Ads by BuzzCity

Senin, 28 Mei 2012

Home » , , » TEORI BELAJAR KREATIF

TEORI BELAJAR KREATIF

PEMBAHASAN

2.1  Howard Gardner
Kecerdasan atau inteligensi seseorang dibawa pertama kali ia dilahirkan. Akan tetapi, perkembangan kecerdasan atau intelegensi ini didapatkan seseorang seiring perkembangan- nya dalam kehidupan. Kecerdasan terbagi-bagi dalam tiga bagian, yaitu kecerdasan intelektual atau IQ, kecerdasan spiritual atau SQ, dan kecerdasan emosional atau EQ. Ketiga bentuk kecerdasan ini tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lain. Agar terjadi keseimbangan, ketiganya harus diasah dengan baik melalui suatu proses pembelajaran dan pengalaman-pengalaman tersendiri.
Inteligensi penting bagi kehidupan seseorang karena tanpa intelegensi tersebut, seseorang tidak akan mampu membedakan sesuatu, baik itu hal nyata maupun hal yang tidak nyata. Jika kita membicarakan intelegensi, tidak terlepas dari proses pembelajaran. Intelegensi berkembang dan didapatkan melalui proses pembelajaran. Jika inteligensi tidak diasah, intelegensi tidak akan berkembang dan tidak akan  ada perubahan. Daya pikir seseorang yang telah mendapat didikan dari sekolah (pembelajaran), menunjukan sifat yang lebih baik daripada anak yang tidak bersekolah.
Inteligensi atau kecerdasan tidak hanya terpaut pada kecerdasan individual, tetapi ada pula kecerdasan majemuk. Melalui teori kecerdasan majemuk, adanya penghakiman terhadap manusia dari sudut pandang inteligensi akan terhindar. Pendidikan atau pembelajaran kecerdasan ganda berorientasi pada perkembangan potensi anak, bukan pada idealism guru atau orang tua.
Pengertian Inteligensi
Orang berpikir menggunakan pikiran  atau inteleknya. Cepat tidaknya dan terpecahkan atau tidaknya suatu masalah tergantung kepada kemampuan intelelejensinya. Dilihat dari intelejensinya kita dapat mengatakan seseorang itu pandai atau bodoh. Intelejensi ialah kemampuan yang dibawa sejak lahir, yang memungkinkan seseorang berbuat sesuatu dengan cara yang tertentu.
William Stern mengemukakan batasan sebagai berikut, Intelegensi ialah kesanggupan untuk menyesuaikan  diri kepada kebutuhan baru, dengan menggunakan alat-alat berpikir yang sesuai dengan tujuannya. William Stern berpendapat bahwa intelegensi sebagian besar tergantung dengan dasar dan turunan. Pendidikan atau lingkungan tidak begitu berpengaruh kepada intelegensi seseorang. Juga Prof. Waterink seorang Mahaguru di Amsterdam, menyatakan bahwa menurut penyelidikannya belum dapat dibuktikan bahwa intelegensi dapat diperbaiki  atau dilatih. Belajar berpikir hanya diartikannya bahwa banyaknya pengetahuan bertambah akan tetapi tidak berarti bahwa kekuatan berpikir bertambah baik.
Pendapat-pendapat baru membuktikan bahwa intelegensi pada anak-anak yang lemah pikiran dapat juga dididik dengan cara yang lebih tepat (lihat hasil penyelidikan Frohn dimuka). Juga kenyataan membuktikan bahwa daya pikir anak-anak yang telah mendapat didikan dari sekolah, menunjukkan sifat-sifat yang lebih baik daripada anak yang tidak bersekolah. Dari batasan yang dikemukakan di atas, dapat kita ketahui bahwa:
·         Intelegensi itu ialah faktor total, berbagai macam daya jiwa erat bersangkutan  di dalamnya (ingatan ,fantasi, perasaan, minat dan sebagainya turut mempengaruhi seseorang). Kita hanya dapat mengetahui intelegensi dari tingkah laku atau perbuatannyayang tampak. Intelegensinya dapat kita ketahui dengan cara tidak langsungmelalui kelakuan intelegensinya.
·         Bagi suatu perbuatan intelegensi bukan hanya kemampuan yang dibawa sejak lahir saja yang penting. Faktor-faktor lingkungan dan pendidikan pun memegang peranan.
·         Bahwa manusia itu dalam kehidupannya senantiasa dapat menentukan tujuan-tujuan yang baru, dapat memikirkan dan menggunakan cara-cara untuk mewujudkan dan mencapai tujuan itu.

(Thobroni, Muhammad dan Arif Mustofa. 2011. Belajar dan Pembelajaran: Pengembangan Wacana dan Praktik Pembelajaran dalam Pembangunan Nasional hal 233-236. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media)

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Intelegensi
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi intelejensi, sehingga terdapat perbedaan  intelegensi seseorang dengan yang lain ialah:
·         Pembawaan
Pembawaan ditentukan oleh sifat-sifat dan ciri-ciri yang dibawa sejak lahir.
·         Kematangan
Tiap organ dalam tubuh manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Tiap organ (fisik maupun psikis) dapat dikatakan telah matang jika ia telah mencapai kesanggupan menjalankan fungsinya masing-masing.
·         Pembentukan
Pembentukan ialah segala keadaan di luar diri seseorang yang mempengaruhi perkembangan intelejensi. Dapat kita bedakan pembentukan sengaja (seperti yang dilakukan di sekolah-sekolah) dan pembentukan tidak sengaja (pengaruh alam sekitar).
·         Minat dan pembawaan yang khas
Minat mengarahkan perbuatan kepada suatu tujuan dan merupakan dorongan bagi perbuatan itu.
·         Kebebasan
Kebebasan berarti bahwa manusia itu dapat memilih metode-metode yang  tertentu dalam memecahakan masalah-masalah
Semua faktor tersebut di atas bersangkut paut satu sama lain. Untuk menentukan intelegen atau tidaknya seorang anak, kita tidak dapat hanya berpedoman kepada salah sati faktor tersebut di atas. Intelegensi adalah faktor total. Keseluruhan pribadi turut serta menentukan dalam perbuatan intelegensi seseorang.
Kecerdasan Majemuk adalah suatu kemampuan ganda untuk memecahkan suatu masalah-masalah yang dihadapi dalam kehidupan. Konsep kecerdasan jamak (multiple Intellegence) berawal dari karya Howard Gardner dalam buku Frames Of  Mind tahun 1983 didasarkan atas hasil penelitian selama beberapa tahun tentang kapasitas kognitf manusia (Human Cognitif Capacities) Gardner menolak asumsi bahwa kognisi manusia merupakan satu kesatuan dan individu hanya mempunyai kecerdasan tunggal. Meski sebagian besar individu menunjukkan penguasaan yang berbeda. Individu memiliki beberapa kecerdasan dan bergabung menjadi satu kesatuan membentuk kemampuan pribadi yang cukup tinggi.
Howard Gardner memperkenalkan sekaligus mempromosikan hasil penelitian Project Zero di Amerika yang berkaitan  dengan kecerdasan ganda (multiple intelligences). Teorinya menghilangkan anggapan yang selama ini tentang kecerdasan manusia. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa tidak ada satuan kegiatan manusia yang hanya menggunakan satu macam kecerdasan, melainkan seluruh kecerdasan yang selama ini dianggap ada 7 macam kecerdasan, dan pada buku yang mutakhir ditambahkan lagi 3 macam kecerdasan. Semua kecerdasan ini bekerja sama sebagai satu kesatuan yang utuh dan terpadu. Komposisi keterpaduannya tentu saja bebeda-beda pada masing-masing budaya. Namun secara keseluruhan semua kecerdasan tersebut dapat diubah dan ditingkatkan. Kecerdasan yang paling menonjol akan mengontrol kecerdasan-kecerdasan lainnya dalam memecahkan masalah.
Berdasarkan pada teori Gardner, David G. Lazear memberikan petunjuk untuk mengubah dan meningkatkan kecerdasan-kecerdasan tersebut lengkap dengan instrumentasinya dalam pembelajaran. Ia mengembangkan proses pembelajaran di kelas yang memanfaatkan dan mengembangkan kecerdasan ganda anak, dengan harapan dapat digunakan anak diluar kelas dalam mengenali dan memahami realitas kehidupan.
Pokok-pokok pikiran yang dikemukakan Gardner adalah:
·         Manusia mempunyai kemampuan meningkatkan dan memperkuat kecerdasannya
·         Kecerdasan selain dapat berubah dapat pula diajarkan kepada orang lain
·         Kecerdasan merupakan realitas majemuk yang muncul di bagian-bagian yang berbeda pada sistem otak atau pikiran manusia
·         Pada tingkat tertentu, kecerdasan ini merupakan suatu kesatuan yang utuh. Artinya dalam memecahkan masalah atau tugas tertentu, seluruh macam kecerdasan manusia bekerja bersama-sama, kompak dan terpadu.
·         Kecerdasan yang terkuat cenderung “memimpin/melatih” kecerdasan lainnya yang lebih lemah. Dikatak juga bahwa manusia mempunyai berbagai cara untuk mendekati suatu masalah dan hampir semuanya dipelajari secara alami.
·         Kecerdasan adalah suatu kemampuan untuk memecahkan masalah atau menghasilkan sesuatu yang dibutuhkan di dalam latar budaya tertentu. Rentang masalah atau sesuatu yang dihasilkan mulai dari yang sederhana sampai yang kompleks.
Adapun Definisi Gardner tentang kecerdasan:
·         Kecakapan untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupannya.
·         Kecakapan untuk mengembangkan masalah baru untuk dipecahkan.
·         Kecakapan untuk membuat sesuatu atau melakukan sesuatu yang bermanfaat didalam kehidupannya.
(Thobroni, Muhammad dan Arif Mustofa. 2011. Belajar dan Pembelajaran: Pengembangan Wacana dan Praktik Pembelajaran dalam Pembangunan Nasional hal 237-240. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media)

Teori kecerdasan majemuk (KM) adalah validasi tertinggi gagasan bahwa perbedaan individu adalah penting. Pemakaiannya dalam pendidikan sangat tergantung pada pengenalan, pengkuan, dan penghargaan terhadap setiap atau berbagai cara siswa belajar terhadap setiap bakat dan minat masing-masing. Howard Gardner mengisyaratkan bahwa mungkin ada lebih banyak lagi kecerdasan daripada tujuh kecerdasan yang telah didefinisikannya, khususnya dalam budaya-budaya lain. Dengan demikian, daftar KM-nya dapat disusun ulang dan ditambahkan. Tujuan riil membuat dan menyusun suatu daftar juga adalah “untuk mengangkat kemajemukan kecerdasan” (Gardner, 1993)
Ketujuh kecerdasan yang diidentifikasi oleh Gardner (1983) adalah:
1.      Kecerdasan linguistic (berkaitan dengan bahasa)
2.      Kecerdasan logis-matematis (berkaitan dengan nalar-logika dan matematika)
3.      Kecerdasan spasial (berkaitan dengan ruang dan gambar)
4.      Kecerdasan musical (berkaitan dengan music, irama dan bunyi/suara)
5.      Kecerdasan badani-kinestetik (berkaitan dengan badan dan gerak tubuh)
6.      Kecerdasan interpersonal (berkaitan dengan hubungan antar pribadi, sosial)
7.      Kecerdasan intrapersonal (berkaitan dengan hal-hal yang sangat mempribadi)
Dua kecerdasan pertama dalam daftar tersebut adalah kecerdasan yang paling dikenal dan dimaklumi dalam masyarakat kita sekarang ini. Keduanya adalah keceradsan yang menjamin keberhasilan dalam tes-tes IQ (Intelligences Quotient) dan SAT (Student Aptitude Test= Tes Bakat-Kecerdasan Siswa) karena mereka adalah kecerdasan yang menjadi sasaran tes ketika pertama kali tes-tes itu dirancang. Siswa yang memiliki dan mengembangkan kecerdasan linguistic dan logis-matematis dijamin pasti akan berhasil dalam situasi sekolah tradisional. Namun keberhasilan di sekolah bukan alat peramal yang baik bagi keberhasilan siswa dalam kehidupan yang sebenarnya kelak. (Gardner, 1993)
Ø  Kecerdasan linguistik
Kecerdasan linguistik, yang disebut oleh sebagian pendidik dan penulis sebagai kecerdasan verbal, berbeda dari kecerdasan-kecerdasan lainnya karena setiap orang yang mampu bertutur dan berkata-kata dapat dikatakan memiliki kecerdasan tersebut dalam beberapa level. Bagaimanapun juga, kriteria untuk tak sekadar kemampuan dasar ini haruslah dibuat, meskipun sudah barang tentu jelas bahwa sebagian orang lebih berbakat secara linguistic daripada sebagian lainnya (Kirschenbaum, 1990). Kecerdasan linguistik mewujudkan dirinya dalam kata-kata, baik dalam tulisan maupun lisan. Orang yang memiliki jenis kecerdasan ini juga memiliki keterampilan auditori (berkaitan dengan pendengaran) yang sangat tinggi, dan mereka belajar melalui mendengar. Mereka gemar membaca, menulis dan berbicara, dan suka bercengkerama dengan kata-kata. Mereka mengkhidmati kata-kata bukan hanya untuk makna tersirat atau tersurat saja, namun juga bentuk dan bunyinya. Contoh untuk orang yang memiliki kecerdasan linguistic yaitu penyair, penggemar teka-teki silang, atau pecandu permainan Scrabble.

(Jasmine, Julia. 2007. Panduan Praktis: Mengajar Berbasis Multiple Intelligences hal 11-18. Bandung: Nuansa.)

Berikut ini karakteristik individu yang menunjukkan kemampuan dalam intelegensi berbahasa (Linguistik):
a.      Senang membaca buku atau apa saja, bercerita atau mendongeng.
b.      Senang berkomunikasi, berbicara, berdialog, berdiskusi, dan senang berbahasa asing.
c.       Pandai menghubungkan dan merangkai kata-kata atau kalimat baik lisan maupun tertulis. Pandai menafsirkan kata-kata atau paragraf baik secara lisan maupun tertulis. Senang mendengarkan musik dan sebagainya dengan baik.
d.      Pandai mengingat atau menghafal.
e.       Mudah menggungkapkan perasaan baik lisan tertulis.
f.        Humoris.

(Winataputra, Udin S dkk. 2008. Teori Belajar dan Pembelajaran hal 5.5-5.6. Jakarta: Universitas Terbuka.)
Ø  Kecerdasan logis matematis
Kecerdasan logis matematis berhubungan dengan dan mencakup kemampuan ilmiah. Orang dengan kecerdasan ini gemar bekerja dengan data: mengumpulkan dan mengorganisasi, menganalisis serta menginterpretasikan, menyimpulkan kemudian meramalkan. Mereka melihat dan mencermati adanya pola serta keterkaitan antar data. Mereka suka memecahkan problem (soal) matematis dan memainkan permainan strategi seperti buah dam dan catur. Kecerdasan logis-matematis sering dipandang dan dihargai lebih tinggi dari jenis-jenis kecerdasan lainnya, khususnya dalam masyarakat teknologi dewasa ini.Kecerdasan ini dicirikan sebagai kegiatan otak kiri.
(Jasmine, Julia. 2007. Panduan Praktis: Mengajar Berbasis Multiple Intelligences hal 19-21. Bandung: Nuansa.)
Berikut ini kecerdasan individu yang menunjukkan kemampuan dalam intelegensi logis-matematis.
a.      Senang bereksperimen, bertanya, menyusun atau merangkai teka-teki.
b.      Senang dan pandai berhitung dan bermain angka.
c.       Senang mengorganisasi kan sesuatu, menyusun skenario.
d.      Mampu berfikir logis.
e.       Senang silogisme.
f.        Senang berfikir abstraksi dan simbolis.
g.      Mengoleksi benda-benda dan mencatat koleksinya.
(Winataputra, Udin S dkk. 2008. Teori Belajar dan Pembelajaran hal 5.6. Jakarta: Universitas Terbuka.)
Ø  Kecerdasan spasial
Kecerdasan spasial, yang kadang-kadang disebut kecerdasan visual atau visual-spasial, adalah kemampuan untuk membentuk dan menggunakan model mental (Gardner, 1993). Orang yang memiliki kecerdasan jenis ini cenderung berpikir dalam atau dengan gambar dan cenderung mudah belajar melalui sajian-sajian visual seperti film, gambar, video, dan peragaan yang menggunakan model dan slide. Mereka gemar menggambar, melukis atau mengukir gagasan-gagasan yang ada di kepala dan sering menyajikan suasana serta perasaan hatinya melalui seni. Mereka sangat bagus dalam hal membaca peta dan diagram dan begitu menikmati upaya memecahkan jejaring yang ruwet serta menyusun atau memasang jigsaw puzzle. Kecerdasan ini dapat dilukiskan sebagai kegiatan otak-kanan dan mempunyai beberapa karakteristik yang yang mirip dengan kecerdasan intrapersonal.
(Jasmine, Julia. 2007. Panduan Praktis: Mengajar Berbasis Multiple Intelligences hal 21-22. Bandung: Nuansa.)
Berikut ini karateristik individu yang menunjukkan kemampuan dalam intelegensi visual spasial:
a.      Senang merancang sketsa, gambar, desain grafik, tabel.
b.      Peka terhadap citra, warna, dan sebagainya.
c.       Pandai memvisualisasikan ide.
d.      Imajenasinya aktif.
e.       Mudah menemukan jalan dalam ruang.
f.        Mempunyai persepsi yang tepat dari berbagai sudut.
g.      Senang membuat rumah-rumahan dari balok.
h.      Mengenal relasi benda-benda dalam ruang.
(Winataputra, Udin S dkk. 2008. Teori Belajar dan Pembelajaran hal 5.6. Jakarta: Universitas Terbuka.)
Ø  Kecerdasan musical
Sebagian orang menyebut kecerdasan musical sebagai kecerdasan ritmik atau kecerdasan musical/ritmik. Orang yang mempunyai kecerdasan jenis ini sangat peka terhadap suara atau bunyi, lingkungan juga music. Mereka sering bernyanyi, bersiul atau bersenandung ketika melakukan aktivitas lain. Mereka gemar mendengarkan music, mungkin mengoleksi kaset atau CD lagu, serta bisa dan kerap memainkan satu instrument music. Kecerdasan musical mungkin yang paling sedikit dipahami dan setidaknya dalam lingkungan akademik, yang paling sedikit didukung di antara jenis-jenis kecerdasan lainnya.
(Jasmine, Julia. 2007. Panduan Praktis: Mengajar Berbasis Multiple Intelligences hal 22-24. Bandung: Nuansa.)
Berikut ini karakteristik individu yang menunjukkan kemampuan dalam intelegensi musikal:
a.      Pandai mengubah atau mencipta musik.
b.      Gemar mendengar dan atau memainkan alat musik.
c.       Senang dan pandai bernyanyi, bersenandung.
d.      Pandai mengoperasikan musik serta menjaga ritme.
e.       Mudah menangkap  musik.
f.        Peka terhadap suara dan musik.
g.      Dapat membedakan bunyi berbagai alat musik.
h.      Bergerak sesuai irama, seperti mengetukkan jari sesuai irama.
(Winataputra, Udin S dkk. 2008. Teori Belajar dan Pembelajaran hal 5.7. Jakarta: Universitas Terbuka.)
Ø  Kecerdasan badani-kinestetik
Kecerdasan badani-kinestetik sering disebut sebagai kecerdasan kinestetik saja. Orang yang memiliki kecerdasan jenis ini memroses informasi melalui sensasi yang dirasakan pada badan mereka. Mereka tak suka diam, dan ingin bergerak terus, mengerjakan sesuatu dengan tangan atau kakinya, dan berusaha menyentuh orang yang diajak bicara. Mereka sangat baik dalam keterampilan jasmaninya baik dengan menggunakan otot kecil maupun otot besar, dan menyukai aktivitas fisfik dan berbagai jenis olahraga.
(Jasmine, Julia. 2007. Panduan Praktis: Mengajar Berbasis Multiple Intelligences hal 25. Bandung: Nuansa.)
Berikut ini karakteristik individu yang menunjukkan kemampuan dalam intelegensi kinestetik:
a.      Senang menari, akting.
b.      Pandai dan aktif dalam olahraga tertentu.
c.       Mudah berekspresi dengan tubuh.
d.      Mampu memainkan mimik.
e.       Cenderung menggunakan bahasa tubuh.
f.        Koordinasi dan fleksibilitas tinggi.
g.      Senang dan fektif berpikir sambil berjalan, berlari, dan berolah raga.
h.      Pandai merakit sesuatu menjadi suatu produk.
i.        Senang bergerak atau tidak bisa diam dalam waktu yang lama.
j.        Senang  kegiatan di luar rumah.
(Winataputra, Udin S dkk. 2008. Teori Belajar dan Pembelajaran hal 5.7-5.8. Jakarta: Universitas Terbuka.)
Ø  Kecerdasan interpersonal
Kecerdasan interpersonal ditampakkan pada kegembiraan berteman dan kesenangan dalam berbagai macam aktivitas sosial serta ketaknyamanan atau keengganan dalam kesendirian dan menyendiri. Orang yang memiliki jenis kecerdasan ini menyukai dan menikmati bekerja secara berkelompok, juga kerap merasa senang bertindak sebagai penengah atau mediator dalam perselisihan dan pertikaian baik di sekolah maupun di rumah. Sisi gelap dari kecerdasan ini adalah tindak peyurangan atau penyelewengan, sedangkan sisi terangnya adlah empati. Inilah kecerdasan milik orang ekstrovert.
(Jasmine, Julia. 2007. Panduan Praktis: Mengajar Berbasis Multiple Intelligences hal 26-27. Bandung: Nuansa.)
Berikut ini karakteristik individu yang menunjukkan kemampuan dalam intelegensi interpersonal:
a.      Mampu berorganisasi, menjadi pemimpin dalam suatu organisasi.
b.      Mampu bersosialisasi, menjadi mediator, bermain dalam kelompok/klub, bekerjasama dalam tim.
c.       Senang permainan berkelompok daripada individual.
d.      Biasanya menjadi tempat mengadu orang lain.
e.       Seneang berkomunikasi verbal dan non-verbal.
f.        Peka terhadap teman.
g.      Suka memberi feedback.
h.      Mudah mengenal dan membedakan perasaan dan pribadi orang lain.

(Winataputra, Udin S dkk. 2008. Teori Belajar dan Pembelajaran hal 5.8-5.9. Jakarta: Universitas Terbuka.)
Ø  Kecerdasan intrapersonal
Kecerdasan intrapersonal tercermin dalam kesadaran mendalam akan perasaan batin. Inilah kecerdasan yang memungkinkan seseorang memahami diri sendiri, kemampuan dan pilihannya sendiri. Orang dengan kecerdasan intrapersonalnya tinggi pada umumnya mandiri, tak tergantung pada orang lain, dan yakin dengan pendapat diri yang kuat dengan pendapat diri yang kuat tentang hal-hal yang kontroversial. Mereka memiliki rasa percaya diri yang besar serta senang sekali bekerja berdasarkan program sendiri dan hanya dilakukan sendirian. Kecerdasan ini acapkali dipertautkan dengan kemampuan intuitif. Kecerdasan jenis ini milik orang introvert.
(Jasmine, Julia. 2007. Panduan Praktis: Mengajar Berbasis Multiple Intelligences hal 27-28. Bandung: Nuansa.)
Berikut ini karakterisktik individu yang menunjukkan kemampuan dalam intelegensi intrapersonal.
a.      Mampu menilai diri sendiri/ intropeksi diri, bermeditasi.
b.      Mudah mengelola dan menguasai perasaannya.
c.       Sering mengamati dan mendengarkan.
d.      Bisa bekerja senidirian dengan baik.
e.       Mampu mencanagkan tujuan, menyusun cita-cita dan rencana hidup yang jelas.
f.        Berjiwa independen/bebas.
g.      Mudah berkonsentrasi.
h.      Keseimbangan diri.
i.        Senang mengekspresikan perasaan-perasaan yang berbeda.
j.        Sadar akan realitas spiritual.
(Winataputra, Udin S dkk. 2008. Teori Belajar dan Pembelajaran hal 5.8. Jakarta: Universitas Terbuka.)
Kecerdasan Majemuk Tambahan
Sejak penjelasan ke tujuh inteligensia pada Frames of Mind (1983), muncullah diskusi-diskusi mengenai adanya kemungkinan-kemungkian kecerdasan lainnya. Penelitian-penelitian selanjutnya melihat adanya tiga kemungkinan baru: kecerdasan naturalis, kecerdasan spiritual dan kecerdasan eksistensial.
Ø  Kecerdasan Naturalistik
Kecerdasan ini merupakan kemampuan seseorang untuk mengenali, mengkategorisasikan dan menyimpulkan fitur-fitur tertentu di  alam ini. Pada jaman purba, para pemburu akan sangat menggantungkan diri pada kecerdasan naturalisnya untuk membedakan jenis hewan dan tumbuh-tumbuhan yang dapat dimakan.  Kini, kecerdasan naturalis dapat dilihat dari cara seseorang menghubungkan dirinya dengan lingkungannya, juga mengenali peran-peran yang dimainkan oleh lingkungan dari diri kita. Orang yang sensitive terhadap perubahan pola cuaca atau memiliki keahlian dalam membedakan nuansa benda-benda yang berjumlah banyak dapat disebut memiliki kecerdasan ini.
Ø  Kecerdasan Spiritual
Kecerdasan ini menekankan kemampuan seseorang untuk mempertanyakan pertanyaan-pertanyaan dasar tentang tujuan hidup, arti kehidupan serta kematian dan sensitifitas terhadap dimensi-dimensi spiritual.
Ø  Kecerdasan Eksistensial
Kecerdasan eksistensial ini dapat dimengerti dari kesensitifitasan serta kapasitas seseorang untuk bertanya tentang eksistensi manusia secara mendalam. Yang paling utama adalah kapasitas seseorang untuk menempatkan dirinya sebagai bagian kecil dari alam semesta (kosmos) yang maha luas.
(Thobroni, Muhammad dan Arif Mustofa. 2011. Belajar dan Pembelajaran: Pengembangan Wacana dan Praktik Pembelajaran dalam Pembangunan Nasional hal 242-243. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.)
Kelompok kecerdasan
Tidak ada seorang normal pun yang hanya memiliki satu jenis kecerdasan, meskipun keadaan yang tak biasa ini dikenal dan terdokumentasi terhadap para sarjana idiot atau penderita luka parah yang hancur sebagian otaknya. Sejatinya hampir beberapa orang mempunyai beberapa jenis kecerdasan sekaligus. Sebagian orang bahkan mempunyai kesemuanya, walaupun sebagian jauh lebih berkembang daripada lainnya. Orang dengan kecerdasan visual dan kinestetik yang tinggi boleh jadi akan menjadi seorang seniman yang baik.
(Jasmine, Julia. 2007. Panduan Praktis: Mengajar Berbasis Multiple Intelligences hal 28-30. Bandung: Nuansa.)

Strategi Dasar Pembelajaran Kecerdasan Ganda
Ada beberapa strategi dasar dalam kegiatan pembelajaran untuk mengembangkan kecerdasan ganda, yaitu:
·         Membangunkan /memicu kecerdasan , yaitu upaya  untuk mengaktifkan indera dan menghidupkan kerja otak.
·         Memperkuat kecerdasan, yaitu dengan cara member latihan dan memperkuat kemampuan membangunkan kecerdasan.
·         Mengajarkan dengan /untuk kecerdasan ,yaitu upaya-upaya mengembangkan struktur pelajaran yang mengacu pada penggunaan kecerdasan ganda.
·         Mentransfer kecerdasan, yaitu usaha memanfaatkan berbagai cara yang telah dilatihkan di kelas untuk memahami realitas di luar kelas atau pada lingkungan nyata.
Di dalam bukunya yang berjudul “Seven ways of knowing: Teaching for multiple intelligences” Lazear secara lengkap menjelaskan cara pengelolaan masing-masing kecerdasan dengan urutan seperti pada strategi dasar di atas, lengkap dengan tujuan dan proses, teori dan  penjelasan bagian otak yang berkaitan dengan kerja kecerdasan masing-masing.
(Thobroni, Muhammad dan Arif Mustofa. 2011. Belajar dan Pembelajaran: Pengembangan wacana dan praktik pembelajaran dalam pembangunan nasional hal 244-245. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.)

Mengembangkan Kecerdasan Ganda dalam Kegiatan Pembelajaran
Kecerdasan ganda sebenarnya merupakan teori yang bersifat filosofis. Hal ini tampak pada sikapnya terhadap belajar dan pandangannya terhadapa pendidikan atau pembelajaran. Pendidikan/pembelajaran ditinjau dari sudut pandang kecerdasan ganda lebih mengarah kepada hakekat dari pendidikan itu sendiri, yaitu yang secara langsung berhubungan dengan eksistensi, kebenaran , dan pengetahuan. Gambarannya tentang pendidikan diwarnai oleh semangat Dewey yang mendasarkan diri pada pendidikan yang bersifat progresif.
Kategori-kategori yang banyak digunakan orang selama ini adalah kategori music, pengamatan ruang, dan body-kinestetik (Amstrong, 1994). Adalah hal yang baru ketika Garnerd memasukkan kategori-kategori itu semua ke dalam pengertian kecerdasan dan bukannya talenta atau bakat. Garnerd menyadari bahwa banyak orang telah terbiasa mengatakan atau mendengarkan ungkapan seperti “Ia tidak begitu cerdas, tetapi ia memiliki bakat music yang sangat hebat”. Sebagaimana orang-orang mengatakan bahwa sesuatu adalah bakat, oleh Garnerd bakat-bakat atau kategoro-kategori tersebut dikatakan sebagai kecerdasan.
Untuk memberi dasar terhadap teori yang dikemukakannya, Gardner merancang dasar-dasar “tes” tertentu, dimana setiap kecerdasan harus dipertimbangkan sebagai inteligensi yang terlatih dan memiliki banyak pengalaman, yang tidak disebut sebagai talenta atau bakat. Hal-hal penting yang perlu diperhatikan dalam teori kecerdasan ganda, yaitu:
ü  Setiap orang memiliki semua kecerdasan-kecerdasan itu
ü  Banyak orang dapat mengembangkan masing-masing kecerdasannya sampai ke tingkat optimal
ü  Kecerdasan biasanya bekerja bersama-sama dengan cara yang unik
ü  Ada banyak cara untuk menjadi cerdas
(Thobroni, Muhammad dan Arif Mustofa. 2011. Belajar dan Pembelajaran: Pengembangan Wacana dan Praktik Pembelajaran dalam Pembangunan Nasional hal 245-246. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media)





2.2 Barbara Clark
Model Pendidikan Integratif (Clark)
Clark berdasarkan hasil berbagai penelitian tentang spesialisasi belahan otak, mengemukakan:
“Kreativitas merupakan ekspresi tertinggi keterbakatan dan sifatnya terintegrasikan, yaitu sintesa dari semua fungsi dasar manusia yaitu: berfikir, merasa, menginderakan dan intuisi (basic function of thingking, feelings, sensing and intuiting)” (Jung 1961, Clark 1986).

1.      Model

Model Integrative Education dari Clark (1986) didasasari atas riset tentang otak/pikiran dari dasawarsa terakhir. Titik pusatnya adalah pada fungsi alam pikiran sepenuhnya dari individu dan bertujuan membantu siswa menggunakan semua kemampuan mereka dalam belajar. Untuk itu model ini menggabungkan penggunaan keterampilan pemikiran, perasaan, pengindraan, dan intuisi (firasat) dalam pembelajaran akademis dan non-akademis.

Kekuatan dari model ini ialah pendekatannya yang terpadu dalam belajar, melihat siswa sebagai individu yang berfungsi sepenuhnya dan mempunyai sistem interaksi yang mempengaruhi kinerja. Cara seorang siswa mereka mempengaruhi cara berpikirnya dan juga sebaliknya.model pendidikan integratif digambarkan sebagai satuan lingkaran yang dibagi menjadi empat (Lihat Gambar 1.2). setiap bagian menampilkan suatu fungsi dari otak yang berinteraksi dengan dan mendukung fungsi-fungsi lain jika siswa belajar. Keempat fungsi ini ialah: fungsi berfikir (kognitif), fungsi perasaan atau emosi (afektif), fungsi fisik (pengindraan) dan fungsi firasat (mempunyai insight,kreatif). Garis-garis terputus memisahkan fungsi-fungsi itu melambangkan cara fungsi-fungsi itu bekerjasama.
Clark (1986) menggambarkan keempat bagian tersebut sebagai berikut :
-          Fungsi kognitif meliputi kekhususan dari belahan otak kiri yang analitis, memecahkan masalah, sekuensial, evaluatif dan kekhususan dari belahan otak kanan yang lebih berorientasi spasial (kekurangan) dan gestalt (keseluruhan).
-          Fungsi afektif diungkapkan dalam perasaan dan emosi dan merupakan pintu gerbang untuk meningkatkan atau membatasi fungsi kognitif yang lebih tinggi.
-          Fungsi fisik meliputi gerakan, penglihatan, pendengaran, penciuman, pencecapan dan perabaan yang menetukan bagaimana kita mengamati realitas.
-          Fungsi firasat adalah pemahaman secara menyeluruh, secara langsung memperoleh suatu konsep dalam keseluruhannya, dan sebagian merupakan hasil dari tingkat sintesis yang tinggi dari semua fungsi otak.

Model integratif ini mempunyai tujuan komponen inti. Meskipun menurut Clark tidak perlu semuanya dalam setiap hal, tetapi penggunaan ketujuh komponen semuanya akan menghasilkan penggunaan yang paling efektif dar model ini.

Komponen itu ialah:
1.   Lingkungan belajar yang responsif
2.   Relaksasi dan mengurangi ketegangan
3.   Gerakan dan physical encoding
4.   Mengusai bahasa dan perilaku
5.   Pilihan dan pengendalian yang diamati
6.   Aktivitas kognitif yang majemuk dan menantang
7.   Firasat dan integrasi

Dari tinjauan kurikulum, model integratif membangun pengalaman belajar untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam setiap dari tujuh kawasan komponen kunci. Keterpaduan dari keterampilan dan fungsi otak inilah memungkinkan siswa berfungsi sepenuhnya.

1.      Modifikasi Konten, Proses, Produk dan Lingkungan

Model pendidikan integratif memungkinkan modifikasi kurikulum untuk anak berbakat dalam keempat bagian tersebut dimuka. Konten belajar diperluas meliputi bidang subjek dengan topik-topik seperti relaksasi, mengurangi ketergantungan dan menggunakan firasat. Bidang-bidang seperti ini jarang diberikan di sekolah.

Proses belajar juga menekankan teknik-teknik untuk menggunakan pemikiran sepenuhnya. Kebanyakan program sekolah terutama berkaitan dengan fungsi kognitif dari otak, sedangkan model ini melihat pentingnya perasaan, pengindraan dan kreativitas siswa dan cara bagaimana keempat fungsi otak mempengaruhi proses belajar.

Dengan model ini produk belajar juga dapat dimodifikasi dalam kurikulum yang berdiferensial untuk anak berbakat. Produk belajar bukan hanya karangan, laporan atau proyek, tetapi juga pengelolaan diri, harga diri, belajar mandiri dan proses mental yang lebih tinggi.
Akhirnya, lingkungan belajar merupakan bagian inti dari pengalaman belajar. Model ini memadukan lingkunagan ke dalam keseluruhan rancangan pendidikan mengakui dampaknya terhadap proses belajar siswa. Hal ini menumbuhkan suasana yang mendorong keberhasilan dan rasa harga diri melalui pendekatan yang berpusat pada siswa terhadap belajar.

2.      Manfaat dari Model pendidikan terpadu Clark
Model pendidikan terpadu dari Clark dapat digunakaan untuk semua siswa dalam kelas biasa, namun mempunyai manfaat khusus bagi siswa berbakat.
Pertama,model ini menyampaikan informasi dengan cara yang terpadu, sesuai dengan cara berfikir anak berbakat. Dengan memungkinkan mereka menggunakan semua kemampuan mereka, siswa berbakat diberi kesempatan untuk mengembangkan lebih dari haya kemampuan kegiatan mereka, sehingga menunjang pengembangan manusia seutuhnya.
Kedua,dengan memasukkan teknik relaksasi dan mengurangi keteganggan model ini memberi siswa berbakat dengan strategi untuk menangani kecenderungan mereka untuk menjadi perfeksionis dan mengalami stres. Anak belajar lebih baik dalam kondisi tanpa stres; mereka juga cenderung lebih kreatif jika merasa rileks. Dengan mengembangkan kemampuan ini, siswa berbakat diharapkan dapat mengelola stres secara berhasil seterusnya.
Penggunaan ketiga dari model ini ialah dalam bidang pengelolaan diri. Siswa lebih dapat mengendalikan pembelajaran mereka dan mengembangkan ketrampilan dasar yang dibutuhkan untuk belajar seumur hidup. Betapapun baiknya guru anak berbakat, siswa perlu memiliki kemampuan untuk menemukan dan mencerna  informasi sendiri. Model ini memungkinkan untuk bertanggung jawab bagi belajar mereka sendiri.
Terakhir, model ini memenuhi kebutuhan siswa berbakat akan kegiatan yang majemuk dan menantang. Ini yang sering merupakan masalah siswa berbakat di kelas biasa. Model ini mengembangkan kemampuan anak secara utuh sesuai dengan keterampilan pribadi mereka. Dengan demikian anak berbakat diberi kesempatan untuk belajar dengan kesempatannya sendiri dengan cara yang bermakna bagi mereka.
Menurut Clark (1983), kreativitas merupakan ungkapan tertinggi dari keberbakatan. Keterpaduan dari empat fungsi (pikiran, perasaan, pengindraan, dan filsafat) membebaskan kreativitas (lihat Gambar 8.8); sedangkan membatasi salah satu fungsi akan mengurangi kreativitas. Kreativitas meliputi sintesis dan semua fungsi, yaitu a) berfikir secara rasional; b) tingkatan tinggi dari pengembangan perasaan atau emosi; c) talenta dan tingkatan tinggi ndan perkembangan fisik dan mental; dan d) tingkatan tinggi dari kesadaran yang menghasilkan penggunaaan tamsil (imagery), fantasi, dan penerobosan ke keadaan pra-sadar atau tidak sadar.
(Munandar, Utami. 2004. Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat hal 183-186. Jakarta: Rineka Cipta)


2.3 Treffinger
Model Treffinger untuk Mendorong Belajar Kreatif

Kreativitas merupakan suatu kemampuan yang hendak ditingkatkan dalam kebanyakan program anak berbakat. Untuk itu perlu ditumbuhkan iklim di dalam kelas yang menghargai dan memupuk kreativitas dalam semua segi. Tidak cukup menyediakan waktu 30 menit sehari untuk kreativitas, hal ini tidak akan meningkatkan kemampuan kreatif siswa. Diperlukan pendekatan yang lebih komprehensif untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan ini.

1.      Model
Model Treffinger untuk Mendorong Belajar Kreatif (Lihat Gambar 1.1) merupakan salah satu dari sedikit model yang menangani masalah kreativitas secara langsung dan memberikan saran-saran praktis bagaimana mencapai keterpaduan. Denagan melibatkan, baik keterampilan kognitif maupun afektif pada setiap tingkat pada model ini, Treffinger menunjukan saling hubungan dan ketergantungan antara keduanya dalam mendorong belajar kreatif.

Model Treffinger untuk Mendorong Belajar Kreatif (Treffinger, 1986) menggambarkan susunan tiga tingkat yang mulai dengan unsur-unsur dasar dan menanjak ke fungsi-fungsi berpikir kreatif yang lebih majemuk. Seperti dalam Model Penggayaan Renzulli (Renzulli, 1977, dikutip oleh Parke), siswa terlibat dalam kegitan membangun keterampilan pada dua tingkat pertama untuk kemudian menangani masalah kehidupan nyata pada tingkat ketiga. Model Treffinger terdiri dari langkah-langkah berikut: basic tools, practice with process, dan working with real problems (Lihat Gambar 1.1).

Tingkat I, basic tools atau teknik-teknik kreativitas tingkat I (Munandar, dalam Semiawan, Munandar dan Munandar, 1987) meliputi keterampilan divergen (Guilford, 1967, dikutip Parke, 1989) dan teknik-teknik kreatif. Keterampilan dan teknik-teknik ini mengembangkan kelancaran dan kelenturan berfikir serta kesediaan mengungkapakan pemikiran kreatif kepada orang lain.

Tingkat II, practice with process atau teknik-teknik krativitas tingkat II (Munandar, dalam Semiawan, Munandar dan Munandar, 1987) memberi kesempatan kepada siswa untuk menerapkan keterampilan yang dipelajari ada tingkat I dalam situasi praktis. Untuk tujuan ini digunakan strategi seperti bermain peran, simulasi, dan studi kasus. Keahiran dalam berfikir kreatif menuntuut siswa memiliki keterampilan untuk melakukan fungsi-fungsi seperti analisis, evaluasi, imajinasi, dan fantasi.

Tingkat III, working with real problems atau teknik kreatif tingkat III (Munandar, dalam Semiawan, Munandar dan Munandar, 1987) menerapkan keterampilan yang dipelajari dua tingkat pertama terhadap tantangan dunia nyata. Seperti pada kegiatan Tipe III pada Model Enrichment Triad dari Renzulli, siswa menggunakan kemampuan mereka dengan cara yang bermakna untuk kehidupannya. Siswa tidak hanya belajar keterampilan berfikir kreatif, tetapi juga bagaimana menggunakan informasi ini dalam kehidupan mereka.


1.      Modifikasi Konten, Proses, Produk dan Lingkungan

Model Mendorong Belajar Kreatif dari Trefffinger paling efektif jika diadaptasi untuk penggunaan kerikulum secara menyeluruh, karena memungkinkan modifikasi baik dari konten, proses, produk, maupun lingkungan. Namun, kekuatannya yang terbesar adalah dalam modifikasi proses dan produk.

Dalam model ini baik proses kognitif maupun afektif dikembangkan dengan rentangan dalam tingkat kompleksitas. Siswa yang lebih cepat mengusai keterampilan tingkat I atau tingkat II dapat melanjutkan kegiatan tingkat III, menerapkan apa yang telah mereka ketahui terhadap masalah atau keadaan baru yang berbeda dalam hidup mereka. Dengan demikian siswa belajar keterampilan yang beragam dan mampu menggunakannya jika diperlukan.

Produk belajar juga membuka dimensi baru. Produk belajar tidak hanya menyangkut perkembangan keterampilan baru, tetapi menggunakan ketermpilan itu untuk tantangan kehidupan nyata. Jadi, produk belajar adalah baik masalah yang dipecahkan maupun belajar proses memecahkan masalah. Dengan menggunakan ketiga tingkat dari model Treffinger, siswa membangun keterampilan menggunakan kemampuan kreatif mereka dan menemukan penyaluran untuk mengungkapkan kreativitas selama hidup.

2.      Penggunaan Model Treffinger

Mungkin sumbangan terbesar dari model mendorong belajar kreatif adalah terhadap pengembangan kurikulum siswa berbakat yang menunjukan peningkatan dari keterampilan tidak terbatas pada keterampilan dasar. Model ini menunjukan secara grafis bahwa belajar kreatif mempunyai tingkat dari yang relatif sederhana sampai dengan yang majemuk. Anak berbakat kreatif dapat menguasai keterampilan tingkat I dan tingkat II lebih cepat dari siswa lainnya. Bagi mereka proporsi waktu dan energi untuk tingkatan yang rendah dapat dikurangi. Semua siswa didalam kelas dapat dilibatkan dalam kegiatan tingkat I dan II, tatapi hanya beberapa yang dapat melanjutkan ke tahap penerapan (tigkat III).

Disamping itu, model ini hendaknya digunakan secara menyeluruh dalam kurikulum. Berfikir kreatif merupakan bagian dari semua subjek yang diajarkan di sekolah. Kemajuan dalam profesi diperoleh melalui proses kreatif. Oleh karena itu model ini dapat diterapkan pada semua segi dari kehidupan sekolah, mulai dari pemecahan konflik sampai dengan pengembangan teori ilmiah. Siswa akan melihat kemampuan mereka untuk menggunakan kreativitas dalam hidup dan diberi kesempatan untuk mengembangkan kemampuan mereka dalam lingkungan yang mendorong dan memungkinkan penggunaannya.

 (Munandar, Utami. 2004. Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat hal 172-175. Jakarta: Rineka Cipta)

Selain memiliki sintak-sintak pembelajaran, model pembelajaran inipun memiliki karakteristik-karakteristik. Karakteristik pertama dari model pembelajaran Treffinger ini adalah melibatkan siswa dalam suatu permasalahan dan menjadikan siswa sebagai partisifan aktif dalam pemecahan masalah. Masalah yang dihadapkan pada siswa ini diperoleh melalui data atau fakta-fakta yang disajikan pada siswa yang dapat menunjukkan fenomena atau gejala fisis yang dapat disajikan secara konseptual. Selanjutnya masalah tersebut dapat diselesaikan melalui kegiatan penyelidikan (investigation) dan penemuan (inquiry).   Karakteristik yang paling dominan dari model pembelajaran Treffinger ini adalah mengintegrasikan dimensi kognitif dan afektif siswa untuk mencari arah-arah penyelesaian yang akan ditempuhnya untuk memecahkan permasalahan (Sarson, 2005:23). Artinya siswa diberikan keleluasaan untuk berkreativitas menyelesaikan permasalahannya sendiri dengan cara-cara yang ia kehendaki. Tugas guru adalah membimbing siswa agar arah-arah yang ditempuh oleh siswa ini tidak keluar dari permasalahan.

Ciri yang lain adalah siswa melakukan penyelidikan untuk memperkuat gagasannya/hipotesisnya. Artinya siswa harus berperan aktif dalam menyelesaikan masalah melalui penyelidikan yang didasarkan metode ilmiah. Kegiatan penyelidikan merupakan suatu kebutuhan dalam memahami suatu konsep. Siswa diarahkan untuk menemukan dan membangun sendiri konsepnya. Menemukan dalam hal ini bukanlah menemukan dalam arti menemukan hal yang baru melainkan hanya reinvitation. Diharapkan dari kegiatan ini siswa dapat mengumpulkan dan menganalisis informasi serta menarik kesimpulan. Ciri berikutnya adalah siswa menggunakan pemahaman yang telah diperoleh untuk memecahkan permasalahan lain yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Artinya setelah siswa memperoleh pemahaman dari hasil penyelidikan, siswa selanjutnya mengaplikasikan konsep yang telah ia milki pada persoalan yang lain. Satu lagi ciri lain yang membedakan model ini dengan model pembelajaran yang lain adalah model pembelajaran yang sangat fleksibel, dikarenakan tidak harus selalu menggunakan setiap tahapan yang ada pada model ini. Kita bisa menggunakan tahapan-tahapan yang kita perlukan saja. Selain itu juga, tahapannya tidak harus berurut, bisa maju ke tahap berikutnya dan kembali lagi ke tahap sebelumnya, hal tersebut disesuaikan dengan tujuan yang kita inginkan.

Model pembelajaran Treffinger ini selain mempunyai karakteristik seperti yang telah disebutkan sebelumnya, juga mempunyai beberapa kelebihan diantaranya:

1.      Memberikan kesempatan kepada siswa untuk memahami konsep- konsep dengan cara menyelesaikan suatu permasalahan
2.      Membuat siswa aktif dalam pembelajaran
3.      Mengembangkan kemampuan berpikir siswa, karena disajikan masalah pada awal pembelajaran dan memberikan keleluasaan kepada siswa untuk mencari arah-arah penyelesaiannya sendiri.
4.      Mengembangkan kemampuan siswa untuk mendefinisikan masalah, mengumpulkan data, menganalisis data, membangun hipotesis dan percobaan untuk memecahkan suatu permasalahan.
5.      Membuat siswa dapat menerapkan pengetahuan yang sudah dimilikinya ke dalam situasi baru. 

repository.upi.edu/operator/upload/s_d025_040201_chapter2.pdf hal 14-17




Daftar Pustaka

Jasmine, Julia. 2007. Mengajar Berbasis Multiple Intelegences. Bandung: Nuansa
Munandar, Utami. 2004. Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat.Jakarta: Rineka Cipta
Semiawan, Conny. 1997. Perspektif Pendidikan Anak Berbakat. Jakarta: Gramedia
Siregar, Eveline dan Hartini Nara. 2010. Teori Belajad dan Pembelajaran.Bogor: Ghalia Indonesia
Thobroni, Muhammad dan Arif Mustofa. 2011. Belajar dan Pembelajaran: Pengembangan Wacana dan Praktik Pembelajaran dalam Pembangunan Nasional. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media
 Winataputra, Udin S dkk. 2008. Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Universitas Terbuka

repository.upi.edu/operator/upload/s_d025_040201_chapter2.pdf





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...