingan secara khusus bagi individu yang kematangan sosialnya kurang.

5.      Perkembangan Sosial Remaja
Salah satu tugas perkembangan yang harus dipenuhi oleh remaja adalah bagaimana mempelajari apa yang diharapkan oleh lingkungan daripadanya, dan mencoba berperilaku sesuai dengan harapan tersebut tanpa harus terus dibimbing ataupun diawasi oleh orang tua ataupun orang dewasa lainnya. Dengan lain perkataan, remaja memiliki kemandirian dalam menentukan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukannya, apa yang baik dan tidak baik bagi dirinya dan lingkungannya.
Berkembangnya moral remaja dapat melalui proses :
a). Identifikasi :  remaja mengidentifikasikan diri terhadap perilaku, cara berpikir dari seorang yang mampu menjadi idolanya. Dalam hal ini bisa guru, orangtua, ataupun  tokoh masyarakat.
b). Coba-coba (trial dan error) :  remaja melakukan proses uji coba dalam mencari perilaku moral yang dipandanga positif oleh lingkungannya akan terus dipertahankan dan dikembangkan, dan sebaliknya perilaku yang dipandang secara negatif akan dicoba secara tertahap dikurangi atau dihilangkan.
c).  Bimbingan :  remaja mendapatkan bimbingan dan arahan dari orangtua, guru dan orang dewasa lainnya tentang segala sesuatu yang  berkaitan dengan baik buruknya suatu perbuatan  serta konsekuensi yang diterima remaja apabila melakukan pelanggaran.
d). Belajar melalui media masa baik cetak maupun elektronik. Mencakup berbagai informasi dalam bentuk tulisan-tulisan maupun pemberitaan dan tayangan film yang menggambarkan perilaku amoral akan mempengaruhi perkembangan moralnya. Misalnya, masalah pembunuhan, perampokan, penganiayaan, dan tindak kriminalitas lainnya. Remaja sangat rentan terhadap berbagai macam pengaruh negatif yang ada di lingkungannya. Selain itu pula remaja banyak menjumpai adanya inkonsistensi dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam keluarga, sekolah maupun masyarakat. Misalnya apa yang dikatakan tidak baik dalam keluarga ternyata dilakukan oleh masyarakat. Untuk itu perkembangan moral remaja juga terkait kuat dengan unsure-unsur :
Ø  Disiplin                        :  Terutama ‘self dicipline’ dari remaja yang bersangkutan untuk mentaati tatanan moral yang berlaku.
Ø  Peraturan                    :  Bertujuan untuk membekali remaja dengan peraturan perilaku yang disetujui dalam situasi tertentu, misalnya segala sesuatu yang berhubungan dengan peraturan dan tata tertib di rumah dan di sekolah, apabila remaja yang bersangkutan melangarnya akan ada sangsi yang dikenakan.
Ø  Sanksi                          :  Sanksi diberikan terhadap pelanggaran yang dilakukan. Sanksi yang diberikan sesuai dengan berat ringannya pelanggaran yang dilakukan dan perlu dievaluasi, sejauh mana sanksi tersebut dilaksanakan.
Ø  Penghargaan              :  Bertujuan untuk mendidik, memotivasi, mengulangi dan memperkuat perilaku yang disetujui secara sosial. Penghargaan yang diberikan tidak selalu dalam bentuk benda, dapat juga dalam bentuk pujian/kata-kata.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...