Ads by BuzzCity

Rabu, 22 Juni 2011

Home » » FILSAFAT G.W.F. HEGEL

FILSAFAT G.W.F. HEGEL

FILSAFAT G.W.F. HEGEL

A.PENDAHULUAN
Filsafat merupakan suatu analisis secara hati-hati terhadap penalaran tentang suatu masalah serta penyusunan secara sengaja dan sistematis tentang suatu sudut pandang yang menjadi dasar suatu tindakan.
Di antara sekian banyak filosof yang menyusun suatu system metafisika salah satunya adalah G.W.F. Hegel. Ia adalah salah satu filosof yang menerima prinsip pertama bahwa dasar makna kenyataan adalah manusia.
Atas dasar motivasi untuk mengenal pemikiran hegel secara lebih dekat, kami akan mengkaji hal-hal seputar riwayat kehidupan, produtifitas keilmuan , garis besar keilmuannya, terutama rasioanlisme,.

B.BIOGRAFI HEGEL
George Wilhelm Friedrich Hegel, demikian nama aslinya, lahir di Stuttgart pada 27 Agustus 1770. Belajar teologi di Universitas Tubingen hingga meraih doktor pada 1791. Ketika itu, karya tulisnya masih bertaut dengan agama Kristen, misalnya The Life of Jesus dan The Spirit of Chiristiany (Tafsir, 2004: 152). Hegel mulai menekuni filsafat ketika pada 1801 bertemu dengan Schelling di Universitas Jena, dan turut mengajar mata kuliah Filsafat di sana, hingga jerih payahnya membuahkan karya filsafat pertama berjudul The Difference Between Fichte’s and Schelling’s Systems of Philosophy.
Dari sinilah Hegel menjadi seorang filsuf ternama yang dihasilkan Jerman sebagai sebuah tempat yang layak bagi lahirnya beberapa filsuf terkenal dan berpengaruh. Di samping Immmanuel Kant, Hegel memiliki konsistensi dalam berfikir dan kapabilitas rasio yang mampu menterjemahkan hidup dalam bentuk rumus dialektikanya yang terkenal. Filsafat Roh yang merupakan karakternya, yang dia akui merupakan hasil sintesa antara pemikiran Fichte dan Schelling di zaman pertumbuhan filsafat idealisme Jerman abad-19. Dia cenderung memaknainya sebagai Roh Mutlak atau Idealisme Mutlak. Kemudian Hegel meninggal pada 14 November 1831 yang kemungkinan kematiaannya disebabkan karena terkena wabah kolera pada saat itu
C. MENGENAL KONSEP DASAR FILSAFAT HEGEL
Fisafat Hegel dikenal sebagai filsafat yang sangat sulit, karena Hegel banyak mengunakan istilah-istilah yang terlalu teknis dan terkenal ektrem. Di samping itu Hegel senang mengunakan hal-hal yang paradoks.hegel yakin bahwa hukum paradoks adalah hukum realitas, sebagaimana hukum pemikiran. Ambisi Hegel adalah menyusun suatu system filsafat sintesis.hegel berusaha pula menyatukan ilmu dan filsafat abad XIX.
1. RASIONALISME HEGEL
Realitas bagi hegel adalah ruh, dan ala saemesata dalam beberapahal adalah prodok dan pikiran sehingga hal it dapat dimengerti oleh pikiran. Dengan demikian filsafat hegel lebih tepat dikarakteristikkan dengan julukan “rasionalis”.
Dictum hegel yang terkenal adalah“Semua yang real bersifat rasional dan semua yang rasional bersifat real”. Pernyataan Hegel ini, cukup beralasan karena ia memulai pandangan metafisiknya dari rasio. “Ide yang bisa dimengerti” itu setali tiga uang dengan “kenyataan”. Selalu mengalami proses dialektika (Hamersma, 1983: 42). Tentu karena ia seorang idealis, pandangan akan urgensitas rasio ini begitu mendominasi dalam setiap jejak filsafatnya. Namun, perlu diuraikan, bahwa rasio disini bukan bermakna rasio manusia perseorangan, sebagaimana mengemuka dalam pandangan kita selama ini, melainkan rasio subyek absolute yang menerima kesetaraan ideal seluruh realitas dengan subyek. Kesetaraan antara “rasio” atau “ide” dengan “realitas” atau “ada”. Dan realitas utuh, sebagaimana dikehendaki Hegel, adalah proses pemikiran (idea) yang terus menerus memikirkan, dan sadar akan dirinya sendiri.
Karena pentingnya peranan akal , logika menduduki tempat penting dalam filsafat hegel..logika didefinisikannya sebagai ilmu ide murn. Atau sebagai ilmui pikiran yang meluputi hukum-hukum dan karakteristik bentuk-bentuknya. Kebenaran logika berkaitan dengan masalah dasar yang ada. Sebab persoalan yang ada dianggap sebagai pemula dan akhir filsafat. Jadi logika hegel pendeknya dapat disebut sebagai ontology. Logika ini sangat berlainan dengan pengertian logika tradisional yang basis dasarnya adalah “hukum kontradiksi” :A adalah non-A.
Sehingga yang khas dari logika hegel adalah didasarkan atas keyakinan adanya suatu sistensi yang di capai melalui proses dialektika : tesis, antitesis, sintesis.
2.Metode Dialektika
Dalam menjelaskan sistem filsafat Hegel, kurang begitu lengkap jika tidak menyinggung triadik Hegel: tesis, antitesa, dan sintesa. Namun, sebelum menjelaskan lebih jauh tentang ketiga hal ini, ada baiknya kita pahami walau selintas, istilah “ide” dan “dialektika” sebagai dasar pemahaman awal kita menuju pengertian tiga istilah di atas.
Sebagaimana tersirat dalam uraian sebelumnya, dialektika merupakan suatu “irama” yang memerintahkan seluruh filsafat Hegel. Menurut Llyod Spencer dan Andrzej Krauze, dialektika bukan merupakan “metode” atau suatu sistem yang prinsip, sebab yang menyebabkan ia begitu rumit untuk dijelaskan karena proses dialektika hanya mudah dimengerti dalam hal yang bersifat konkret. Barangkali karena alasan demikian , Hegel tetap bersikukuh pada keyakinannya bahwa antara “idealitas” dan “realitas” tidak ada perbedaan. Pengertian ini, oleh Hadiwijono, justru dipahami sebagai pengertian ontologis dialektika itu sendiri. Bahwa pengertian-pengertian dan kategori-kategori sebenarnya bukan hanya yang menyusun pemikiran kita, melainkan suatu kenyataan sebagai kerangka dan hakikat dunia dalam pikiran . Dengan demikian, dialektika dapat kita pahami sebagai usaha mendamaikan dan mengompromikan hal-hal yang berlawanan. Kendatipun lalu akan kita ketahui, bahwa sistem inilah yang akhirnya menjadi kelemahan Hegel karena terlalu memaksakan dialektika terhadap segala sesuatu. Dan dari sini, semakin nampak bahwa suatu perbedaan, pada hakikatnya akan menjadi ancaman serius dalam filsafat Hegel.
Hal yang membedakan dialektika Hegel dengan logika Klasik adalah pada logika klasik tidak dipercayainya prinsip kontradiksi, sedangkan dalam konsep dialektika Hegel dimungkinkan. Hegel percaya bahwa kontradiksi dialektik adalah titik sentral dalam pemahaman alam. Dan kontradiksi itu ia simbolkan melalui tri dealektik: tesis, antitesis, dan sintesis.
Dialektika dalam pengertian ini beleh dibilang sharring dengan suatu kualitas ituisi atas seluruh pengalaman langsung.
Pada tahap tesis, nuasa-nuasa belum memainkan peranan.di sini dalam suatu kesatuan yang tidak di pisahkan, terdapat masih banyak perbedaan bahkan pertentangan. Di dalamnya terdapat unsur-unsur positif dan negatif, akan tetapi unsur positifnya lebih banyak.
Untuk tahap anti tesis, dikemukakan suatu pertentangan yang radikalserta tidak bernuasa. Di dalamnya, ia mengandung lebih banyak unsur negatifnya dari pada positif, jikalau dibanding dengan tesisnya.
Sedangkan pada tahap sintesis, nuasa-nuasa dan pertentangan dan tesis serta antitesis mencapai kesatuan dan kebenaran yang diperhalus serta diperkaya. Di dalamnya segala unsur positif dari tesis dan antitesis disintesiskan menjadi suatu kesatuan yang lebih tinggi. Pada tahap ini , tesis dan antitesis bukan di batasi melainkan dirawat, disimpan dalam suatu kesatuan, serta di tempatkan pada daratan yang lebih tinggi dan tidak saling mengecilkan.


D. IDEALISME OBJEKTIF
Pusat filsafat Hegel ialah konsep Geist, bermakna “roh” atau “spirit”. Roh dalam pandangan Hegel adalah sesuatu yang real, konkret, kekuatan yang obyektif, menjelma dalam berbagai bentuk sebagai world of spirit (dunia roh), dan yang terdapat pada obyek-obyek khusus. Dalam kesadaran diri, roh itu merupakan esensi manusia dan esensi sejarah manusia (Tafsir, 2004: 152). Dengan demikian, kita bisa mengerti bahwa seluruh proses dunia merupakan suatu perkembangan Roh. Konsisten dengan hukum dialektika—akan dijelaskan nanti, perkembangan Roh senantiasa menuju kepada Yang Mutlak, tahap demi tahap (Hadiwijono, 2005: 101).
Lebih tegasnya, perkembangan Roh bisa dipetakan menjadi tiga tahap (Hadiwijono, 2005: 101-5). Pertama, roh subyektif, menjelaskan bahwa setiap orang masih bertaut erat dengan alam. Pada masa ini, roh mulai bergeser dari “berada-di-luar-dirinya” menuju “berada-bagi-dirinya”. Namun, karena ia belum benar-benar berpindah “bagi-dirinya”, karenanya ia tidak dapat ditukar dengan yang lain. Maksudnya, manusia masih sebagai bagian dari alam karena ia hanya menampakkan drinya sebagian, belum sepenuhnya.
Kedua, roh obyektif, menjelaskan bahwa bentuk-bentuk alamiah yang terkandung dalam roh subyektif diperluas, atau lebih tepatnya direalisasikan, ke dalam wilayah yang lebih konkret. Kehendak rasional yang tadinya besifat individual dibahasakan secara obyektif ke dalam bentuk yang lebih universal. Karena sebab inilah, roh obyektif lebih dominan mengandung unsur-unsur etika, misalnya kesusilaan, moralitas, dan hukum. Unsur-unsur etika dari roh obyektif tadi semakin menemukan tempatnya ketika terjadi pertemuan roh subyektif menuju tingkat yang lebih dewasa dalam keluarga, masyarakat, dan Negara, serta tentu saja sejarah; tempat ketiganya berkembang sebagai proses pertemuan antara idealitas dan realitas.
Begitu proses pertemuan antara idealitas dan realitas, yang terbahasakan dalam “Negara”, mengalami titik klimaksnya, maka Roh akan tiba di tahap paling puncak, Roh Mutlak, yaitu masa dimana Roh telah sungguh-sungguh “berada dalam dirinya dan bagi dirinya” secara utuh dan penuh. Kulminasi ketegangan antara roh subyektif (individu) dan roh obyektif (kekuasaan Negara) seketika lenyap melebur dalam Roh Mutlak. Bermuara dari asumsi ini, lalu Hegel menyebut filsafatnya dengan idealisme mutlak, sebagai peretas kulminasi ketegangan antara idealisme subyektif Fichte dan idealisme obyektif Schelling.

E.MEMPERGESER WACANA KEBERAGAMAN KITA
Inti fisfat sejarah hegel adalah bahwa ia memahami sejarah sebagai gerak perkembangan kearah kemerdekaan yang semakin besar. Dobrakan menentukan ditemukan hegel pada agama, yang dikonsentrasikan perhatiannya kepada agama Kristen.nilai manusia tidak terletak pada kualitas atau dalam unsure lahir, melainkan dalam sikap batin pribadi. Dengan demikian , manusia individuan memahami diri sebagai personal; artinya sebagai pusat pengertian dan kebebasan yang menggandung tanggung jawab pribadi. Setiap orang sebagai manusia bernilai pada dirinya sendiri.
Semula, kesadaran itu masih abstrak artinya hanya merupakan kepercayaan hakikat manusia dan panggilannya oleh Allah, tapi belum dalam wujud struktur-struktur social.
Kedua, kita selayaknya lebih tenan menggunakan metode dialog dalam memperbincangkan persoalan-persoalan keagamaan, bukan monolog karena dalam dialog, mau tidak mau perlu mempertimbangkan factor-faktor histories yang meliputi umat yang menjadi pemeluk agama.

F. KESIMPULAN
Hegel seorang rasionalis yang berasil menyempurnakan metode sintesis fithce dan schilling.dialektika yang ia perkenalkan lewat mekanisme tesis, antitesis, dan sintesis telah dipergunakan untuk mendekati persoalan-persoalan metafisika.secara dialektika, ia berhasil menjelaskan problematika ini lewat tri langkah; being, nothing, idea- nature- spirit, dan lain-lain.




DAFTAR PUSTAKA


Kattsof, Louis O, Pengantar Filsafat, yogyakarta: Tiara Wacana, 1995.
Zubaedi, Filsafat Barat, Jogjakarta: Ar Ruzz Media, 2007
Tafsir, Ahmad, Filsafat Umum, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2003
http://marxists.org, 2008
http://plato.stanford.edu, 2008 
source

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...