Jumat, 08 Juli 2011

Home » » 6 UNSUR AGAMA KEJAWEN/JAWA

6 UNSUR AGAMA KEJAWEN/JAWA

6 UNSUR AGAMA KEJAWEN/JAWA

SIAPAKAH PENGARANG SERAT DARMOGANDUL?

Dari banyak tulisan mengatakan adalah Ranggawarsita, alias Bagus Burhan.
Uh, tidak mau saya membahas panjang lebar siapa si Bagus Burhan ini, karena tulisan-tulisan mengenai dia sudah banyak. Yang ingin saya bahas disini adalah agamanya.

Ranggawarsita jelas seorang muslim. Waktu berumur 12 tahun, dia masuk pesantren Gebang Tinatar di Ponorogo.
Pujangga yang sangat produktif dan mumpuni. Dia mencampuradukkan ajaran Islam dengan Kejawen.
Darimanakah dia mendapat ajaran Kejawen? Tentu dari lingkungan hidupnya. Keluarganya (pujangga – priyayi), pengasuhnya (Ki Tanujaya), gurunya (Kyai Hasan Besari), dan pencariannya (belajar hingga ke Bali). Pengasuhnya, Ki Tanujaya, dikatakan banyak ilmunya. Sementara Kyai Hasan Besari, walaupun seorang ustad, beliau adalah seorang priyayi sehingga mengerti Kejawen. Tercatat, beliau (KHB) pernah menyuruh Ranggawarsita untuk tapa ngeli (tapa ngeli kan ngga ada dalam islam?). Sehingga dapat dikatakan, walupun Ranggawarsita seorang santri, dia bukan ‘Islam putihan’ (istilah untuk islam orthodox) melainkan Islam abangan, alias Islam Jawa.

Apa yang dimaksud Islam Jawa?
Menurut Geertz – sebagaimana dinyatakan Mark R. Woodward dalam bukunya “Islam Jawa; Kesalehan Normatif versus Kebatinan" (1999) – agama Islam tidak pernah sungguh-sungguh dipeluk di Jawa, kecuali di kalangan komunitas kecil para pedagang dan hampir tidak ada sama sekali di dalam lingkungan kraton jaman dulu.

Bagaimana pun, agama Islam yang berkembang di Tanah Jawa memiliki kekhasan tersendiri. Sebab, masyarakat Jawa sebelum datangnya agama Islam, sudah memeluk agama, yaitu Hindu-Budha dan agama asli. Maka, salah satunya diterapkanlah proses transformasi ‘Islam Jawa’ (semi-kebatinan); yakni lebih menonjolkan kelenturan dan kemoderatan dalam ber-Islam sehari-hari, sehingga tidak mengikis habis sisa-sisa tradisi atau adat-istiadat peninggalan kepercayaan nenek moyangnya.

Agama Jawa, atau yang sekarang lebih dikenal dengan Kejawen berakar jauuuuuh sebelum kedatangan Islam.

unsur-unsur agama Kejawen:
    01. Gunung. Simbolisasi gunung berasal tradisi asli, bukan dari Hindu atau Budha. Gunung menyimbolkan laku, juga menyimbolkan perjalanan roh dalam kepercayaan Jawa Kuno, yang seperti diketahui, digunakan bentuknya dalam berbagai macam tradisi kepercayaan di Jawa. Seperti: punden berundak (tradisi kuno), tumpengan (tradisi yang masih berlaku hingga kini), gunungan dalam wayang (kayon), dan lain-lain. Jadi bentuk bangunan suci berupa punden berundak, merupakan bentuk bangunan asli. Penggunaan unsur-unsur agama asli dalam candi Hindu dan Budha dapat dilihat misalnya pada Pura Besakih di Bali dan Borobudur di Jawa. Pura Besakih: terletak di atas gunung dan berteras. Pembagian ruang pada pura-pura di Bali jaba - jaba tengah - jero yang bernilai nista-madya-utama , juga merupakan pengaruh agama asli. Utama selalu lebih tinggi letaknya, merupakan simbolisasi laku, yaitu selalu menuju ke keutamaan. Borobudur: dibangun di atas bukit dan berteras (diambil dari bentuk punden berundak). Lubang-lubang pada stupa berbentuk belah ketupat (wajik) juga diambil dari tradisi nenek moyang, simbolisasi dari peleburan dosa. Dahulu, setelah melaksanakan laku penyucian diri biasanya diadakan selamatan dengan ketupat (bukan dengan tumpeng). Ketupat yang dibagikan kepada para tetangga mengandung makna permintaan maaf / mohon pengampunan atas segala kesalahan (Ngaku Lepat --> Kupat), lebar lebur (setelah laku penyucian diri/peleburan dosa). Tradisi inilah yang diambil oleh Islam jawa, yaitu bermaaf-maafan setelah/lebar ramadhan. 
    02. Sesajen, yang merupakan ujud penghormatan kepada leluhur merupakan tradisi asli. Sesajen, hingga kini masih hidup dalam tradisi Kejawen. Simbol gunung, sebagai tempat tinggal roh untuk sementara, dan sesajen, sebagai makanan persembahan bagi roh leluhur diwujudkan dalam tumpengan (tumpeng – gunung dan lauk-pauknya – sesajen). Dan hingga kini dalam tradisi ritual Kejawen, orang masih menggunakan tumpeng. 
    03. Dupa, yang merupakan simbol dari penyampaian doa, berasal dari leluhur. Dupa diperkirakan sudah digunakan sebelum Hindu – Budha masuk ke Jawa, sebab bahan baku dupa (serbuk kayu cendana dan getah pohon damar) berasal dari nusantara. Bahan-bahan tersebut kemudian dikenal oleh bangsa-bangsa lain setelah dibawa ke asia dan timur tengah oleh para pedagang.
     
    04.Wayang, yang menjadi bagian dari ritual Kejawen telah dikenal jauh sebelum Islam masuk ke Indonesia. Buktinya, pertunjukan wayang sudah tertulis dalam prasasti Dyah Balitung th 899M
    05. Lakon wayang, selalu diambil ceritanya dari kitab Mahabarata yang merupakan kitab suci agama Hindu, maupun Ramayana, yang merupakan epos India.
    06. Semar, yang merupakan simbol Tuhan dalam tadisi Kejawen, berasal dari Jawa / Indonesia asli. Karena dalam kitab Hindu maupun Budha tidak ditemukan tokoh semar. Kaum Islam sekarang ini banyak mengaku-ngaku bahwa Sunan Kalijaga-lah yang menciptakan tokoh semar. Kata mereka semar dari kata Arab “ismar”. Wah… sama kasusnya dengan jamus kalimasada, yang diplesetkan menjadi kalimat sahadat. Memangnya berapa ratus tahun sih umur Sunan Kalijaga? Bukankah tokoh semar sudah tertulis dalam kitab-kitab kuno sebelum masuknya Islam ke Jawa, misalnya dalam GatotkacaƧraya yang ditulis oleh Mpu Panuluh th 1188, juga pada candi-candi kafir, seperti candi Jago, candi Panataran, dan candi Sukuh?

Hal-hal tersebut di atas adalah unsur-unsur agama Kejawen yang telah ada sebelum Islam masuk ke Jawa, bahkan sebelum Hindu-Budha masuk ke Jawa. Dari point-point di atas, selain menolak pendapat swatantre bahwa Kejawen berasal dari Islam / Syekh Siti Jenar, saya juga menolak pendapat Gus Dur dan lain-lain orang yang menyatakan pendapat senada. Pendapat saya, Kejawen adalah agama leluhur, yang nasibnya kian mengenaskan. Masuknya agama Islam menyebabkan pendangkalan ajaran Kejawen yang amat sangat.





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...