Ads by BuzzCity

Jumat, 22 April 2011

Home » » PARAGRAF

PARAGRAF


1.      Pengertian Paragraf
Paragraf mempunyai beberapa pengertian: (1) Paragraf adalah karangan mini. Artinya, semua unsur karangan yang panjang ada dalam paragraf. (2) Paragraf adalah satuan bahasa tulis yang terdiri beberapa kalimat yang tersusun secara runtut, logis, dalam saru kesatuan ide yang tersusun secara lengkap, utuh, dan padu. (3) Paragraf adalah bagian dari suatu karangan yang terdiri dari sejumlah kaliamat yang mengungkapkan satuan informasi dengan pikiran utama sebagai pengendalinya dan pikiran penjelas sebagai pendukung. (4) Paragraf yang terdiri dari satu kalimat berarti tidak menunjukkan ketuntasan atau kesempurnaan. Sekalipun tidak sempurna, paragraf yang terdiri satu kalimat dapat digunakan. Paragraf satu kalimat ini dapat dipakai sebagai peralihan antarparagraf, sekaligus memperbesar efek dinamika bahasa. Akan tetapi, sebagai kesatuan gagasan menjadi suatu bentuk ide yang utuh dan lengkap, paragraf hendaklah dibangun dengan sekelompok kalimat yang saling berkaitan dan mengembangkan satu gagasan.
Ciri-ciri paragraf:
(1)   Kalimat utama bertakuk ke dalam lima ketukan spasi untuk jenis karangan biasa, misalnya surat, dan delapan ketukan untuk jenis karangan ilmiah formal, misalnya: makalah, skripsi, thesis, dan disertasi. Karangan berbentuk lurus yang bertakuk (Block Style) disertai dengan jarak spasi merenggang, satu spasi lebih banyak daripada jarak antarbaris lainnya.
(2)   Paragraf merupakan pikiran utama (gagasan utama) yang dinyatakan dalam kalimat topik.
(3)   Setiap paragraf menggunakan sebuah kalimat topik dan selebihnya merupakan kalimat pengembang yang berfungsi menjelaskan, menguraikan, atau menerangkan pikiran utama yang ada dalam kalimat topik.
(4)   Paragraf menggunakan pikiran penjelas (gagasan penjelas) yang dinyatakan dalam kalimat penjelas. Kalimat ini berisi detail-detail kalimat topik. Paragraf bukan kumpulan-kumpulan kalimat topik. Paragraf hanya berisi satu kalimat topik dan beberapa kalimat penjelas. Setiap kalimat penjelas berisi detail yang sangat spesifik, dan tidak mengulang pikiran penjelas lainnya.
Dalam karangan yang panjang, paragraf mempunyai arti dan fungsi yang penting. Dengan paragraf itu pengarang dapat mengekspresikan keseluruhan secara utuh, runtut , lengkap, menyatu dan sempurna sehingga bermakna dan dapat dipahami oleh pembaca sesuai dengan keinginan penulisnya. Lebih jauh daripada itu, paragraf dapat mendinamiskan sebuah karangan sehingga menjadi lebih hidup, dinamis, dan energik sehingga pembaca menjadi penuh semangat. Artinya, paragraf mempunyai fungsi strategis dalam menjembatani gagasan penulis dan pembacanya.
Fungsi paragraf:
(1)   Mengekspresikan gagasan tertulis dengan memberi bentuk suatu pikiran dan perasaan kedalam serangkaian kalimat yang tersusun secara logis, dalam suatu kesattuan.
(2)   Menandai peralihan (pergantian) gagasan baru bagi karangan yang terdiri beberapa paragraf, ganti paragraf berarti ganti pikiran.
(3)   Mempermudah pergorganisasian gagasan bagi penulis, dan mempermudah pemahaman bagi pembacanya.
(4)   Memudahkan pengembangan topik karangan ke dalam satuan-satuan unit pikiran yang lebih kecil.
(5)   Memudahkan pengendalian variabel terutama karangan yang terdiri atas beberapa variabel.

Karangan yang terdiri beberapa paragraf, masing-masing berisi pikiran-pikiran utama dan diikuti oleh sub-subpikiran penjelas, sebuah paragraf belum cukup untuk mewujudkan keseluruhan karangan. Meskipun begitu, sebuah paragraf merupakan satu sajian informasi yang utuh. Adakalanya, sebuah karangan terdiri hanya satu paragraf karena karangan itu hanya berisi satu pikiran.
Untuk mewujudkan suatu kesatuan pikiran, sebuah paragraf yang terdiri satu pikiran utama dan beberapa pikiran pengembang (penjelas) dapat kita polakan sebagai berikut: pikiran utama, beberapa pikiran pengembang, pikiran penjelas, atau pikiran pendukung.
Pikiran-pikiran pengembangan itu dapat dibedakan kedudukannya sebagai pikiran pendukung dan pikiran penjelas. Sebuah pikiran utama akan dikembangkan dengan beberapa pikiran pendukung, dan tiap pikiran pendukung akan dikembangkan dengan beberapa pikiran penjelas.
Sebuah paragraf terdiri dari sebuah kalimat utama dan beberapa kalimat pengembang. Kalimat utama menyampaikan pikiran utama, dan kalimat menyampaikan pikiran penjelas
Salah satu cara untuk merangkai kalimat-kalimat yang membangun paragraf itu ialah menempatkan kalimat utama pada awal paragraf (sebagai kalimat pertama) yang kemudian disusul dengan kalimat-kalimat pengembangnya (pendukung dan penjelas). Setelah kita berikan pengembangan yang memadai, dan ditutup dengan kesimpulan.
2.      Pikiran Utama dan Kalimat Topik
Pikiran utama yaitu topik yang dikembangkan menjadi sebuah paragraf. Pikiran utama ini dinyatakan dalam kalimat topik. Dalam paragraf, pikiran utama berfungsi sebagai pengendali keseluruhan paragraf. Begitu menentukan pikiran utama dan mengekspresikannya dalam kalimat topik, penulis terikat oleh pikiran tersebut sampai akhir paragraf. Paragraf yang berisi analisis, klasifikasi, deduktif, induktif sebaiknya menggunakan kalimat topik. Namun, harus disadari bahwa tidak semua paragraf harus menggunakan kalimat topik. Paragraf narasi atau deskripsi menggunakan kalimat yang sama kedudukannya, tidak ada yang lebih utama. Oleh karena itu, paragraf yang demikian tidak diharuskan menggunakan kalimat utama.
2.1  Paragraf Tanpa Kalimat Topik
Paragraf yang terdiri beberapa kalimat kadang-kadang menyajikan pikiran yang setara, tidak ada pikiran yang lebih utama dari lainnya. Paragraf yang demikian menyajikan kalimat-kalimat yang sama kedudukannya. Paragraf ini tidak memiliki kalimat utama dan kalimat penjelas, juga tidak memiliki kalimat utama dan kalimat penjelas. Semua pikiran dan kalimat sama kedudukannya.
Contoh:           1) Pukul 07.00 Rudi sudah berada di kampus. 2) Ia duduk sejenak di taman kampus sambil tetap menggendong tas kuliahnya. 3) Tidak terdengar suaranya. 4)Lima menit kemudian, tiga temannya telah datang di tempat yang sama. 5) Masing-masing membuka tasnya dan mengeluarkan beberapa buku dan alat tulisnya. 6) Suasana sunyi. 7) Lima menit kemudian mereka bersuara amat gaduh. 8) Mereka berdebat amat serius. 9) Entah apa yang mereka perdebatkan. 10) Sepuluh menit kemudian suasana kembali sunyi. 11) Mereka semua membaca dan menulis. 12) Tiga puluh menit kemudian salah seorang membacakan hasil akhir mereka. 13) Setelah itu, mereka kembali berdiskusi dan seorang dari mereka membacakan kembali hasil diskusinya. 14) Terdengar sayup-sayup, mereka berucap alhamdulillah tugas kelompok selesai.
            Paragraf di atas tidak menunjukkan adanya kalimat topik. Namun, keberadaan gagasan utama dapat dirasakan oleh pembaca, yaitu diskusi tugas kelompok mahasiswa.
2.2  Kalimat Topik dalam Paragraf
Penempatan kalimat topik dalam karangan yang terdiri beberapa paragraf dapat dilakukan secara bervariasi, pada awal, akhir, awal dan akhir, dan tengah paragraf. Hal ini dimaksudkan agar pembaca dapat mengikuti alur penalaran sambil menikmati kesegaran karangan, tidak monoton, dan bersifat alami.
2.2.1        Kalimat Topik pada Awal Paragraf
Kalimat topik pada awal paragraf pada umumnya berisi pikiran utama yang bersifat umum. Kalimat selanjutnya berisi pikiran penjelas yang bersifat khusus disebut kalimat penjelas. Isi kalimat ini berupa: penjelas, uraian, analisis, contoh-contoh, keterangan, atau rincian kalimat topik.
Contoh:
(2)                               1) Jalan Kasablanka selalu padat. 2) Pada pukul 05.30, jalan itu mulai dipadatioleh kendaraan sepeda motor, mobil pribadi, dan kendaraan umum. 3) Kendaraan tersebut sebagian besar dari arah Pondok Kopi melintas kearah Jalan Jendral Sudirman. 4) Para pengendara diantaranya pedagang yang akan berjualan di Pasar Tanah Abang, pemakai jalan yang menghindari three in one, karyawan yang bekerja di Tangerang, Grogol, atau ke tempat lain yang searah, dan siswa sekolah yang berupaya menghindar kemacetan. 5) Pada pukul 07.00 s.d. 10.00, jalan itudipadati oeh mahasiswa, dan karyawan yang akan bekerja, orang yang akan berjualan atau berbelanja, dan sebagian orang yang bepergian dengan kepentingan lain-lain. 6) Pada pukul 11.00 s.d. pukul 15.00 jalan itu tidak begitu padat. Namun, pukul 15.00 s.d. 21.00 kendaraan ke arahPondok Kopi kembali memadati jalan tersebut. 
            Paragraf di atas kalimat di awali  kalimat topik (no.1) berisi pikiran utama. Selebihnya (kalimat 2 s.d. 6) merupakan kalimat penjelas berisi pikiran-pikiran penjelas. Dengan demikian, paragraf ini menggunakan penalaran deduktif.
Pikiran utama  : Jalan Kasablanka padat
Pikiran penjelas           : 1) pagi dipadati kendaraan ke arah Jendral Sudirman
2) menghindari kemacetan
3) menghindari three in one
4) tengah hari kendaraan berkurang
5) sore jalan dipadati kendaraan ke arah Pondok Kopi
Penalaran                     : deduktif
2.2.2        Kalimat Topik pada Akhir Paragraf
Paragraf diakhiri kalimat topik dan diawali dengan kalimat penjelas. Artinya, paragraf ini menyajikan kasus khusus, contoh, penjelasan, keterangan, atau analisis lebih dahulu, barulah ditutup dengan kalimat topik. Dengan demikian paragraf ini menggunakan penalaran induktif.
(3)                    1) PT Genting Pazola pada awal tahun 2004 ini semakin sulit mendapatkan konsumen. 2) Produknya mulai berkurang , karyawan semakin banyak yang pindah kerja, dan beberapa karyawan mengeluh gaji yang tidak pernah naik, padahal harga barang konsumsi terus melambung. 3) Hal ini bisa dimaklumi oleh pimpinan perusahaan dan sebagian besar karyawan. 4) Bahkan, dokumen yang menyatakan bahwa pajak perusahaan yang belum dibayar pun sudah sampai pada karyawan. 5) Pemilik perusahaan menyadari bahwa desain produk sudah mulai usang, peralatan teknis sudah ketinggalan teknologi, dan kreativitas baru karyawan yang mendukung kinerja bisnis sudah mengering. 6) Direksindan seluruh karyawan berkesimpulan sama, PT Genting Pazola telah bangkrut.
            Paragraf ini diawali kalimat penjelas dan diakhiri kalimat utama. Susunan pikiran paragraf tersebut:
Pikiran penjelas           :   1) kesulitan mendapatkan konsumen
2) kesejahteraan karyawan menurun
3) pajak tidak terbayar
4) kualitas produk menurun
Pikiran utama              :  PT Genting Pazola bangkrut
Penalaran                     :  Induktif
2.2.3        Kalimat Topik pada Awal dan Akhir Paragraf
Kalimat topik dalam sebuah paragraf pada hakikatnya hanya satu. Penempatan kalimat topik yang kedua berfungsi untuk menegaskan kembali pikiran utama paragraf tersebut. Namun demikian, penempatan kalimat topik pada awal dan akhir berpengaruh pada penalaran. Kalimat topik pada awal paragraf menimbulkan sifat deduktif, pada akhir menjadikan paragraf bersifat induktif, pada awal dan akhir paragraf bersifat deduktif-induktif.
 (4)                   1) Selain merinci corak keragaman paradigma sosiologi, Ritzer mengemukakan alasan perlunya paradigma yang lebih bersifat terintegrasi dalam sosiologi. 2) Meski ada alasan untuk mempertahankan paradigma yang ada, dirasakan adanya kebutuhan paradigma yang makin terintegrasi. 3) Ritzer berharap adanya keanekaragaman yang lebih besar melalui sebuah pengembangan paradigma baru yang terintegrasi untuk melengkapi paradigma yang ada, dan tidak dimaksudkan untuk menciptakan posisi hegemoni baru. 4) Paradigma yang lebih bersifat terintegrasi diperlukan kehadirannya dalam sosiologi modern (Ritzer Goodman, 2004: A-14).
Paragraf diatas diawali kalimat topik dan diakhiri dengan kalimat topik. Kedua kalimat topik tersebut berisi kalimat utama yang sama.
Pikiran utama  :  perlunya paradigma terintegrasi dalam sosiologi
Pikiran penjelas           :  1) fungsi paradigma terintegrasi
                                       2) paradigma terintegrasi tidak menciptakan hegemoni
Pikiran utama              :  paradigma terintegrasi diperlukan
Penalaran                     :  deduktif-induktif
2.2.4        Kalimat Topik pada Tengah Paragraf
Paragraf dengan kalimat topik di tengah paragraf, berarti diawali dengan kalimat penjelas dan diakhiri pula dengan kalimat penjelas. Paragraf ini menggunakan pola penalaran induktif-deduktif.

(5)                   1) Pasar Tanah Abang mulai dibanjiri pedagang hendak mempersiapkan dagangannya sejak pukul 05.00. 2) Aktivitas jual beli di pasar ini dimulai sekitar pukul 08.00. 3) Barang dagangan sebagian besar berupa produk tekstil, dari yang paling murah dengan satuan harga berdasarkan timbangan sampai dengan tekstil berkualitas import dan eksport. 4) Pasar ini memperdagangkan berbagai janis tekstil yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat ekonomi tinggi, menengah, maupun lapis bawah. 5) Pasar Tanah Abang merupakan pusat perdagangan yang tidak pernah sepi oleh penjual maupun pembeli. 6) Para pembeli mulai berdatangan pukul 08.00. 7) Jumlah pembeli ini meningkat sampai pukul 11.30. 8) Pada tengah hari, jumlah pembeli menurun. 9) Namun, jumlah tersebut memuncak kembali pada pukul 14.00 sampai dengan 16.30.
Paragraf di atas disusun dengan urutan kalimat 1 sampai dengan 5 menuju penalaran induktif (dari khusus ke umum) dan dari 5 sampai dengan 9 menuju penalaran deduktif (dari umum ke khusus). Penalaran keseluruhannya induktif-deduktif. Gagasan yang disajikan dalam paragraf di atas, adalah:
Pikiran penjelas           :    1) Pasar Tanah Abang dibanjiri pedagang
2) aktivitas jual-beli
3) barang yang diperdagangkan
4) tekstil kebutuhan masyarakat
Pikiran utama              :   Pasar Tanah Abang tidak pernah sepi
Pikiran penjelas           :    5) kedatangan pembeli
6) puncak kedatangan pembeli
Penalaran                    :   induktif-deduktif

3.      Syarat Paragraf yang Baik
Paragraf  yang harus memenuhi syarat kesatuan, kepaduan, ketuntasan, keruntutan, dan konsistensi penggunaan sudut pandang.

3.1  Kesatuan Paragraf
Untuk menjamin adanya kesatuan paragraf, setiap paragraf hanya berisi satu pikiran. Paragraf dapat berupa beberapa kalimat. Tetapi, seluruhnya harus merupakan kesatuan, tidak satu kalimat pun yang sumbang, yang tidak mendukung kesatuan paragraf. Jika terdapat kalimat yang sumbang, paragraf akan rusak kesatuannya.
Contoh paragraf tanpa kesatuan pikiran:
(6-1)                            1) Kebebasan berekspresi berdampak pada pengembangan kreatifitas baru. 2) Beberapa tingkat SD sampai dengan SMU/SMK berhasil menjuarai olimpiade fisika dan matematika. 3) Walaupun kebutuhan ekonomi masyarakat relatif rendah, beberapa siswa berhasil memenangkan kejuaraan dunia dalam lomba tersebut. 4) Kreativitas baru tersebut membanggakan kita semua.
            Paragraf (6-1) di atas tanpa kesatuan pikiran. Kalimat 1 sampai dengan 3 mengungkapkan pikiran yang berbeda-beda. Masaing-masing tidak membahas satu pikiran yang sama, dan kalimat 4 saja yang menunjukkan adanya hubungan. Akibatnya, paragraf menjadi tidak jelas sruktur dan maknanya. Bandingkanlah dengan paragraf (6-2).
Contoh paragraf dengan kesatuan pikiran:
(6-2)                            1) Kebebasan berekspresi berdampak pada pengembangan kreativitas baru. 2) Dengan kebebasan ini, para guru dapat dengan leluasa mengajar siswanya sesuai dengan basis kompetensi siswa dan lingkungan. 3) Kondisi kebebasan tersebut menjadikan pembelajaran berlangsung secara alami, penuh gairah, dan siswa termotivasi untuk berkembang. 4) Siswa belajar dalam suasana gembira, aktif, kreatif, dan produktif. 5) Dampak kebebasan ini, setiap siswa dapat melakukan berbagai eksperimen dengan menyinergikan bahan ajar di sekolah dan lingkungannya. 6) Kreativitasnya menjadi tidak terbendung.
            Paragraf (6-2) dikembangan dengan kesatuan pikiran. Seluruh kalimat membahas pikiran yang sama yaitu kebebasan berekspresi (kaliamt 1). Kalimat 2 membahas dampak pikiran pada kalimat 1 siswa dapat belajar sesuai dengan basis kompetensinya. Kalimat 3 siswa belajar penuh gairah sebagai dampak pikiran kalimat 2. Kalimat 4 berisi siswa menjadi kreatif sebagai dampak pikiran kalimat 3. Kalimat 5 siswa belajar secara sinergis teori dan praktik sebagai dampak pikiran kalimat 4. Kalimat 6 kreativitas siswa tidak terbendung sebagai dampak pikiran kalimat 5.
3.2  Kepaduan
Paragraf dinyatakan padu jika dibangun dengan kalimat-kalimat yang berhubungan logis. Hubungan pikiran-pikiran yang ada dalam paragraf menghasilkan kejelasan strujtur dan makna paragraf. Hubungan kalimat tersebut menghasilkan paragraf menjadi satu padu, utuh, dan kompak. Kepaduan ini dapat dibangun melalui repetisi (pengulangan) kata kunci atau sinonim, kata ganti, kata transisi, dan bentuk paralel.
3.2.1        Pengulangan Kata Kunci
Semua kalimat dalam paragraf dihubungkan dengan kata kunci atas sinonimnya. Kata kunci (sinonimnya) yang telah disebutkan dalam kalimat pertama diulang pada kalimat kedua, ketiga, dan seterusnya. Dengan pengulangan itu, paragraf menjadi padu, utuh, dan kompak.
Contoh:
(7-1)                1) Budaya merupakan sumber kreativitas baru. 2) Budaya baik yang berupa sistem ideal, sistem sosial, maupun sistem teknologi, ketiganya dapat dijadikan sumber kreativitas baru. 3) Budaya yang bersumber pada sistem ideal dapat mengarahkan kreativitas konsep-konsep pemikiran filsafat, ilmu pengetahuan, dan lain-lain. 4) Budaya yang bersumber sietem sosial dapat mengendalikan perilaku sosila atau masyarakat termasuk para pemimpinnya. 5) Budaya yang bersumber pada sistem teknologi dapat mengendalikan kreativitas baruberdasarkan geografis bangsa, misalnya sebagai neegara pertanian harus memproduksi teknologi pertanian, sebagia negara kelautan harus mengembangkan teknologi kelautan, dan sebagainya. 6) Sinergi dari ketiga sistem budaya dapat menghasilkan kreativitas yang lebih sempurna. 7) Misalnya, produk teknologi pertanian yang sesuai dengan tuntunan masyarakat, kondisi alam, dan daya pikir masyarakat akan menghasilkan budaya yang lebih disukai.
Kata kunci paragraf di atas yaitu budaya. Kata ini diulang pada setiap kalimat. Dalam paragraf kata kunci berfungsi untuk mengikat makna sehingga menghasilkan paragraf yang jelas makna dan strukturnya.
3.2.2        Kata Ganti
Kepaduan dapat dijalin dengan kata ganti, pronominal, atau padanan. Sebuah kata yang telah disebutkan kembali pada kalimat berikutnya dengan kata gantinya. Kata ganti (padanan) dapat pula menggantikan kalimat, paragraf, dan dapat pula menggantikan bab.
Misalnya:
(1)   Kata ganti:
Pengusaha – ia
Pengusaha-pengusaha – mereka
Seorang gadis – ia
Banyak gadis – ia
Saya dan dia – kami
Sayadan kamu – kita
(2)   Padanan
Ekonomi Indonesia segera bangkit. Hal ini ditandai dengan stabilnya nilai rupiah terhadap  mata uang asing. Selain itu, hal ini juga dapat dirasakan adanya kenaikan pendapatan nasionanl sebesar 5 persen setahun sejak awal 2005 sampai dengan akhir 2006. Hal ini ....
Bagaimana fakta yang dirasakan oleh masyarakat? Masalah ini sudah diteliti oleh tim ahli yang independen dan hasilnya sudah dianalisis. Secara makro, masalah ini tidak lagi menjadi beban masyarakat. Namun, secara mikro, masalah ini ...
Paragraf ini membahas pembinaan ekonomi masyarakat kecil. Paragraf tersebut ...
Bab ini menyajikan deskripsi teori variabel pertama dan variabel kedua. Deskripsi tersebut.
Contoh:
(7-2)                1) Pengusaha Indonesia kini mulai mandiri. 2) Mereka tidak lagi mengharapkan perlindungan sepenuhnya dari pemerintah. 3) Namun, dalam kaitanyya denagn persaingan global, mereka berharap agar pemerintah melindungi produk pertanian dengan cara membatasi impor. 4) Mereka juga bergarap agar pemerintah menegakkan hukum dan memberantas KKN tanpa pandang bulu. 5) Sebab, dengan KKN, mereka harus mengeluarkan biaya produksi yang sangat besar sehingga tidak mampu bersaing dipasar internasional.

(7-3)                KKN segera teratasi. 1) Hal ini ditandai dengan semakin banyaknya kasus KKN yang terungkap dan pelakunya dihukum. 2) Dapat dipastikan bahwa hal ini segera berdampak pada penegakkan hukum dan keadilan. 3) Jika pemerintah berhasil mengatasi KKN ini, kesejahteraan dan kemakmuran rakyat akan terus meningkat.

3.2.3        Kata Transisi
Kata transisi yaitu kata penghubung, konjungsi, perangkai yang menyatakan adanya hubungan, baik intrakalimat maupun antarkalimat. Penggunaan kata transisi yang tepat daat memadukan paragraf sehingga keseluruhan kalimat menjadi padu, menyatu dan utuh. Kata transisi digunakan berdasarkan fungsi makna yang dihubungkan. Kata transisi menyatakan hubungan sebagai berikut:
Sebab, akibat         : sebab, karena, akibatnya, maka, oleh karena itu, oleh  karena sebab itu, dampaknya
Hasil, akibat                  : akibatnya, hasilnya, dampaknya, akhirnya, jadi, sehingga
Pertentangan      : tetapi, namun, berbeda dengan, sebaliknya, kebalikan daripada itu, kecuali itu, meskipun demikian, walaupun demikian,
Waktu                            : ketika,
Syarat                             : jika, jikalau, apabila, kalau
Cara                                : cara yang demikian, cara ini,
Penegasan                      : jadi, dengan demikian, jelaslah bahwa
Tambahan informasi  : tambahan pula, selain itu, oleh karena itu, lebih dari pada itu, lebih lanjut, disaming itu, lebih-lebih, dalam hal demikian, sehubungan dengan hal itu, dengan kata lain, singkatnya, tegasnya,
Gabungan                        :  dan, serta,
Urutan                        : mula-mula, pertama, kedua ,skhirnya, proses ini, sesudah itu, selanjutnya,

Penulisan kata transisi antar kalimat harus diikuiti koma.
(1)   Orang itu mengendarai mobil sangat pelan. Agaknya, orang itu sedang mencari-cari alamat seseorang.
(2)   Ia mahasiswa paling cerdas dikelasnya. Akan tetapi, setelah dua tahun tamat kuliah belum juga mendapatkan pekerjaan.
(3)   Setelah berupaya mendapatkan pekerjaan selama dua tahun itu, ia tetap saja mendapatkannya. Akhirnya, ia berwirausaha.
Contoh:
(7-4)                1) Setelah berhasil membawa pulang medali emas bulu tangkis Olimpiade 2004, Taufik Hidayat pantas menikmati penghargaan yang terus mengalir kepadanya. 2) Mula-mula, ia menerima sebuah rumah mewah seharga 2 miliar dari gubernur DKI jakarta, yang ekaligus menjabat ketua koni. 3) Kedua, ia menerima hadiah dari ketua PBSI. 4) Ketiga, ia juga menerima hadiah dari para sponsor. 5) Akhirnya, sampai dengan 29 Agustus 2004, ia menerima total hadiah sebesar 3.3 miliar rupiah.
(7-5)                1) Tayangan televisi tidak seluruhnya baik bagi anak. 2) Tayangan tidak baik berdampak negatif kepada mereka. 3) Akibatnya, pendidikan yang diberikan oleh orangtua dan sekolah menjadi tidak efektif. 4) Selain itu, tayangan tersebut juga berakibat negatif terhadap pola berpikir anak: konsumtif, tidak kreatif, kasar atau sadis, dan tidak sopan. 5) Dampaknya, secara nasional, pengaruh ini menimbulkan pola berpikir ketergantungan kepada bangsa lain. 6) Oleh karena itu, masyarakat peduli bangsa agar anak mendapat perlindungan dari tayangan televisi yang tidak mendidik.

3.2.4        Struktur Paralel
Struktur paralel (kesejajaran) yaitu bentuk-bentuk sejajar: bentuk kata yang sama, struktur kalimat yanmg sama, repetisi atau pengulangan bentuk kata (kalimat) yang sama.
Contoh:
(7-6)                1) Sejak 1998, pelaksaan reformasi hukum belum menunjukkan tanda-tanda yang serius. 2) Menurut Presiden Megawati (Kompas, Agustus 2004), pelaksanaan tersebut justru terhambat oleh para penegak hukum di lapangan. 3) Jika kelambanan berlarut-larut, publik menduga bahwa oknum penegak hukum belum sungguh-sungguh melaksanakan tanggung jawabnya. 4) Sementara itu, para investor dan pengusaha berharap agar penegakkan hukum  tersebut dipercepat. 5) Jika berhasil, pencapaian keadilan dan kemakmuran masyarakat segera terwujud. 6) Ini berarti, peningkatan pertumbuhan ekonomi dan iklim bisnis juga terangkat.
Kata-kata yang dicetak miring merupakan bentuk sejajar (parallel). Seluruhnya menggunakan imbuhan pe-an. Kesejajaran bentuk ini berfungsi untuk mengikat makna sehingga membentuk kepaduan paragraf. Selain itu, kepaduan paragraf tersebut dibarengi dengan kesejajaran struktur yang sama, dimulai dengan anak kalimat, kata keterangan, atau kata transisi.

3.3  Ketuntasan
Ketuntasan ialah kesempurnaan. Hal ini dapat diwujudkan dengan:
(1)   Klasifikasi yaitu pengelompokkan objek secara lengkap dan menyeluruh. Ketuntasan klasifikasi tidak memungkinkan adanya bagian yang tidak masuk kelompok klasifikasi. Klasifikasi ada dua jenis, yaitu sederhana dan kompleks. Klasifikasi sederhana membagi sesuatu kedalam dua kelompok, misalnya: pria dan wanita, besar dan kecil, baik dan buruk. Sedangkan klasifikasi kompleks membagi sesuatu menjadi lebih dari dua kelompok, misalnya: besar-sedang-kecil, pengusaha besar-menengah-kecil, negara maju-negara berkembang-negara terlbelakang.
(2)   Ketentuan bahasan yaitu kesempurnaan membahas materi secara menyeluruh dan utuh. Hal ini harus dilakukan karena pembahasan yang tidak tuntas akan menghasilkan simpulan yang salah, tidak sahih, dan tidak valid.
Contoh:
(8-1)                Mahasiswa dikelas itu terdiri dari 15 orang perempuan dan 13 orang laki-laki. Prestasi perempuan mencapai IPK 4 sebanyak 3 orang. IPK 3 sebanyak 10 orang, dan IPK 2,7 sebanyak dua orang. Sedangkan prestasi laki-laki mencapai IPK 4 sebanyak 2 orang, IPK 3 sebanyak 10 orang. Merekla yang belum mencapai IPK 4 berupaya meningkatkan dengan menulis skripsi sesempurna mungkin sehingga dapat mengangkat IPK lebih tinggi. Sedangkan mereka yang sudah mencapai IPK 4 juga berupya mendapatkan nilai skripsi A dengan harapan dapat mempertahankan IPK akhir tetap 4.
Klasifikasi objek pada contoh di atas menunjukkan ketuntasan. (1) Seluruh objek  (mahasiswa) diklasifikasi. Tidak seorang pun dalam kelas itu yang tidak masuk dalam kelompok. (2) Klasifikasi pembahasan gagasan juga tuntas. Pengelompokan IPK yang dicapai oleh mahasiswa (IPK 4,3, dan 2,7) di kelas itu dibahas seluruhnya, tidak ada gagasan dan fakta yang tertinggal.
3.4  Konsistensi Sudut Pandang
Sudut pandang adalah cara penulis menempatkan diri dalam karangannya. Dalam cerita, pengarang sering menggunakan sudut pandang aku seolah-olah menceritakan dirinya sendiri. Selain itu, pengarang dapat menggunakansudut pandang dia atau ia seolah-olah menceritakan dia. Dalam karangan-karangan ilmiah, pengarang menggunakan penulis. Sekali menggunakan sudut pandang tersebut harus menggunakannya secara konsisten dan tidak boleh berganti sejak awal sampai akhir.
Contoh:
(8-2)                Penulis membatasi kajian kebahasaan ini, bagaimana penulisan ilmiah mahasiswa di perguruan tinggi. Untuk memudahkan pemahaman konsep dan aplikasinya, penulis mengidentifikasi konsep-konsep tersebut dengan definisi, pengertian, dan deskripsi teoretik. Untuk memudahkan aplikasinya, penulis berikan contoh-contoh yang relevan dengan teorinya.
(8-3)                Anton adalah mahasiswa yang cerdas. Ia dapat membaca buku ilmiah amat cepat. Selain itu, ia hampir tidak pernah kelihatan belajar. Ia amat serius ketika belajar di kelas. Waktu berdiskusi ia tidak banyak berbicara dan lebih banyak mendengarkan penjelasan dosen atau pendapat temannya. Nilai IPK-nya selalu 3,5.
(8-4)                Aku bukan mahasiswa yang cerdas. IPK-ku sedang-sedang saja. Aku juga tidak terlalu rajin belajar. Namun aku bersyukur, nilai IPK-ku tidak pernah di bawah 3.
3.5  Keruntuhan
Keruntutan adalah penyusunan urutan gagasan dalam karangan. Gagasan demi gagasan disajikan secara runtut bagaikan air mengalir – tidak pernah utus. Karangan yang runtut enak dibaca, dapat dipahami dengan mudah, dan menyenangkan pembacanya. Keruntutan dapat dilakukan dengan beberapa cara atau secara bersamaan dari berbagi cara:
(1)   Penalaran,
(2)   Kejelasan gagasan, makna, dan struktur,
(3)   Kata transisi yang tepat,
(4)   Kata ganti yang tepat,
(5)   Ikatan makna yang jelas,
(6)   Penggunaan idiomatik yang tepat,
(7)   Komunikasi yang efektif (terpahami, merangsang kreativitas), dan
(8)   Membangun suasana (ilmiah, objektivitas, menyenangkan)
(9)   Hubungan antargagasan, antarkata, dan antarkalimat yang tidak terputus.
Menulis yang runtut menuntut pengendalian pikiran, emosi, dan kemauan, Untuk itu, penulis memerlukan: (1) kesabaran (konsistensi) sehingga tidakl melewatkan pikiran penting dan menyajikannya dengan cara-cara diatas. (2) berketelitian tinggi dalam meghimpun gagasan, data, dan fakta yang tersebar menjadi satu sajian tulisan yang utuh, lengkap, dan menarik. (3) Katekunan dalam menjaring (menyisir) pikiran mana yang perlu ditulis dan mana yang harus dibuang; dan menyinergikan dengan himpunan kata, kalimat, tanda baca, paragraph; dan penalaran menjadi sajian yang sempurna. (4) Gigih yaitu menulis secara berkelanjutan sampai tuntas, dan tidak mengenal lelah. (5) Membaca dan menulis kembali menjadi naskah yang siap dikonsumsi oleh pembaca.
Contoh:
(8-5)                Agamawan organik. Agamawan organik adalah orang yang bisa mengartikulasikan dan menemukan “suara-suara agama” (rigious voices) menjadi kritik sosial dan counter hegemony terhadap sistem yang menindas. Agamawan organik memiliki kepekaan dalam membaca situasi sosial-politik yang ada di sekitarnya: diskriminasi, marjinalisasi, perenggutan hak asasi, ketidakadilan, dan lain-lain. Kepekeaan itu juga mendorong agamawan organik itu merespon dan menyuarakan realitas sosial politik tersebut. Ketidakadilan bukan hanya membuat agamawan organik mengetahui dan menyadari adanya  realitas semacam itu, melainkan juga menggerakkannya untuk merespon dan mengkritik ketidakadilan tersebut. Keberadaan agamawan organik tidak sebatas membimbing ritualitas dan spiritualitas umat, tetapi menumbuhkan kesadaran kolektif agar umat memiliki kesadaran tentang asal-usul atau sumber penindasan dan bagaimana menyikapinya. (M. Hilaly Basya “Agamawan Organik,”Kompas, 27 Agustus 2004)
Keruntutan paragraf (8-5) dibangun dengan berbagai cara: pengulangan kata kunci (agamawan organik dalam setiap kalimat), fungsi kata kunci (fungsi agamawan organik menyebar ke dalam seluruh kalimat penjelas), ikatan makna (definisi-analisis; pengertian – fungsi agamawan organik) dan penalaran (deduktif), komunikasi penulis dan pembaca (agamawan organik bisa siapa saja, memberi kesan mengajak pembacanya untuk terlibat di dalamnya).
(8-6)                Pendidikan berkualitas itu mahal. Mahasiswa yang mengharapkan kemampuannya berkualitas intrenasional harus bersedia membayar sarana ynag diperlukan untuk mencapai kemampuan tersebut. Pertama, sarana standar: teknologi komputer dan softwaremutakhir online dengan internet, laboratorium teknis untuk praktikum, dan buku-buku mutakhir. Kedua, pengajar berkualifikasi sudah pasti menuntut bayaran yang lebih mahal. Ketiga, sarana penunjang ruang kuliah disertai mesin pendingin. Selain itu, penyelenggara pendidikan masih harus menyediakan sarana lain untuk memenuhi syarat administrasi berstandar internasional, misalnya ISO 9001, atau lainnya.
            Keruntutan paragraf (8-6) dilakukan dengan: ikatan makna ( pendidikan berkualitas mahal, standar kualitas, penggunaan biaya), penalaran deduktif, dan kesejajaran struktur kalimat.
3.6  Jenis Paragraf
Kita dapat berbicara tentang paragraf dari berbagai sudut pandang: (1) sudut pandang isi atau pikiran yang dikemukakan (paragraf narasi, paragraf deskripsi, paragraf ekspositoris, paragraf argumentasi), atau (2) sudut pandang penalaran (paragraf induksi, paragraf deduksi, paragraf induksi-deduksi), atau (3) sudut pandang tempat dan fungsinya di dalam karangan (paragraf pengantar, paragraf pengembang, paragraf penutup). Seluruh jenis paragraf tersebut harus kita kuasai dengan baik. Pada bagian ini kita akan membahas jenis paragraf menurut fungsinya dalam karangan.

3.6.1        Paragraf Pengantar
Tamu harus mengetuk pintu rumah agar tuan rumah membukakan pintu baginya. Pengarang ingin “bertamu” ke “rumah” pembaca. Pengarang harus mengetuk pintu hati pembaca agar dapat dibukakan pintu hatinya. Mengetuk pintu dan mengucapkan sepada bila akan bertamu kepada pembaca berfungsi sebagai pengantar. Anda mengadakan pameran. Anda ingin para tamu dapat menikmati sepenuhnya pameran itu. Anda akan mengantar para tamu, entah dengan menggunakan panduan entah dengan menggunakan pengantar. Pengantar itu berfungsi untuk memberitahukan latar belakang, masalah tujuan, anggapan dasar. Pengantar yang baik akan berhasil mengetuk hati dan memperoleh simpati, menggugah minat dan gairah orang lain untuk mengetahui lebih banyak. Fungsi paragraf pengantar:
1)      menunjukkan pokok persoalan yang mendasar masalah,
2)      menarik minat pembaca dengan mengungkapkan latar belakang, pentingnya pemecahan masalah, dan
3)      menyatakan tesis yaitu ide sentral karangan yang akan dibahas,
4)      menyatakan pendirian (peryataan maksud) sebagai persiapan ke arah pendirian selengkapnya sampai dengan akhir karangan.

Untuk menarik minat pembaca, penulis dapat melakukan berbagai upaya yang dapat dipilih dan dirasa tepat:
(1)      menyampaikan berita hangat,
(2)      Menyampaikan anekdot,
(3)      memberikan latar belakang, suasana, atau karakter,
(4)      memberikan contoh konkret berkenaan dengan pokok pembicaraan,
(5)      mengawali karangan dengan suatu pernyataan yang tegas,
(6)      menyentak pembaca dengan suatu pertanyaan tajam,
(7)      menyentak dengan perbandingan, analogi, kesenjangan kontras,
(8)      mengungkapkan isu misteri yang belum terungkap (bukan masalah ghaib),
(9)      mengungkapkan peristiwa yang luar biasa, dan
(10)     mendebarkan hati pembaca dengan suatu suspensi.

Paragraf pengantar juga disebut paragraf topik, berfungsi sebagai pengikat makna bagi semua paragraf lain. Peragraf menentukan arah karangan selanjutnya. Oleh karena itu, paragraf pertama harus di buat sebaik dan semenarik mungkin. Perhatikan, apa daya tarik paragraf pembuka di bawah ini.
(9.1)                 Buku berjudul  Bahasa indonesia, Materi Ajar Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi ini merupakan materi ajar yang dikumpulkan sejak awal penulis menjadi dosen pada tahun 1981 hingga 2004. Setiap materi disusun dalam bentuk satuan acara perkuliahan dan diwujudkan dalam bentuk transparan untk setiap tatap muka. Kumpulan pengalaman ini kiranya diperlukan oleh mahasiswa.
(9.2)                 Sudah banyak materi bahasa Indonesia diajarkan diperguruan tinggi. Tetapi, mahasiswa masih tetap mengeluhkan tugas menulis makalah, paper, atau skripsi. Mahasiswa yang tidak mengeluhpun belum dapat mengarang dengan bahasa Indonesia yang baik. Mengapa hal ini terjadi?
(9.3)                 Permasalahan pokok dalam bidang pendidikan yang dihadapi bangsa Indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan pada setiap jenjang dan satuan pendidikan. Menurut Sunardi (2003:1), kritik yang memerlukan perhatian serius dalam bidang pendidikan adalah kekurangmampuan para lulusan memanfaatkan hasail pendidikan mereka memecahkan berbagai masalah aktual (Sunardi, 2003:1).
(9.4)                 Kehadiran dan kecepatan perkembangan teknologi informasi (TI) telah menyebabkan terjadinya proses perubahan dramatis dalam segala aspek kehidupan. Kehadiran TI tidak memberikan pilihan lain kepada dunia pendidikan selain turut serta dalam memanfaatkannya. TI sekarang ini memungkinkan terjadinya proses komunikasi yang bersifat global dari dan ke seluruh penjuru dunia sehingga batas wilayah suatu negara menjadi tiada dan negara-negara di dunia terhubungkan menjadi satu kesatuan yang disebut ‘global village’ atau desa dunia. Melalui pemanfaatan TI, siapa saja dapat memperoleh layanan pendidikan dan institusi pendidikan mana saja, dan kapan saja dikehendaki. (Paulinna Pannen, M. Yunus, Teguh Prakosa, “Pemanfaatan Teknologi Informasi dalam Peningkatan Mutu Pembelajaran Bahasa Indonesia,” dalam Kongres Bahasa Indonesia VIII, Jakarta: Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasioanal RI, 2003, h.1-14)
(9.5)                 Cristiaan Snouck Hurgronje (1857-1936) memang figur controversional daam pentas sejarah Indonesia kontemporer. Polemik seputar pro dan kontra keberadaan Hurgronje sebagai tokoh orientalis bagaikan danau dari mata air yang tak pernah kering untuk terus direnangi oleh siapapun. Lantas, dalam konteks Indoensia masa kini, pertanyaan yang muncul adalah begaimana memahami fenomena Snouck Hurgronje tersebut dan di manakah pemikiran-pemikiran itu seyogyanya ditempatkan? (St Sularto dalam Kompas, 27 Agustus)

3.6.2        Paragraf Pengembang
pararaf pengembang yatu paragraf yang berfungsi menerangkan atau menguraikan gagasan pokok karangan.
Fungsi paragraf pengembang:
1)            menguraikan, mendeskripsikan, membandingkan, menghubungkan, menjelaskan, atau menerangkan:
Kata-kata yang lazim digunakan: mengidentifikasi, menganalisis, detail, menguraikan arti, fungsi, mengklasifikasi, membandingkan, dengan demikian, membahas, dan lain-lain
2)            Menolak konsep: alasan, argumentasi (pembuktian), contoh, alasan, fakta, rincian, menyajikan dukungan.
Kata-kata yang lazim digunakan: bertentang dangan, berbeda dengan, tetapi, mekipun demikian, tidak sama halnya dengan, bertolak belakang dengan, tidak sejalan dengan, kontroversi, dan lain-lain.
3)            Mendukung konsep: argumen, argumentasi, contoh, alasan, fakta, rincian.
Kata-kata yang lazim digunakan: tambahan pula, lebih jauh, sejalan, dengan hal itu, sesungguhnya, sesuai dengan, seimbang dengan, pertimbangan lain,

Contoh:
(10.1)               Kurikulum dikembangkan dengan pendekatan berbasis kompetensi agar lulusan pendidikan nasional memiliki keunggulan kompetitif. Pertimbangan lainya adalah agar sistem pendidikan nasional dapat merespon secara proaktif berbagai perkembangan informasi, ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan pemenuhan tuntutan masyarakatnya. Dengan demikian, lembaga pendidikan tidak akan kehilangan relevansi program pembelajarannya terhadap kepentingan masyarakat dan karakteristik peserta didik dan tetap memiliki fleksibilitas dalam melaksanakan kurikulum yang berdiversifikasi (suwandi,2003:3)
(10.2)               Sementara itu yang dimaksud kompetensi adalah pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai-nilai yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Kompetensi memiliki sejumlah karakteristik: (1)kompetensi bersifat dinamis, (2)kompetensi berkembang dari waktu    ke waktu, (3)kompetensi adalah keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan oleh seseorang untuk mengerjakan sesuatu, dan (4)    kompetensi terukur. Dengan demikian, jelaslah bahwa kompetensi itu  terus berkembang dan berubah sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakatnya. Berkenaan dengan keterampilan dan pengetahuan, pada akhirnya pembelajar tidak hanya dapat mengatakan kompetensinya, tetapi dapat menunjukan atau  mendemonstrasikan keterampilan dan  keahliannya (suwandi,2003:3).
(10.3)               Buckley membahas apa yang didapatkan sosiologi dari teori    sistem. (1) teori sistem diturunkan dari ilmu yang pasti yang dapat diaplikasikan ke semua ilmu sosial dan behavioral, mengandung harapan dapat menyatukan ilmu-ilmu tersebut. (2) teori sistem mengandung   banyak tingkatan dan dapat diaplikasikan pada aspek sosial pada skala terbesar dan terkecil, ke aspek subjektif dan objektif. (3) teori sistem tertarik kepada keragaman hubungan dari berbagai aspek sosial yang beroperasi ke berbagai analisis sosial, mendeskripsikan secara umum sebagai susunan elemen. (4) teori sistem cenderung menganggap semua aspek sosiokultural dari segi proses, khususnya sebagai jaringan informasi dan komunikasi. (5) teori sistem bersifat integrative (Ritzer and Goodman,2004:238).

3.7  Paragraf Peralihan
Paragraf peralihan yaitu paragraf penghubung yang terletak diantara dua paragraf utama. Paragraf ini relatif pendek. Fungsinya sebagai penghubung antarparagraf utama, memudahkan pikiran pembaca beralih ke gagasan lain.
(11.1)               Kata-kata yang memiliki hubungan leksikal itu merupakan penanda hubungan leksikal, yang dapat dibedakan menjadi pengulangan, sinonim, dan hiponimi.
(11.2)               Bagaimana konsep tersebut diaplikasi? Uraian berikut ini akan membahas proses aplikasi tersebut secara bertahap dan tuntas.
3.8  Paragraf Penutup
Selesai berkomunikasi dan menyampaikan gagasan, kita pelu meninggalkan kesan yang kuat dan mendalam. Kita harapkan pembaca mengenang kesan tersebut. Dalam berkomunikasi dengan pembaca, kita berharap agar komunikasi tidak sebatas dengan membaca tetapi daya guna yang besar dan kesan yang kuat pula. Oleh karena itu, paragraf pengantar dan paragraf penutup perlu diperhatikan sungguh-sungguh oleh penulis karena kerap kali pembaca terlebih dahulu hanya membaca kedua jenis paragraf itu untuk mencari dan mengentahui sesuatu.
Fungsi paragraf penutup:
1)      sebagai penutup, menyatakan bahwa karangan sudah selesai. Komunikasi melalui karangan yang dibacanya telah ditutup, namun semangat yang besar dan segardiharapkan terus berlanjut;
2)      mengingatkan (menegaskan) kepada pembaca akan pentingnya pokok pembahasan;
3)      memuaskan pembaca untuk mendapat pandangan baru; dan
4)      menyajikan simpulan.
Upaya menutup karangan dengan kesan yang kuat:
1)      menegaskan kembali tesis atau ide pokok karangan dengan kata-kata lain;
2)      meringkas atau merangkum gagasan-gagasan yang penting yang telah disampaikan;
3)      memberikan kesimpulan, saran, dan/ atau proyeksi kemasa depan;
4)      memberikan pernyataan yang tegas, dan kesan mendalam.

(12-1)              Pembelajaran yang berkualitas atau pembelajaran yang efektif tersebut akan sangat ditentukan oleh: (1) ketersediaan guru yang kompeten dan professional, guru yang memiliki kemampuan reflektif, (2)keorganisasian sekolah yang dapat memfasilitasi keterlaksanaan belajar dan mengajar(di ruang kelas, sekolah, dan masyarakat), (3)partisipasi masyarakat dalam penyediaan sumber-sumber dorongan, termasuk penciptaan lingkungan belajar yang kondusif. Dengan perkataan lain, implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi dapat berhasil dangan baik jika dijiwai oleh penerapan kebijakan manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah (suwandi, 2003:13-14)  
(12-2)              Harus diperhatikan klasifikasi ke dalam tipe-tipe sosial budaya terurai diatas tidak mengandung penilaian mengenai tinggi-rendah dari kebudayaan-kebudayaan itu. Klasifikasi tersebut hanya bermaksuduntuk memudahkan gambaran keseluruhanmengenai aneka warna besar dari kebudayaan Indonesia itu, yang merupakan dari akibat dari suatu pengalaman histories yang berbeda-beda. Semua kebudayaan di Indonesia itu tidak ada yang kurang atau yang lebih tinggi. Kita semua bertolak dari satu titik yang sama menghadapi zaman modern ini dengan potensi serta kecepatan yang sama, membangun ke arah suatu bangsa yang kuat sentosa, yang beraneka warna, tetapi toh satu. (koentjaraningrat,1982:1-34)
(12.3)  Harapan terbesar bangsa agar situasi nasional tidak terhegemoni  oleh kepentingan pengusasa, kita gantungkan salah satunya kepada agamawan organik.
3.9  Hubungan Antarparagraf
Sebuah karangan menuntut kepaduan keseluruhan paragraf. Paragraf pembuka, peralihan, pengembang, dan penutup harus menghasilkan kepaduan karangan. Hal ini dapat dihasilkan dengan menjalin hubungan logis, keruntutan, dan kepaduan karangan. Untuk itu, masing-masing paragraf harus terkait dengan topic karangan. Perhatikan contoh artikel berikut ini.


Manfaat perencanaan keuangan
Sebagai seorang eksekutif, Anda termasuk beruntung. Pasalnya, Anda bisa menjalin hidup dengan kualitas lebih tinggi disbanding rata-rata orang Indonesia. Akan tetapi, kebutuhan hidup berpacu dengan pendapatan,. Makin tinggi pendapatan seseorang, kebutuhan hidupnya makin tinggi pula. Ketika menyandang menyandang status eksekutif, Anda tentu ingin mempunyai mobil bagus, rumah bagus, berdandan yang chick. Itu baru kebuituhan Anda sendiri.
Oleh karena itu, kendati terhitung berpendapatan besar disbanding rata-rata pendapatan rakyat Indonesia, tak jarang para eksekutif juga mengalami mismatch dalam pengalaman keuangan. Ada kalanya, mereka kelebihan arus kas, tetapi pada saat lain kekurangan arus kas. Agar pasang surut arus kas itu dapat diantisipasi dan ditangani dengan baik, Anda perlu melakukan perencanaan keuangan. Perencanaan keuangan dapat membantu anda untuk lebih mengerti kebutuhan anda maupun dalam menyusun strategi untuk memenuhinya. Selain itu, perencanaan ini juga membuat Anda lebih realistik, termasuk dalam merencanakan pengeluaran agar sesuai dengan kemampuan.
Perencanaan keuangan adalah suatu seni sekaligus ilmu yang harus ditekuni terus-menerus dalam menghadapi kejedian-kejadian dalam kehidupan. Berkaitan dengan hal itu, ada beberapa hal yang harus dipahami secara benar agar perencanaan keuangan dapat dilakukan secara cermat dan bijaksana.
Pertama, Anda perlu memperkirakan kondisi financial saat ini. Artinya, anda menginventiarisasi asset secara cermat dulu, seperti deposito di bank, reksa dana, emas, tanah, real estat, dan jenis kekayaan lainnya. Jumlahkan nilai aset tersebut, lalu kurangi dengan utang yang dimiliki dan kewajiban keuangan lainnya (jika ada). Berkaitan dengan inventarisasi aset itu, anda juga harus melakukan perhitungan pendapatan dan pengeluaran. Ini untuk mengetahui, apakah dimasa mendatang asset Anda harus bertambah atau sebaliknya, menyusut.
Kedua, Anda perlu menentukan target keuangan, boleh lebih dari satu target. Target ini lebih menjadi berarti dan memberikan motivasi apabila Anda dapat membayangkan atau memvisualisasikannya. Untuk itu, yang pertama harus Anda harus lakukan adalah mengidentifikasi dan merinci target-target keuangan Anda. Misalnya, menabung untuk menyekolahkan anak Anda di Harvard university 15 tahun mendatang, membeli mobil, membayar uang muka rumah, membayar cicilan rumah dan mobil, berlibur ke luar negri bersama keluarga pada tahun depan sampai menghadapi masa pensiun. Cobalah luangkan waktu sehari atau dua hari untuk mencatat semua yang anda inginkan.
Ketiga, memecah target financial tersebut dalam jangka pendek (kurang dari setahun), jangka menengah (1-5tahun), dan jangka panjang (lebih dari 5 tahun). Yang perlu diperhatikan dalam target keuangan, target tersebut harus dapat diukur dengan memperkirakan biaya yang diperlukan dan kapan akan dicapai.
Keempat, menentukan kekurangaan/gep (apabila ada) arus kas kita pada masa depan untuk mencapai target itu. Ini dilakukan dengan membandingkan arus kas pendapatan masa depam dengan kebutuhan biaya sesuai dengan cita-cita financial Anda. Setelah kekurangan/gap ditentukan, Anda kini data merencanakan bagaimana menutup kekurangan tersebut.
Ada beberapa pilihan yang dapat Anda lakukan untuk menutup kekurangan/gep antara lain: 1) mengurangi tingkat pengeluaran rutin dengan menyesuaikan gaya hidup, 2) meninjau bila ada sumber pendapatan lainnya, dan 3) mengalokasi dana Anda dengan optimal.
Untuk yang terakhir ini, prinsipnya adalah menyesuaikan dana sesuai dengan jangka waktu kebutuhan keuangan yang dibedakan dengan jangka pendek (<1tahun), jangka menengah (1-5tahun), dan jangka panjang (>5tahun).
Sebagai contoh, untuk menutupi kebutuhan jangka pendek, tempatkan dana pada instrumen investasi jangka pendek yang likiud seperti deposito, SBI (sertifikat bank indonesia) dan obligasi dengan jatuh tempo di bawah   satu tahun. Dengan demikian, anda dapat mengakses dana Anda setiap saat dengan risiko minimal.
Sementara itu, untuk menutup arus kas jangka menengah dapat ditempatkan pada reksa dana campuran yang memadukan obligasi dan instrument saham. Karena dana ini tidak dibutuhkan segera, Anda dapat memanfaatkan potensipendapatan yang lebih tinggi dari instrument saham sekaligus diimbangi oleh instrument obligasi yang lebih stabil dan jangka waktu menengah.
Untuk kebutuhan jangka panjang yang yang memberikan potensi pendapatan tinggi untuk jangka panjang  seperti reksa dana saham. Investasi di relestat juga bisa menjadi alternatif lainnya. Perlu diingat berinventasi melalui reksa dana tentunya mengandung risiko. Oleh karena itu, anda perlu memahami tingkat risiko reksa dana yang tesedia dan toleransi anda terhadap fluktuasi nilai produk tersebut.
Anda dapat mengonsultasikan perensanaan keuangan kepada bank yang dapat memberikan layanan simulasi dari hasil perencanaan keuangan nasabah sehingga dapat mempertimbangkan factor perencanaan keuangan seperti: tingkat pendapatan dan pengeluaran, inflasi, pajak, tingkat risiko nasabah, dan penempatan dana nasabah.
Sebaiknya, Anda memahami seni dan ilmu perencanaan keuangan. Untuk itu, Anda perlu membaca majalah keuangan, buku tentang investasi, dan menjelajahi website investasi. Selain itu, Anda perlu mengevaluasi perkembembangan perencanaan keuangan yang anda lakukan. Buatlah jadwal untuk melakukan peninjauan ulang, misalnya: bulanan, kuartalan, semesteran, atau sekurang-kurangnya setahun sekali. Pilihlah program/ rencana yang memungkinkan keuangan Anda berjalan dengan baik. Lakukan evaluasi dan perubahan seperlunya.

                                            (kutipan disertai perubahan dari SWA sembada,
                                                                        No.16/xx/5-18 Agustus 2004).
Hubungan antarparagraf pada karangan diatas dihubungkan dengan beberapa cara.          
1)      menggunakan kata kunci “perencanaan keuangan”
2)      menggunakan kata transisi, oleh karena itu, sebaliknya, sementara it
3)      menggunakan bilangan proses:pertama, kedua, ketiga, keempat
4)      mengulang gagasan dan menjelaskannya:untuk yang terakhir ini, untuk jangka panjang.

4.      Pengembangan Paragraf
Paragraf yang baik, selain harus memenuhi syarat, paragraf harus ditulis secara logis dan memenuhi standar nalar. Hal ini dimaksudkan agar paragraf dapat mencapai target penulisan. Misalnya, efektivitas jangkauan komunikasi agar gagasan sampai kepada pembaca, kebenaran gagasan yang dapat diukur secara empirik, terpahami dengan mudah, menghasilkan efek psikologis (kepuasan) pembaca, dan lain-lain. Untuk penulis memerlukan strategi menulis paragraf, yaitu cara dan upaya yang dapat memikat pembaca.
Pengembangan paragraf, misalnya: berdasarkan jenis, berdasarkan nalar (secara alami, klimaks, antiklimaks, deduktif, induktif, dedukti-induktif, induksi-deduksi, sebab-akibat, kronologis), berdasarkan fungsi (contoh, analogi, ilustrasi, analisis, pembuktian, perbandingan, dan definisi luas).
4.1   Secara Alamiah
Pengembangan paragraf secara alamiah ini didasarkan pada urutan ruang dan waktu (kronologis). Urutan ruang merupakan urutan yang akan membawa pembaca dari satu titik ke titik berikutnya dalam suatu ruang. Adapun urutan waktu adalah urutan yang menggambarkan urutan terjadinya peristiwa, perbuatan, atau tindakan.
Contoh:
(14.1)               Legenda kerajaan Mycenae membuat bulu kuduk kita tegak karena penuh peristiwa berdarah. Istri atreus digoda oleh saudara laki-lakinya, Thyestes. Sebagai pembalasan, atreus membunuh kedua anak laki-laki Thyestes, merebusnya, dan menghidangkannya dalam makan malam bagi Thyestes. Atreus kemudian sengaja memperlihatkan  kepada Thyestes sisa-sisa tubuh kedua anaknya agar Thyestes tahu apa yang telah dimakannya. Sejak saat itu atreus dan keturunannya, termasuk Agamemnon, minelaus, orestes, dikutuk para dewa. Mereka mati di tangan orang-orang terdekatnya (Myrna Ratna, “Kutukan Tujuh Turunan di Mycenae,”Kompas, 14 Agustus 2004)
(14.2)               Minggu 18 agustus 1981 jam di dinding terus berdetak menenjukkan pukul 23.30 saya masih tetap di aula hotel lembah nyiur.                        Aula itu jauh dari kamar-kamar tempat kami dan para tamu hotel menginap. Suasana sunyi, dingin, tak terdengar apapun, kecuali suara angin malam yang berhembus. Di aula itu saya seorang diri. Saya berpikir keras mencari strategi untuk menatar penilik sekolah esok hari. Malam semakin dingin. “Pletak…Pletak….Prak….!”Saya terkejut. Bulu kudukku berdiri. Saya tidak beranjak dari tempat duduk. Kamar-kamar tidur mulai gelap. Suasana semakin sunyi. ”Prak! Prak!” Bulu kudukku kembali berdiri tegak. Dengan was-was, saya melangkah ke luar ruangan. Seluruh ruang disekitar aula saya periksa. Tidak ada sesuatupun. Saya melanjutkan pekerjaan di aula. ”Prak! Prak!” Saya keluar lagi, berdiri menyandar tembok aula di tempat yang gelap sambil mengamati segala arah.”Prak!Prak!Prak!” Saya konsentrasi ke sumber suara.”Prak!Prak!” terlihatlah beberapa ekor ikan besar lebih kurang 3-5 kg mendorong-dorong bambu dan menghentakkannya kedinding kolam. Saya lega.
4.2  Klimaks-Antiklimaks
Paragraf jenis ini lazim digunakan untuk menyajikan sebuah cerita atau konflik. Penulisan diawali dengan pengenalan tokoh, dilanjutkan konflik, mencapai puncak konflik, dan menurun menuju solusi (antiklimaks). Jenis paragraf ini dapat digunakan untuk menulis sejarah, cerita fiksi (roman, novel,cerita pendek), kisah permusuhan, atau peperangan.
Contoh:
(15)                  Pertempuran Surabaya. Pertempuran ini diawali dengan perebutan kekuasaan dan senjata dari tentara jepang oleh pemuda dan tentara serikat yang dimulai 2 september 1945. Perebutan ini menimbulkan pergolakan, revolusi, dan konfrotatif. Jenderal D.C. Hawthorn (panglima AFNEI) 25 oktober 1945 memerintahkan tentara serikat inggris-belanda brigade 49 (bagian dari divisi india ke-23) yang dipimpin Brigadier Jenderal A.W.S. Mallaby agar mendarat di Surabaya. Pertempuran Mallaby dan Gubernur RMTA Suryo menghasilkan berbagai kesepakatan damai. Di antaranya, RI memperkenankan inggris (tanpa pasukan belanda) untuk memasuki Surabaya untuk mengurus kamp-kamp tawanan.
Namun, Inggris mengingkari kesepakatan tersebut. Mereka 26 oktober 1945 dibawah pimpinan Kapten Shaw membebaskan Kolonel Huiyer di penjara Kalisosok, keesokannya menduduki Pangkalan Udara Tanjung Perak, Kantor Pos Besar, Gedung Internatio, dan objek vital lainnya. Pada 27 oktober 1945 tentara serikat dengan pesawat terbangmenyebarkan pamphlet agar rakyak menyerahkan senjata. Kontak senjata terjadi. 28 oktober 1945 kedudukan Inggris kritis, tank-tank dilumpuhkan, sarana vital direbut kembali. Atas permintaan komando serikat, Presiden Sukarna (disertai para wakil pemerintah dan pemuda) bersama Mallaby dan Hawthorn melakukan perundingan damai bertujuan menyelamatkan pasukan Mallaby dari kehancuran. Perundingan damai berakhir pada 30 oktober 1945. Pukul 13.00 hari itu Bung Karna dan Hawthom meninggalkan Surabaya. Gedung Bank Internatio masih diduduki pasukan Inggris, Mallaby berada di dalamnya. Para pemuda mengepungnya dan menuntut agar Mallaby menyerah. Mallaby menolak dan melakukan serangan gencar dari dalam gedung, pemuda membalasnya dengan sasaran utama Mallaby. Dia ditusuk dengan bayonet dan bambu runcing. Mallaby terbunuh. Para pengawalnya melarikan diri.
Pada tanggal 9 November 1945 Inggris mengultimatum agar seluruh bangsa Indonesia di Surabaya menyerahkan diri dengan tangan di atas kepala. Ultimatum itu sebagai penghinaan. Gubernur Soeryo melalui radio menyatakan menolak ultimatum. Semua kekuatan TKR, pemuda, tentara pelajar, mengatur strategi mempertahankan Surabaya. Surabaya digempur oleh angkatan laut, udara dan darat Inggris selama tiga minggu. Sektor demi sektor berhasil dipertahankan. (Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesa IV, Jakarta : Balai Pustaka, 1984, h. 110-116)
Karangan dengan bahasan materi sejarah perang Surabaya diatas terdiri 3 paragraf. Paragraf pertama sebagai pengantar, paragraf kedua sebagai bahasan utama yang menyajikan serangkaian peristiwa konflik dan awal sampai klimaks, dan paragraf ketiga merupakan sajian antiklimaks. Ketiga paragraf diatas dapat dijadikan satu paragraf tetapi terlalu panjang, lebih baik dipenggal menjadi paragraf pengantar, berisi pengenalan konflik; paragraf utama berisi perkembangan konflik menuju klimaks, dan paragraf ketiga  berisi bahasa anti klimaks.
Paragraf 1        1)    Perebutan kekuasaan dan senjata dari jepang
Paragraf 2        2)    Disepakati inggris memasuki Surabaya untuk mengurus                                                               
                               tawanan,
3)    Inggris mengingkari kesepakatan damai
4)    Konflik senjata tentara serikat dan pemuda
                        5)    Tentara inggris kritis
                        6)    Perundingan damai
                        7)    Mallaby menolak perdamaian
                        8)    Mallaby terbunuh (klimaks)
Paragraf 3        9)    Inggris menyerang Surabaya
                        10)  Surabaya berhasil dipertahankan

4.3  Deduksi dan Induksi
(Baca bahasan topik 7:2.2.1 s.d. 2.2.4; topik 8: bahasa 2, 3)
Berikut ini disajikan sebuah contoh paragraf deduksi, selanjutnya bacalah topik 7:2.2.1 s.d. 2.2.4; topik 8: bahasa 2, 3.
Deduksi adalah proses penalaran dengan menybtkan gagasan utama yang bersifat umum dan dilanjutkan dengan gagasa-gagasan yang bersifat khusus.
Contoh:
(16-1)              Pelaku bisnis sering dihadapkan dengan risiko, yaitu risiko yang bersifat strtegis dan risiko bersifat operasional. 1) Risiko strategi merupakan pengeluaran yang mengharuskan perusahaan untuk berpikir pada skala strategis. Risiko jenis ini harus dipecahkan oleh pimpinandan memerlukan perencanaan strategis. 2) Risiko operasional mengharuskan keterlibatkan pimpinan sekaligus pada tingkat yang lebih rendah. Risiko operasional dapat terjadi pada para pemasok, yang dapat pula terjadi pada aspek produksi, yang berpengaruh kepada unit distribusi, atau pada barang dipakai. 3) Risiko strategi dan operasional terjadi secara bertumpang tindih, misalnya kebakaran dapat berpendapak kepada pemasok dan distributor (husen umar, manajemen risiko bisnis, Jakarta:gramedia, 1998, h.14-15).
Paragraf diatas menggunakan deduksi-analisis. Paragraf tersebut diawali kalimat yang bersifat umum dilanjutkan dengan pembahasan klasifikasi. Masing-masing kelompok diuraikan dengan rincian.

5.      Paragraf Berdasarkan Fungsi
Bentuk paragraf selain ditentukan oleh teknik pengembangannya, juga ditentukan oleh fungsi paragraf tersebut dalam suatu karangan, misalnya, membandingkan, mempertentangkan, menggambarkan, memperdebatkan, contoh, definisi luas. Perhatikan contoh-contoh paragraf berdasarkan fungsinya berikut ini:
5.1   Perbandingan dan Pertentangan
5.1.1        Perbandingan
Paragraf perbandingan dan pertentangan adalah paragraf yang berusaha memperjelas paparannya dengan jalan membandingkan dan mempertentengkan hal-hal yang dibicarakan. Dalam perbandingan tersebut dikemukakan persamaan dan perbedaan antara dua hal itu. Yang dapat dibandingkan dan dipertentangkan adalah dua hal yang tingkatnya sama akan kedua hal itu memiliki perbedaan dan persamaan.
Contoh:
(17.1)                              Ion Negatif, Ion Hutan, dan Plasmacluster
Teknologi ion negatif: mesin pendingin udara dengan ion negatif menggunakan ion oksigen yang dihasilkan dari pemecahan uap air (H2O). Kadar oksigen yang dihasilkan dapat menyegarkan tubuh. Tetapi, produk ini masih terlalu rendah untuk mengurangi polusi udara dalam ruang. Penelitian Departemen Biologi ITB (2004) menyebutkan bahwa kadar ion negatif hanya mampu mengurangi bakteri sebesar 20% dan tidak mengurangi kandungan jamur diudara.
Ion Hutan: hutan memiliki mekanisme membersihkan udara secara alami. Proses berlangsung dengan prinsip keseimbangan ion positif dan ion negatif. Penelitian Sharp Corporation menyebutkan bahwa hutan memiliki lebih kurang 4200 ion/cc udara ion positif dan ion negatif. Sedangkan udara perkotaan mengandung ion negatif 100 ion/cc dan 500 ion positif/cc. Namun, kondisi ini kurang efektif mengurangi bekteri dan jamur. Ini berarti belum efektif mengurangi sumber penyakit yang ditimbulkan oleh polusi udara dalam ruang.
Teknologi plasmacluaster: Teknologi sharp mendesain teknologi penghasil ion positif dan ion negatif secara serentak, masing-masing 50.000 ion setiap detik. Penelitian Departemen Biologi ITB menyimpulkan unit plasmacluaster mampu menon-aktifkan bakteri di ruang sebesar 320m33 hingga 100% selama 6 jam, dan jamur hingga 100% dalam waktu 12 jam. Selain itu, penelitian Kitasato Research Centre of Environmental Sciences (Jepang) ion positif dan ion negatif dapat mengatasi bakteri, jamur, dan virus termasuk virus burung, dan SARS (Kompas, 20 Agustus 2004).
(17-2)              Suasana lebaran biasanya begitu semarak di negeri kita ini, dapat dibandingkan dengan Thanks Giving Day di Amerika, saat negara itu bersukaria bersyukur kepada tuhan bersama seluruh keluarganya. Gerak mudik rakyat Indonesia juga mirip sekali dengan yang terjadi pada orang-orang Amerika menjelang Thank Giving Days itu.                           Semuanya merasakan dorongan amat kuat untuk bertemu ayah-ibu dan sanak saudaranya Karena justru dalam suasaba keakraban keluarga itulah hikmah idul fitri dan Thank Giving Days dapat dirasakan sepenuhya (nurcholis madjid, cendekiawan & religiusitas masyarakat, Jakarta: paramadina, 1999, h.38)
5.1.2        Pertentangan
Pertentangan merupakan proses argumentasi dengan melakukan penolakan. Oleh karena itu, pertentangan ditargetkan menolak eksistensinya dan disertai pembuktian.
(17-3)              Perusahaan XYZ menimbulkan pencemaran air minum masyarakat disekitamya. Warga setempat yang menjadi korban menderita penyakit kulit yang kronis. Perusahaan itu doserang dan dinilai sebagai antisocial dan tidak peduli lingkungan. Perusahaan jenis ini bertentangan dengan keinginan masyarakat peduli lingkungan dan sosial. Atas penilaian itu, beberapa perusahaan mendapat citra buruk sebagai akibat laporan media masa, serta unjuk rasa mahasiswa yang terus-menerus mengenai masalah yang ditimbulkannya. Kelompok yang mempunyai kepentingan tertentu dan para jurnalis sering bergabung untuk menyerang perusahaan itu, yang berakibat para konsumen beralih kepada pesaing. Selain itu, perusahaan tersebut kesulitan modal karena bank tidak mau berisiko.

5.2  Analogi
Paragraf yang merupakan analogi biasanya digunakan oleh penulis untuk membandingkan sesuatu yang dikenal oleh umum dengan yang kurang dikenal itu. Perhatikan contoh paragraf berikut.
Contoh: baca topik 8 penalaran contoh 13 dan 14
5.3  Contoh-contoh
Paragraf berisi contoh-contoh digunakan untuk memberikan bukti atau penjelasan terhadap generilisasi yang sifatnya umum, agar pembaca dapat dengan mudah menerimanya. Dalam hal ini, wawasan pemikiran, wawasan budaya, pengalaman, dapt nerfungsi secara efektif.
Contoh:
(17.4)               Budaya sebagai sumber krativitas. Orang yang cerdas akan mampu mengolah kekayaan budaya Indonesia yang luar biasa besar. Produk makanan, misalnya, dari Sabang sampai Merauke terdapat ratusan ribu jenis. Pilih satu produk makanan yang potensial untuk dibisniskan. Jika diolah secara kreatif, modern, dikemas yang sempurna, jelaskan kandungan gizinya dalam berbagai bahasa di dunia, sesuaikan selera (rasa) menurut negara tujuan, produk makanan tersebut dapat dipastikan akan membanjiri pasar dunia. Selain itu, kita memiliki budaya yang berupa cerita tradisional. Setiap daerah memiliki cerita yang unik. Cerita ini dapat dijadikan sumber kreativitas film, cerita petualangan, cerita yang bernilai edukatif, dan sebagainya. Cerita ini dapat dikemas menjadi cerita kartun modern. Jika dikemas sesuai dengan selera masyarakat dunia dalam CD, produk ini pasti dapat mendatangkan manfaat yang besar. Selain bernilai komersial, produk ini dapat berfungsisebagai pengenalan budaya bangsa.
5.4  Sebab-Akibat
Dalam paragraf sebab akibat, sebab dapat berfungsi sebagai pikiran utamadan akibat sebagai pikiran penjelas. Atau sebaliknya, yaitu akibat sebagai pikiran utama dan sebab sebagai rincian penjelasnya.
Contoh:
(17-5)              Proses pemilihan capres dan cawapres 2004 berdampak positif bagi masyarakat. Mereka semakin sadar akan hak-haknya. Mereka bukan hanya hanya menyadari hak politiknyamelainkan juga hak mendapatkan kesejahteraan. Mereka merasan bahwa penderitaan dan kesulitan hidupnya merupakan akibat semakin meluasnya pejabat yang korupsi. Untuk menjamin tidak korupsi, para calon legislatif, eksekutif, dan yudikatif itu diminta ketersediaannya menandatangani kontrak politik.

5.5  Definisi Luas
Definisi adalah uraian pengertian. Definisi dapat berupa sinonim kata, definisi formal berupa kalimat, dan definisi luas yaitu uraian pengertian yang sekurang-kurangnya terdiri satu paragraf. Artinya, ada definisi yang lebih luas yang terdiri dari beberapa paragraf, bahkan lebih panjang lagi, misalnya, satu bab.
Contoh:
(17-6)              Manusia adalah makhluk yang berakal budi. Makhluk artinya ciptaan. Tuhanlah yang menciptakan manusia. Mereka diciptakan oleh Tuhan sebagai khalifah bumi yaitu sebagai  penguasa dan pengelola segala sesuatu di bumi. Tugasnya yaitu memelihara bumi agar tidak terjadi kerusakan. Manusia boleh menikmati apa saja yang ada di bumisejauh tidak melanggar ketentuan-Nya. Sebagai makhluk yang berakal budi, manusia dapat memahami dan melaksanakan batas-batas yang diperbolehkan dan yang dilarang oleh Tuhan.
5.6  Klasifikasi
Klasifikasi adalah pengelompokan sesuatu berdasarkan kesamaan dan perbedaan sifat, cirri, dan karakter. Beberapa objek dengan sifat, ciri, dan karakter sama maka objek-objek tersevut menjadi satu kelompok, jika berbeda sifat, ciri, dan karakter harus berada di kelompok lain.
Contoh:
(17-7)              Buku bacaan dapat diklasifikasi menjadi dua kelompok berdasarkan kesamaan sifatnya. Misalnya, buku fiksi dan non-fiksi, buku fiksi dihasilkan oleh daya imajinasi pengerangnya. Buku ini mempunyai sifat menghibur pembacanya karena keindahan bahasa dan daya tarik pesan-pesan atau gagasan yang dapat mengaktifkan imajinasi pembacanya. Sedangkan buku nonfiksi ditulis untuk menyampaikan kebenaran empirik yang dapat diukur dengan mudah. Selain itu,  buku bacaan juga dapat dikelompokkan menjadi dua jenis yaitu buku teori dan buku pendidikan. Buku teori berisi konsep-konsep, temuan, atau hasil pemikiran para ahli.  Buku pendidikan ditulis oleh para ahli bagi keperluan pendidikan atau pembelajaran bagi siswa, pelajar, atau mahasiswa. Buku ini menyajikan konsep yang dikemas bukan dalam bentuk teori melainkan dalam bentuk materi pembelajaran.

Sumber: Widjono Hs. 2008. Bahasa Indonesia. Jakarta: grasindo.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...