Ads by BuzzCity

Rabu, 22 Juni 2011

Home » , » MANUSIA,KEBEBASAN,DAN AGAMA

MANUSIA,KEBEBASAN,DAN AGAMA

MANUSIA,KEBEBASAN,DAN AGAMA


MUQADDIMAH
 Manusia terdiri dari
bagian fisik yang disebut raga,serta bagian yang immateriil yang disebut
Ruh.Keduanya merupakan komposisi yang ideal dan sempurna yang telah Tuhan
ciptakan. Manusia dianugrahi potensi yang tidak dimiliki makhluk lainnya yakni
akal-fikiran,yang mampu membedakan antara manusia dengan bukan manusia. Manusia
bukan ciptaan yang merupakan hasil evolusi genetik yang di fikirkan oleh
Charles Darwin,namun manusia merupakan makhluk yang diciptakan tanpa harus
mengalami proses seperti itu.
 Manusia memiliki kebebasan
sebagai hak yang melekat pada dirinya,kebebasan merupakan wujud eksistensi
manusia didunia. Kebebasan menurut para kaum Libertarian dibagi menjadi dua
yakni kebebasan privat dan publik. Sedangkan ahli dzikir (baca:agamawan)
menyebut bahwa kebebasan manusia didunia ialah terbatas,dan dibatasi oleh
aturan Tuhan.Meskipun begitu, yang jelas seluruh pakar sepakat bahwa manusia memiliki
kebebasan dalam hidupnya.
 Agama sebagai sebuah
aturan Tuhan, yang teramktub dalam sebuah kitab suci,dan pemeluknya dinamakan
umat beragama. Manusia seyogyanya merupakan umat beragama,lain halnya ketika
dirinya memutuskan untuk tidak beragama. Sesungguhnya dalam hal ini,memang akan
muncul sensitifitas pada diri manusia terkait agama yang dianutnya,meskipun
penulis menganggap bahwa manusia yang beragama atau ber-Tuhan merupakan manusia
yang utuh. Manusia yang sesuai fitrah. Perkara akan terjadi pluralisme
beragama,sebenarnya merupakan salah satu konsekuensi logis saja

PEMBAHASAN
 Manusia merupakan mahluk
unik yang diciptakan didunia.Sudah cukup banyak para ahli yang melakukan
penelitian terkait manusia dari proses perkembangannya,pola interaksi,hingga
pada tataran manusia dan hubungannya dengan Tuhan.
 Para sejarawan,yang
berkutat pada suatu problematika religiusitas yang bila dihubungkan dengan
manusia sebagai objek,memang cukup menarik untuk diamati.Para filsuf yang tak
ketingggalan dalam melakukan perumusan dasar berdasarkan paradigma berfikir
mereka,tentang manusia dan Tuhan,serta hubungan antara keduanya.Sementara para
agamawan yang juga sempat membuat suatu perumusan dasar yang diambil
berdasarkan kitab sucinya masing-masing mencoba memaparkan hakekat manusia
menurut Tuhan,bukan hanya menurut pandangan rasio semata. Disini Tuhan turut
berperan dalam mendefinisikan manusia.Dan definisi itu merupakan sebuah
definisi yang pasti,meskipun dengan beberapa tafsiran yang merupakan bentuk
intrepretasi seseorang semata.
 Agama menurut sebagian
pemikir merupakan sebuah kondisi yang timbul akibat interaksi masyarakat yang
terjadi,sementara menurut Geertz agama itu tidak terlepas dengan sistem budaya
setempat,sehingga pengaruh agama sangat kental pada struktur masyarakat yang
terjadi. Sementara Marx dengan mudahnya mengatakan bahwa agama merupakan sebuah
sistem yang mengekang daya kreatifitas manusia,serta melakukan legalitas atas
kedzaliman pada manusia didunia,seperti yang dilakukan oleh kaum borjuis kepada
proletariat pada masyarakat Eropa,pada saat keemasan revolusi industri. Maka
tak elak lagi,disaat agama merupakan candu yang mesti dibasmi dalam kehidupan
manusia.
 Meskipun pandangan ini
masih cenderung moderat dibandingkan hasil konstruksi Nestzche terkait agama
dan Tuhan,yang telah dinafikan secara besar-besaran dari jiwanya,nyaris tak ada
tempat.
 Pada zaman sekarang,apa
yang menjadi peran penting agama dalam kehidupan umat manusia? Bagaimana
seharusnya yang dilakukan manusia terhadap agama yang merupakan sebuah sistem
yang dipercaya mampu menjadi ‘partner’ atau sistem yang berfungsi  sebagai pengatur kehidupan manusia?
 Manusia secara fitrah,mampu
memperoleh apa yang diinginkannya melalui sebuah usaha atau perilaku yang
timbul atas nalurinya, melalui pola interaksi dengan sesamanya,atau dunia lain
yang berada diluar jangkauan akal.Manusia akan senantiasa membutuhkan
itu.Seperti ketika seseorang merasa sangat kehausan,maka dia akan mencari
sumber air yang mampu menghilangkan dahaga.Begitu pula agama,yang berperan
sangat penting dalam eksistensi manusia didunia.Meskipun ada beberapa ahli
fikir,yang sedikit menafikan hal itu.
 Seperti yang dikemukakan
oleh E.B Tylor terkait definisi agama sebagai sebuah keyakinan terhadap sesuatu
yang spiritual.Sehingga menurutnya esensi dari agama,baik agama kuno maupun modern
ialah kepercayaan terhadap sesuatu yang hidup dan punya kekuatan yang ada
dibalik sesuatu.Menurutnya animisme merupakan bentuk kepercayaan tertua
didunia. Agama itu tidak terlepas dengan unsur mistisisme,dan magis bagi agama
purba yang berkembang ratusan tahun silam.
 Dan juga menurut Sigmund
Freud,seorang psikolog-filsuf atheis,menganggap agama merupakan sebuah bentuk
takhayul,namun menarik. Dia memang seorang atheis tulen semasa hidup hingga
matinya. Sesuatu yang transedental dianggapnya merupakan omong kosong yang tak
berguna. Lebih ekstrim lagi dia menganggap bahwa agama akan menjadi penyakit
syaraf yang mengganggu manusia sedunia,senada dengan Marx,bahwa agama adalah
candu sosial.
 Emil Durkheim,seorang
sosiolog barat yang mencoba meneliti esensi agama sebagai sebuah sistem yang
tak terpisahkan dalam kehidupan manusia,bahkan merupakan bagian integral dari kebudayaan
(culture) masyarakat setempat. Menurutnya agama merupakan sistem kepercayaan
dengan perilaku-perilaku yang utuh dan selalu dikaitkan dengan ’Yang Sakral’,yaitu
sesuatu yang terpisah dan terlarang.Dalam hal dia memang cenderung lebih sopan
dalam mendefinisikan agama, bersifat positif, serta tidak terburu-buru dalam
menjustifikasi kegagalan peran agama dalam kehidupan manusia.
 Agama merupakan
kompleksitas sistem yang tegak diatas dokrin dan kepercayaan.Ajaran yang
berwatak spiritual, supernatural, transeden, mistis, serta jauh dalam
pembuktian klaim teoritis. Meskipun disisi lain,ada agama atau sistem
kepercayaan tertentu yang mengalami kemajuan pesat dari segi kuantitatif,karena
dinilai cukup logis dan ilmiah. Tapi disisi lain ada beberapa agama yang
’terpaksa’ berevolusi atau gugur dengan sendirinya karena tidak mampu menjawab
realitas sosial kontemporer manusia modern.
 Dari sini muncul sebuah
study kritis perihal urgensi agama sebagai tata nilai kehidupan dengan manusia
sebagai objek/pelaku kehidupan.
Manusia sebagai mahluk monodualistik menurut
Prof.Dr.Notonegoro (Guru Besar Emiritus Filsafat UGM). Manusia sebagai mahluk
hidup yang terdiri atas dua bagian yang mendasar yakni jasmaniah serta ruhiyah
yang menyatu dalam satu kesatuan yang utuh. Semuanya saling membutuhkan,saling
bersinergi, guna menghasilkan harmonisasi yang seimbang diantara keduanya.
Dikarenakan mereka secara kodrati memang senantiasa menyatu,sebagai wujud eksistensi
manusia didunia.Apabila salah satunya pergi atau mengalami kematian,maka yang
terjadi ialah menusia yang tidak utuh kembali atau disebut mayat.
Manusia sebagai makhluk dwitunggal, merupakan
sebuah pernyataan Prof.Dr.Driyarkara (Bapak Filsuf Nusantara), manusia terdiri
atas roh dan materi, memang senada dengan Notonegoro, disisi lain masih menurut
beliau bahwa, manusia menurut kodratnya merupakan makhluk pribadi (person), yang
memandang yang lain, ”bukan pribadi”, sehingga disana akan muncul sebuah
interaksi antara ”Aku-Engkau”, dan bersifat percaya saling mempercayai. Keluhuran
manusia sebagai pribadi adalah terletak pada kedaulatan atas diri sendiri
(Driyarkara tentang Manusia:33).
Sementara dengan kebebasan manusia yang sampai
saat ini masih cukup banyak diperdebatkan oleh para ahli fikir bahkan ahli
dzikir (baca:agamawan) pun mulai mempertanyakan kembali,hakekat kebebasan pada
diri manusia, bahwa sejauh mana sebenarnya manusia memiliki kebebasan/kemerdekaan?
Apa makna kebebasan/kemerdekaan,itu sesungguhnya?
Kebebasan merupakan sebuah tindakan atau perbuatan
yang muncul atau bermula dari kehendak untuk melakukan. Sementara menurut
Prof.Dr Driyarkara,seorang filsuf Indonesia kontemporer,menulis dalam bukunya
bahwa kemerdekaaan atau kebebasan merupakan kekuasaan untuk menentukan diri
sendiri untuk berbuat atau tidak berbuat (Driyarkara tentang Manusia:60).
Kebebasan merupakan hak individu untuk
menggunakannya atau tidak, tidak ada seorang pun yang mampu untuk memaksa
seseorang terkait kebebasan yang dimilikinya. Manusia memiliki sebuah kemauan
serta dorongan untuk melakukan,sehingga kebebasan muncul dari kedua hal itu.
Sebagai contoh riil, ketika seorang yang bertumbuh gemuk,dia memiliki kemauan
untuk kurus,maka akan tercipta dorongan untuk mengurangi jatah makannya sehari
itu.Disanalah muncul kebebasan dia untuk melakukan hal itu.Atau ketika ada
pasangan hidup memiliki keinginan untuk memiliki anak lebih dari dua,maka
disana akan muncul dorongan untuk berusaha,dan disana pastilah muncul kebebasan
diantara keduanya untuk meiliki anak dengan jumklah tiga atau enam sekalipun,asalkan
akan muncul sebelumnya kesepakatan diantara keduanya.
Kebebasan merupakan hal mendasar yang dimiliki
manusia selaku insan berakal. Suatu kebebasan akan berbanding lurus dengan
tanggung jawab yang akan diterima oleh dirinya secara pribadi maupun kelompok.
Maka,sebenarnya manusia dituntut untuk berfikir sebelum bertindak,sebagai usaha
untuk meminimalisir resiko yang terjadi akibat salah dalam menggunakan hak
kebebasan yang dia miliki. Sesungguhnya,cukup banyak para filsuf modern maupun
kontemporer dalam mendiskusikan masalah kebebasan pada diri manusia.Keseluruhannya
memiliki paradigma berfikir yang berbeda. Perbedaan yang mendasar akan tercipta
manakala definisi kebebasan versi Liberaterianisme dengan kebebasan versi
Marxisme-Leninisme,namun dikala kedua aliran tersebut coba dibenturkan dengan
para ahli dzikir (baca:agamawan) maka akan lebih nampak jelas perbedaan yang
sangat signifikan.
Kaum Liberaterian, lebih membagi kebebasan privasi
dengan publik,yang diantara keduanya mestilah jelas terdefinisi,tidak bias.
Sementara kaum Marxisme-Leninisme,lebih memandang kebebasan dari sudut
pembagian kelas antara kaum borjuis dengan kaum proletariat,menurut mereka
sudah saatnya proletariat memiliki kebebasan yang sama dengan kaum borjuis
sehingga kelak, akan memunculkan kondisi tanpa kelas. Lain halnya dengan para
ahli dzikir yang memandang kebebasan berdasarkan definisi kitab suci yang mereka
miliki.Umumnya mereka memandang bahwasanya tidak ada kebebasan mutlak pada diri
manusia didunia ini,karena manusia hidup didunia senantiasa terikat oleh aturan
Tuhan yang absolut,yang termanifestasi pada intitusi agama,sebagai badan
eksekutif serta yudikatif atas aturan Tuhan.
Pada abad pertengahan,nampak jelas aturan Tuhan
menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan tata kehidupan manusia
didunia.Terlihat jelas dominasi Gereja sebagai institusi resmi dan terpusat
agamawan Nasrani,memiliki ototritas penuh atas politik pemerintahan kala itu.
Sedangkan Islam memiliki sistem Khilafah Islamiyah, sebagai sebuah bentuk
pemerintahan yang melaksanakan syariat ilahi, dan disana tidak ada lembaga legislatif,
dikarenakan kedaulatan ada pada kuasa Tuhan.Memang muncul perbedaan yang
mendasar diantara keduanya,namun disana sebenarnya dapat ditarik sebuah
kesimpulan bahwa aturan kala itu benar-benar dijadikan konstitusi pokok atas sistem
politik oleh para penguasa,sebelum akhirnya mulai terjadi pemberontakan untuk
mengganti sistem aturan Tuhan yang dinilai terlalu teokratis dengan bentuk yang
lebih demokratis,dengan kebebasan sebagai bagian yang tak terpisahkan dalam hal
ini.
Manusia sebagai makhluk yang memiliki kesadaran
serta fitrah untuk ber-Tuhan serta beragama/berkepercayaan,sebenarnya secara
sadar pula dia menganggap bahwa kebebasan penuh pada dirinya telah dikorbankan
setengah,disebabkan aturan Tuhan yang membatasi hal itu.Dirinya pastilah merasa
bahwa segala perilaku,serta tindakan selama didunia akan senantiasa diawasi
oleh Tuhan,dan disanalah sesungguhnya memunculkan kesadaran bahwa kebebasan
penuh merupakan sesuatu yang mustahil dimiliki manusia.
Kondisi seperti itu sebenarnya merupakan sesuatu
yang logis. Manusia akan lebih menyadari bahwa akan muncul akibat atas
kebebasan yang kelak dia coba gunakan,seperti: sebenarnya manusia memiliki
kebebasan untuk bunuh diri,tapi disatu sisi resiko atau balasan apa yang kelak
dia akan terima atas perbuatannya itu. Maka disana akan terbersit sebuah
kondisi dimana mulai mengenal alam akherat. Kebebasan manusia sesungguhnya akan
berimplikasi pada kehidupannya dialam akherat,itulah prinsip manusia beragama.
Peran agama sangatlah penting dalam tindakan dan
perilaku manusia didunia.Tidak lain dan tidak bukan,secara langsung agama akan
mempengaruhi manusia dalam setiap langkah dan ucapnya. Kebebasan disini menjadi
sesuatu yang tidak terlalu banyak dituntut dikarenakan manusia memiliki sebuah
keyakinan yang mendasar bahwa hidup ini tidak kekal. Manusia modern sebenarnya
mulai membutuhkan peran agama kembali sebagai sesuatu yang penting dan
mencerahkan.Meskipun tidak sedikit manusia yang melarikan diri dari pengaruh
agama,bahkan harus rela keluar dari agamanya hanya karena mencari segengam
kebebasan semu yang hendak dia miliki.
Pada dirinya akan merasa disaat setelah lepas,maka
kebebasan itu akan diperoleh lebih banyak dan tidak terlalu disibukkan dengan
problematika agama maupun aturan-aturan dogmatis lainnya,yang bersifat absolut.
Disini sebenarnya,memunculkan sebuah pertanyaan mendasar,bahwa benarkah dirinya
seorang manusia yang utuh?Karena penulis disini sepakat bahwa sesungguhnya
manusia memiliki fitrah untuk beragama atau sekalipun dia hanya memiliki
kepercayaan kepada ”Yang Sakral”(meminjam istilah Durkheim) sekalipun.
Banyak faktor memang disaat sebagian manusia mesti keluar dari agama atau kita
sebut atheis,bisa jadi manusia merasa trauma secara psikologis atau merasa
kecewa dengan keputusan Tuhan (Takdir), manusia merasa puas dengan hasil
penemuannya yang merasa bahwa Tuhan tidak turut campur sama sekali dalam hal
ini,sehingga ia berani untuk keluar dari komunitas orang yang ber-Tuhan dan
otomatis tak ber-agama. Dan masih banyak lagi.
Manusia, beserta kebebasannya dan agama sebagai
sebuah aturan dalam tata kehidupan didunia,sesungguhnya merupakan komposisi
yang utuh pada setiap individu manusia. Gerak dan tindakan manusia merupakan
kebebasan yang menjadi haknya, namun disisi lain agama akan berperan penting
dalam mempengaruhi kebebasan manusia tersebut. Manusia yang bijak ialah disaat dirinya
telah mampu untuk berfikir logis terhadap urgensi dan korelasi positif agama
dalam kehidupan sehari-hari,bukan hanya menilai agama dari prilaku-perilaku
individu yang lain,namun ajaran-ajaran yang termaktub dalam kitab suci
merupakan bagian yang pokok dalam memahami esensi dan urgensi agama bagi
manusia.
Kehidupan manusia sesungguhnya akan bernilai
tinggi disaat manusia mampu memahami tentang hidup.Mencoba memahami tentang
hakekat manusia tidak hanya bertanya kepada ahli fikir semata,namun disamping
telah menunggu para ahli dzikir yang lebih mampu untuk memberikan pemahaman
terkait hakekat atau hikmah yang terkandung pada dirinya selaku manusia yang
berakal serta kehidupan yang menjadi bagian yang penting. Menjadikan potensi
yang dimiliki manusia berupa kebebasan menjadi sarana untuk menggapai sebuah
pemahaman positif tentang Tuhan, agama, serta kehidupan. 

Sayyid Abdullah Ahmad al-Kahfi
(Student of Philosophy
Faculty,Gadjah Mada University)
Yogyakarta
Referensi
§ Dekonstruksi Kebenaran.Daniel L.Pals
§ Driyarkara tentang
Manusia.Prof.Driyarkara.Yayasan Kanisius
§ Manusia Pascamodern,Semesta,dan Tuhan. Y.B
Mangunwijaya. Kanisius

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...