Ads by BuzzCity

Senin, 28 Mei 2012

Home » , , » Teori Belajar Humanistik

Teori Belajar Humanistik


2.1 Psiko-terapi sebagai dasar belajar
            Carl R. Rogers seorang ahli psiko-terapin mengemukakan suatu cara mendidik yang perlu mendapat perhatian kita sebagai guru dan pendidik. Murid-murid tidak hanya secara bebas, artinya tanpa dipaksa menyelesaikan tugas-tugas dalam waktu tertentu, akan tetapi juga belajar membebaskan dirinya untuk menjadi manusia yang berani memilih sendiri apa yang dilakukannya dengan penuh tanggung jawab.
Cara ini mengutamakan pribadi anak didik menjadi manusia yang bebas, bebas dan berani, menjadi manusia menurut keinginan dan pilihannya. Manusia serupa ini tidak terikat oleh orang lain, oleh pendapat, paksaan, keinginan atau harapan orang lain. Ia tidak berkelakuan atas kehendak orang lain, ia tidak dibentuk atau dikendalikan oleh orang lain juga tidak oleh dorongan-dorongan yang tak disadari atu dikenalnya, akan tetapi ia sendiri yang mengatur dirinya, ialah menjadi arsitek pribadinya, bebas berkemauan sendiri, bebas untuk mengadakan pilihan sambil menerima individualitas kepribadiannya sebagai makhluk yang unik.
Dalam psiko-terapinya Carl R. Rogers member  kebebasan  kepada  kliennya untuk mengeluarkan isi hatinya sepuas-puasnya, yang baik maupun yang buruk dengan metode non-directive counseling. Rogers mencoba memahami  dan merasakan jiwa klientnya dan menjauhi diri dari segala macam penilaian normatif tentang ucapan, pikiran, perasaan atau perbuatan klient itu. Dengan demikian klient itu akan lebih mengenal dirinya, menerima dirinya sebagai mana adanya dan akhirnya merasa bebas untuk memilih dan berbuat menurut individualitasnya dengan penuh tanggung jawab.
Non-directive counseling tidak mudah bagi seorang pendidik karena pendidikan itu selalu normative dan setiap penidik cenderung untuk menilai tiap kelakuan anak didiknya menurut nilai-nilai yang dianut oleh pendidik.

Nasution,Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar ( Jakarta: Bumi Aksara, 2000) hlm 80


Tiap pendidik ingin menanamkan nilai-nilai tertentu pada anak didiknya dan mengharapkan, mendorong dan bila perlu mengharuskan anak didik untuk berbuat sesuaidengan norma-norma yang ditentukan.
Namun kebebasan sendiri merupakan norma yang perlu mendapat penghargaan yang setinggi-tingginya. Pendidikan akhirnya
bertujuan untuk membimbing anak kea rah kebebasan dan kemerdekaan, mengetahui apa yang baik dan apa yang buruk, dapat mengadakan pilihan tentang apa yang dilakukannya dengan penuh tanggung jawab. Kebebasan itu hanya dapat dipelajari dengan member anak-didik kebebasan sejak mulanya sejauh ia dapat memikulnya sendiri. Dengan selalu mendapat tekanan, paksaan aturan, pengawasan dan control ketat seorang tidak akan dapat menjadi bebas.
2.2 Adakah manusia bebas?
Dalam kenyataannya manusia tidak bebas sepenuhnya. Ia terikat oleh aturan-aturan dalam masyarakat dan kebudayan tempat ia hidup. Ia harus hidup menurut apa yang diundang-undangkan oleh pemerintah dan ada pemerintah yang dictatorial yang tak banyak memeri kebebasan individu. Tiap hari ia dipengaruhi oleh propaganda dan reklame tentang apa yang harus dilakukannya. Ia merupkan hasil dari golongan social tempat ia lahir dan dibesarkan, apakah golongan rendah, menengah atau tinggi. Semua manusia merupakan hasil dari kebudayaan masing-masing dan demikian manusia itu sebagai individu tidak bebas  untuk menentukan pribadinya sendiri.
Manusia di Negara manapun tidak bebas, dan manusia bebas itu hanaylah khayalan saja karena manusia itu dibentuk dan digerakkan oleh kekuatan-kekuatan kebudayaan dari luar dan kekuatan-kekuatan psikis dari dalam. Bahkan ada aliran dalam psikologi yang percaya bahwa kelakuan manusia dapat dibentuk melalui conditioning.

Nasution,Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar ( Jakarta: Bumi Aksara, 2000) hlm 81

Namun Carl R. Rogers tak dapat menerima manusia itu sebagai hasil conditioniong semata-mata. Sekalipun seseorang dipenjarakan atau hidup dalam Negara yang dictatorial, namun manusia masih mempunyai  kebebasan  yaitu kebebasan batin. Ia masih dapat memilih dan menentukan hidupnya dengan penuh keberanian. Begitu pula di tengah-tengah pengaruh segala macam conditioning manusia tak sepenuhnya dikesuai oelh kuasa-kuasa lain. Ia tidak perlu dibawa arus secara pasif, ia dapat memilih dan menntukan arah hidupnya atas pilihan dan keputusan sendiri serta tanggung jawab penuh atas segala akibat pilihan itu. Hingga batas tertentu ia turut menentukan pribadi  dan hidupnya serta mengembangkan bakat-bakat yang ada padanya. Kesadaran akan adanya kebebasan batinini telah banyak membantu klien-klien dari kesulitannya dan membuka kesempatan baginya untuk menjadi manusia yang mempunyai pribadi sendiri dalam hubungannya dengan manusia lainnya.
Bagaimana mengembangkan kebebasan ini pada klien atau anak didik.
Pertama- pendidik sendiri harus berkelakuan wajar dan benar menurut apa yang terkandung dalam dirinya. Ia hendaknya jangan berbuat pura-pura seakan-akan berkedok, berbuat lebih baik daripada hakekat pribadinya yang sesungguhnya. Kita tahu bahwa penyiar iklan radio atau tv tidak sungguh-sungguh dalam mempropagandakan suatu barang dagangan, jadi tidak ada kongruensi antara apa yang sebenar-benarnya dirasakan atau dipikirkannya dengan apa yang diucapkannya. Ia seperti main sandiwara, apa yang dilakukannya tidak kongruen dengan keadaan jiwanya yang sebenarnya. Untuk mengembangkan kebebasan pada individu pendidik tidak boleh bersandiwara, ia harus jujur dengan ucapannya,  jangan berbuat seakan-akan ia orang yang sempurna tanpa kesulitan. Berbuat jujur sesuai atau kongruen dengan pribadi kita yang sebenarnya tidak mudah karena kita sering menyembunyikan kelemahan dan kekurangan kita untuk menimbulkan kesan yang baik tentang diri kita.

Nasution,Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar ( Jakarta: Bumi Aksara, 2000) hlm 82

Syarat kedua ialah bahwa pendidik harus menerima anak-didik dengan segala aspek-aspek pribadinya. Anak-didik boleh marah, jengkel, benci, lembut, ramah, malu, berani atau takut, dan pendidik selalu menerima anak itu dengan penuh pengertian dan penghargaan tanpa 
menyatakan penilaiannya tentang kelakuan anak itu. Jadi ia harus selalu menghargai anak-didik tanpa syarat, jadi tidak hanya bila kelakuan anak itu meyenangkan hatinya.
Syarat ketiga adalah pengertian empati (empathy), Empathy berarti bahwa pendidik mampu melihat dan merasakan sesuatu seperti dilihat atau dirasakan oleh anak didik. Memandang atau merasakan dunia sekitar seperti dipandang atau dialami orang lain bukan sesuatu yang mudah oleh sebab kita terikat oleh pandangan kita sendiri yang terbentuk selama hidup kita. Namun pendidik yang ingin membebaskan anak didiknya harus berusaha dan belajar  untuk  memupuk emmulai menpathy ini.
Jika ada orang lain yang bersedia mendengarkan dan memahaminya, maka klien atau anak-didik lambat laun mulai mendengarkan dan mengamati apa yang terjadi dalam dirinya. Sambil belajar mengenal dirinya, mengetahui apa yang bergejolak dalam jiwanya, ia mulai pula menerima keadaan dirinya seperti pendidik juga menerimanya tanpa syarat. Ia dapat memilih arah yang dapat merusak dirinya, akan tetapi juga dapat menunjukkan dirinya kepada kegiatan-kegiatan yang konstruktif bagi masyarakat, bukan karena harapan atau desakan orang lain melainkan atas pilihan sendiri secara bebas.
2.3 Teori Rogers dalam pendidikan
Teori Rogers dapat diterapkan dalam pendidikan untuk mengembangkan individu yang merdeka yang dapat memilih dengan bebas atas tanggung jawab penuh, manusia yang kreatif yang dapat senantiasa menyesuaikan diri dengan perubahan dunia.
Ada dilakukan eksperimen yang menggunakan kebebasan sebagai dasar pendidikan yang ternyata member hasil yang menggembirakan.

Nasution,Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar ( Jakarta: Bumi Aksara, 2000) hlm 84

Pengajaran unit banyak sedikit mngembangkanunsur kebebasan pada murid antara lain untuk memilih topic yang menarik bagi mereka, menganalisanya menjadi sub-topik, kemudian memberikan kebebasan bagi murid untuk memilih aspek topik yang paling menarik baginya. Murid-murid bebas menggunakan sumber-sumber yang dianggapnya perlu dan tidak diharapkan dari semua murid untuk menguasai bahan yang sama. Pengajaran unit mengutamakan proses belajar sehingga murid-murid dapat mempelajari sendiri bahan pelajaran baru dan sanggup mengatasi masalah dalam hidupnya masing-masing.
Demikian pula pengajaran yang pupil-centered atau berpusat pada murid member kebebasan agar murid dapat memilih kegiatan yang dirasanya perlu atas tanggung jawab sendiri.

2.4 Syarat-syarat untuk belajar bebas
            Belajar bebas berbeda sama sekali dengan belajar yang “terikat” oleh peraturan dan pengawasan yang ketat. Belajar yang “terikat” jauh lebih mudah dilaksanakan dan dapat dilakukan oleh setiap guru karena banyak sedikit dapat dijalankan secara maksimal. Sebaiknya belajar bebas hanya dapat dilaksanakan bila syarat-syarat tertentu dapat dipenuhi, yakni:
a.      Adanya masalah
Syarat pertama ialah adanya suatu masalah yang menarik dan bermakna bagi murid. Masalah itu harus riil yang ada kaitannya dengan kehidupan murid, sehingga ada hasrat dan kesediaan untuk memecahkannya. Anak-anak di sekolah sering dihadapkaan dengan bahan pelajaran yang tidak disadari murid maknanya bagi dirinya.

Nasution,Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar ( Jakarta: Bumi Aksara, 2000) hlm 85




Ia mempelajarinya karena terpaksa, karena takut akan kegagalan dan hukuman, karena diharapkan oleh guru atau orangtua.
Tak ada kebebasan dan pilihan baginya tentang bahan maupun cara mempelajarinya karena segala sesuatu harus dilakukan menurut cara yang telah ditentukan. Karena itu member kesempatan bagi murid untuk menghadapi masalah nyata tampaknya merupakan sustu syarat yang penting dalam belajar bebas.
b.      Kepercayaan akan kesanggupan manusia
Syarat ini mengenai diri guru, karena cara belajar ini hanya mungkin berdasarkan keyakinan penuh dari pihak guru akan kemampuan murid untuk berbuat yang baik, untuk belajar sendiri, untuk bertanggung jawab atas perbuatannya. Justru karena kita kurang percaya akan kemampuan ini, maka segala pelajaran kita atur dengan cermat. Segala tujuan kita rumuskan secara spesifik. Segala kesulitan kita uraikan menjadi langkah-langkah yang mudah dilalui oleh anak-anak. Setiap langkah kita nilai sebelum melakukan langkah selanjutnya. Unsur kebebasan sangat minimal, bahkan ada kalanya mengajar itu kita serahkan kepada mesin atau computer.
Akan tetapi bila kita percaya akan kesanggupan manusia untuk belajar sendiri dan mengembangkan diri sendiri, maka kepadanya harus diberi kesempatan atau kebebasan untuk memilih sendiri caranya belajar masing-masing. Karena itu belajar dengan kebebasan ini hanya dapat dilakukan oleh guru yang tidak ragu-ragu akan tetapi percaya penuh atas kemampuan murid itu.
c.       Keterbukaan guru
Dengan ini dimaksud bahwa guru itu jangan berkedok dan menutupi kepribadiannya yang sesungguhnya.

Nasution,Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar ( Jakarta: Bumi Aksara, 2000) hlm 86


Ia harus jujur menampakkan perasaannya yang sebenarnya sebagai manusia, yang dapat benci atau suka, senang dan sedih, marah, jengkel atau gembira.
Ia jangan memasang kedok sebagai guru akan tetapi bertindak sebagai manusia terhadap manusia lainnya, dalam hal ini murid-muridnya sendiri. Guru yang telah bekerja lama sebagai pegawai negeri yang mempunyai status social tertentu dan diharapkan berkelakuan sebagai guru, sangat sukar menanggalkan kedok resmi itu dan berlaku wajar sebagai manusia terhadap murid.
d.      Menghadapi murid
            Guru harus menerima murid menurut pribadi masing-masing, dan dapat menghargai sifat-sifat mereka walaupun menyimpang dari apa yang umumnya dianggap baik. Ia menerima murid dalam keadaan ia menjengkelkan atau menyenangkan, dalam keadaan ia marah atau bersifat ramah terhadap temannya, dalam keadaan ia cemburu atau membantu orang lain. Sikap menerima dan menghargai ini pada dasarnya sama dengan kepercayaan akan kemampuan individu untuk belajar dan berkembang. Pencetusan perasaan-perasaan yang negatif dipandang sebagai fase ke arah kelakuan yang positif.
2.5 Empathy (empati)
            Seperti telah dikemukakan empathy adalah kemampuan untuk memandang sesuatu dari segi pandangan orang lain. Dengan empati guru dapat memahami jiwa dan reaksi murid. Guru yang ber-empati tidak membantah ucapan murid akan tetapi mampu meng-ekspresikan apa yang dipikirkan atau dirasakan oleh murid. Adanya empati itu telah merupakan bantuan bagi murid untuk memahami dan mengatasi kesukarannya.



Nasution,Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar ( Jakarta: Bumi Aksara, 2000) hlm 87


2.6 Menyediakan sumber-sumber
            Guru dengan cara belajar berdasarkan kebebasan bukanlah guru yang menyampaikan pelajaran akan tetapi yang menyediakan sebanyak mungkin sumber-sumber yang dapat digunakan oleh murid-murid untuk memecahkan masalah yang sedang dipelajrinya.

Yang perlu disediakan bukan hanya sumber-sumber berupa buku-buku, film, rekaman, peta, dan sebagainya, melainkan juga manusia-manusia sumber yang dapat membantu murid dalam  bidang keahlian masing-masing. Tentu saja guru pun merupakan salah satu sumber yang selalu sedia membantu murid. Namun ia tidak memaksakan pendapatnya kepada murid dan murid tetap bebas untuk menentukan hingga mana ia dapat menggunakan informasi dari guru itu. Hingga manakah guru itu akan digunakan, bergantung pada murid-murid.
            Belajar bebas, belahjar sendiri harus didukung oleh sumber-sumber dan fasilitas belajar. Kelangkaan sumber-sumber dapat menutup kemungkinan untuk belajar bebas. Akan tetapi tersedianya sumber-sumber yang kaya juga tidak menjamin diselenggarakannya bebas.
2.7 Larangan bagi guru
            Tugas guru adalah menciptakan suasana dan fasilitas yang sebaik-baiknya agar belajar bebas ini dapat dilaksanakan. Guru dapat berusaha untuk memperkenalkan murid dengan berbagai masah yang bermakna. Akan tetapi ia tidak membuat rencana kerja  atau rencana pelajaran untuk murid. Ia tidak menugaskan murid untuk mebaca buku-buku tertentu, Ia juga tidak menilai atau meng-kritik pekerjaan murid kecuali  bila murid meminta penilaiannya. Ia tidak mengadakan ujian tentang apa yang dipelajari oleh murid, juga tidak memberikan angka atas hasil kerja murid.

            Nasution,Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar ( Jakarta: Bumi Aksara, 2000) hlm 88

Dari syarat-syarat yang dikemukakan di atas dapat kita lihat betapa besar cara belajar berdasarkan kebebasan ini menyimpang dari apa yang kita alami di sekolah sebagai murid dan sebagai guru atau calon guru. Juga belajar dengan kebebasan ini belum kita ketahui kesesuaiannya dengan sistem pendidikan kita yangs erba dikontrol dan diatur dan mengharuskan kurikulum yang uniform bagi seluruh negara. Bukan kebebasan, melainkan keterikatanlah cirr belajar di negara. Bukan kebebasan, melainkan keterikatanlah ciri belajar di negara kita maupun di banyak negara lainnya.
2.8 Proses Belajar Bebas
Belajar bebas berati belajar untuk menjadi bebas,manusia merdeka yang turut menentukan arah hidupnya serta pribadinya, bebas memilih dengan bertanggungjawab penuh atas pilihannya itu.
Tujuan belajar bebas
}  Agar murid dapat belajar sendiri, menentukan sendiri apa yang dipelajarinya, tampa diatur secara ketat oleh guru atau peraturan
}  Agar manusia lebih  menikmati hidupnya secara penuh.






Nasution,Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar ( Jakarta: Bumi Aksara, 2000) hlm 89

Fase-fase dalam proses belajar bebas
}  Frustasi pada taraf permulaan
}  Inisiatif dan kerja individual
}  Keakraban pribadi
}  Perubahan individual
}  Pengaruh atas pengajar
a.      Frustasi pada taraf permulaan
}  Merasa kacau, tegang, jengkel, kecewa ragu-ragu sewaktu kebebasan belajar diberikan
}  Semuanya menjadi kacau dan pelajaran tidak dapat dimuali
}  Harus dilalui sebelum seseorang belajar menjadi bebas
b.      Inisiatif dan kerja individual
}  Mulai menyadari bahwa kebebasan harus digunakan sebaik-baiknya
}  Adanay kesadaran untuk belajar ,membaca, menulis,mengadakan percobaan di lab
}  Merasakan apa iu sebenarnya belajar
}  Mersakan menjadi manusia bebasyang bertanggung jawab
c.       Keakraban pribadi
            Pengalaman belajar dalam suasan kebebasan tampa persaingan memupuk ikatan keakraban yang mereka pelihara selama mereka hidup.

Nasution,Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar ( Jakarta: Bumi Aksara, 2000) hlm 90



d.      Perubahan individual
}  Siswa menjadi  manusia yang flexibel,penuh pengertian tampa mengukur orang lain dengan norma pribadinya
}  Menjadi lebih tenang, lebih sanggup memahami serta menerima dirinya dan orang lain.
}  Anak lebih terbuka terhadap dunia dan lebih berani
}  Lebih pd
e.      Pengaruh atas pengajar
Merpercayai anak sepenuhnya dengan memberi  kebebasan untuk berkembang  dan membuka kesempatan baginya untuk menjadi manusia yang bertanggung jawab atas dirinya dan terhadap masyarakat
B. TEORI BELAJAR ABRAHAM MASLOW

Dalam artikel Some Educational Implications of the Humanistic Psycologist, Abraham Maslow mencoba untuk mengkritisi teori Freud dan behavioristik. Menurut Abraham, yang terpenting dalam melihat manusia adalah potensi yang dimilikinya, daripada berfokus pada “ketidaknormalan” atau “sakit” seperti yang dilihat oleh teori psikoanalisis Freudian. Pendekatan ini melihat kejadian setelah “sakit” tesebut sembuh, yaitu bagaimana manusia membangun dirinya untuk melakukan hal-hal positif. Kemampuan bertindak positif ini, yang disebut sebagai potensi manusia dan para pendidik yang beraliran humanistik seperti Maslow, biasanya memfokuskan pengajarannya pada pembangunan kemampuan positif ini.



Thobroni, Muhammad.Belajar & Pembelajaran: Pengembangan wacana dan Praktik Pembelajaran dalam Pembangunan Nasional. (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2011)hal 166

1.    Pandangan Maslow
Maslow memandang bahwa manusia berbeda dengan hewan. Berbeda dengan behaviorisme yang melihat motivasi manusia sebagai suatu usaha untuk memenuhi kebutuhan fisiologis manusia atau dengan Freudian yang melihat motivasi sebagai berbagai macam kebutuhan seksual, Maslow melihat perilaku manusia sebagai campuran antara motivasi yang lebih rendah atau lebih tinggi.
Maslow berasumsi bahwa di dalam diri individu ada dua hal, yaitu:
1. suatu usaha yang positif untuk berkembang
2. kekuatan untuk melawan atau menolak perkembangan itu
Maslow mengemukakan bahwa pada diri masing-masing orang mempunyai berbagai perasaan takut seperti rasa takut untuk berusaha atau berkembang, takut untuk mengambil kesempatan, takut membahayakan apa yang sudah ia miliki dan sebagainya, tetapi di sisi lain seseorang juga memiliki dorongan untuk lebih maju ke arah keutuhan, keunikan diri, ke arah berfungsinya semua kemampuan, ke arah kepercayaan diri menghadapi dunia luar dan pada saat itu juga ia dapat menerima diri sendiri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...