Ads by BuzzCity

Kamis, 21 April 2011

Home » » Kutipan, Catatan Kaki dan Bibliografi

Kutipan, Catatan Kaki dan Bibliografi


A.    Kutipan Disertai Catatan Kaki

Kutipan adalan salinan kalimat, paragraph, atau pendapat dari seseorang pengarang atau ucapan orang terkenal karena keahliannya, baik yang terdapat dalam buku, jurnal, baik yang melalui media cetak maupun elektronik. Kutipan ditulis untuk menegaskan isi uraian, memperkuat pembuktian, dan kejujuran menggunakan sumber penulisan.

Skripsi, thesis, disertasi dan makalah ilmiah lebih dari 10 halaman sebaiknya menggunakan catatan kaki.
            
 Jenis kutipan adadua macam:
1.      Kutipan Langsung
Kutipan langsung adalah salinan yang persis sama dengan sumbernya tanpa perubahan
a)      Kutipan langsung kurang dari lima baris ditulis berintegrasi ke dalam teks, spasi sama, pias (margin) juga sama, diapit tanda petik,dan pada akhir kutipan diberi nomor untuk catatan kaki
Contoh kutipan kurang dari lima baris:
Dalam Pedoman Ejaan yang Disempurnakan disebutkan bahwa unsurpinjaman yang pengucapan dan penulisannyadisesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia. Dalam hal ini diusahakan ejaanya hanya diubah seperlunya saja, sehingga bentuk indonessianya masih dapat dibandingkandengan bentuk asalnya.

Deddy Sugono (penanggung jawab), Pedoman UmumEjaan Bahasa Indonesiayang Disempurnakan,(Jakarta , Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional,2004) hlm 23

b)      Kutipan langsung lima baris keatas ditulis terpisah dari teks, spasi rapat ( satu spasi), margin kiri masuk kedalam teks lima spasi, dari margin kanan tiga spasi , dan pada akhir kutipan diberi nomor akhir catatan kaki.

Contoh kutipan langsung diatas lima baris:
Dalam Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia disebutkan bahwa:
Ragam bahasa standar memiliki sifat kemantapan dinamis , yang berupa kaidah dan aturan yang tetap. Baku dan standar tidak dapat barubah setiap saat . kaidah pembentukan kata yang menerbitkan perasa dan prumus dengan taat asas harus menghasilkan bentuk perajin dan perusak dan bukan pengrajin atau pengrusak.
Ketaatasasanragam baku ini dalam penulisan ilmiah perlu dilaksanakan  secara konsisitensehingga menghasilkan ekspresi pikiranyang obyektif.

Moeliono, Anton M (Ed).Tata Bahasa BakuBahasa Indonesia. (Jakarta:Balai Pustaka ,1988)

2.      Kutipan tidak langsung
Kutipan tidak langsungadalah menyadur, mengambil ide dari suatu sumber dan menuliskannya sendiri dengan kalimat atau bahasa sendiri. Penulisan diintegrasikan kedalam teks,tidak diapit tanda petik, spasi sama dengan teks, dan tidak mengubah isi atau ide penulis asli. Penulisan disertai daftar pustaka sumber yang dikutip, dapat berupa catatn kaki atau data pustaka dari teks.
Contoh kutipan tidak langsung:

Tidak semua masalah dapat dipecahkan dengan kemampuan berpikir dan nurani manusia oleh karena itu,manusia memerlukan sumber kebenaran yang berupa wahyu Tuhan.Kebenaran itu harus bersifat mutlak dan sebagai manusia kita harus menyakininya.


Cara menyadur ada dua macam, masing-masing berbeda cara, tujuan dan manfaatnya.
a.      Meringkas
Cara meringkas yaitu menyajikan suatu karangan  atau bagian karangan yang panjang dalam bentuk ringkas. Meringkas bertujuan untuk mengembangkan ekspresi penulisan, menghemat kata, memudahkan pemahaman naskah asli, dan mamperkuat pembuktian. Proses meringkas karangan berdasarkan karangan sebagai berikut:
1)      Bertolak dari karangan asli, dengan membaca secara cermat keseluruhan naskah asli daritema sampai dengan kesimpulan, dan merangkum pikiran-pikiran utama.

2)      Mereproduksi karya asli dalam bentuk ringkas dengan menyajikan pikiran-pikiran utama seluruh karangan dalam hubungan logis; memotong, memangkas, atau menghilangkan unsure-unsur berikut ini:
a)      Latar beakang
b)      Keindahan gaya bahasa
c)      Ilustrasi
d)      Penjelasan, rincian, dan detail
e)      Kutipan
f)       Sumber kutipan
g)      Data pustaka
h)      Deskripsi data
i)        Contoh-contoh

3)      Menyusun ringkasan dengan mempertahankan keaslian naskah
a)      Pikiran pengarang
b)      Pendekatan naskah
c)      Urutan pikiran
d)      Istilah-istilah
e)      Data yang sudah diolah (hasil analisis)
f)       Kesimpulan
g)      Sudut pandang pengarang asli

Contoh ringkasan:
Direktur strategi bisnis melaporkan kinerjanya dengan tema upaya memecahkan masalah perusahaan, PT.Exelco yang cenderung merugi. PT.Exelco pembuat perlengkapan kamar mandi modern diharapkan pada pemilihan meminjaman uang di bank untuk pembenahan system produksi dan manajemen atau menjual dengan harga yang relatif rendah. Kajian analisis pilihan pertama menjual perusahaan yang berarti kerugian, mengingat produk perusahaan itu pada tahun 1994-2004 berkualitas standard internasional (ISO 9001) dan pelanggan sudah mencapai 20 persen di Asia, 5 persen di Eropa, dan 2persen di Amerika .   masalahnya produk terbatas karena ketinggalan teknologi dan mekanisme manajemen yang tidak efisien. Pilihan kedua meminjam modal di bank sebesar lima miliar rupiah dengan princian untuk pembenahan teknologi produksi sebesar empat miliar rupiah dan sisanya untuk pembenahan managemen dan rekrutmen tenaga ahli potensial. Cara ini lebih menguntungkan .kesimpulan menggunakan pilihan kedua.

Direktur Strategi Bisnis, Laporan Pertanggungjawaban Strategi Bisnis. (Jakarta. PT.Wringin/2002), 1-20

b.      Ikhtisar
Cara ikhtisar yaitu menyajikan suatu karangan yang panjang dalam bentuk ringkas, bertolak dari naskah asli, tetapi tidak mempertahankan urutan, tidak menyajikan seluruh isi, langsung kepada inti bahasan yang terkait dengan inti masalah yang hendak dipecahkan. Ikhtisar memerlukan ilustrasi untuk menjelaskan persoalan.
Contoh ikhtisar:
Seteleh melkukan kajian yang mendalam laporan Direktur Strategi Bisnis PT.Exelco, Direktur Utama beserta para pemegang saham memutuskan kebijakan bisnis yang lebih menguntungkan yaitu meminjam modal di bank untuk pembenahan teknologi produksi dan system manajemen.

Direktur Strategi Bisnis .Ibid.hm15

1.2 Kutipan Tanpa Catatan Kaki                                     
                Artikel dan makalah pendek (kurang dari 10) yang tidak menggunakan catatan kaki dapat menggunakan data pustaka dalam teks. Pemikiran yang mendasari penulisan demikian, antara lain:
1.       Artikel lazim dimuat dalam surat kabar dan majalah populer,
2.       Ruang penulisan untuk catatan kaki dan bibliografi terbatas,
3.       Penulisan cenderung menggunakan ragam populer,
4.       Pembaca artikel bermacam-macam latar belakang ilmu pengetahuan,
5.       Pertimbangan akademis bukan unsur utama karena yang dipentingkan fungsi informasi,
6.       Surat kabar dan majalah mengutamakan efektivitas dan efisiensi, setiap baris/kolom diperhitungkan secara komersial,
7.       Pemuatan catatan kaki dan bibliografi dinilai memboroskan ruang, yang dapat memperkecil nilai komersialnya,
8.       Penulisan artikel yang pendek tidak menuntut catatan kaki dan bibliografi yang banyak.
Data pustaka dalam teks digunakan dalam menulis karangan pendek, misalnya artikel di surat kabar. Data pustaka dapat ditempatkan pada awal kutipan (saduran) dan dapat pula pada akhir kutipan (saduran). Data pustaka yang ditulis: pencipta ide, penulis buku, nama buku, tahun, dan halaman.
Contoh dalam penulisan data pustaka dalam teks:

(1)    Data Pustaka pada awal kutipan
Hatch dan Gardner (dalam Daniel Goleman, intelegence Emotional, 2002:166) mengidentifikasi kecerdasan antarpribadi berdasarkan keteram-pilan esensial dalam (1) mengorganisasi kelompok, (2) mencegah konflik dalam merundingkan pemahaman, (3) empati dalam menjalin, mengenali, dan merespon hubungan pribadi, (4) mengungkapkan perasaan dan keprihatinan secara tepat, (5) melakukan analisis sosial dalam mendeteksi perasaan orang lain menuju bentuk terbaik sehingga diperolaeh suatu ketajaman antarpribadi, dan (6) memanfaatkan unsur pembentuk daya tarik, keberhasilan sosial, dan kharisma.
(2)    Data pustaka pada akhir kutipan
Kecerdasan antarpribadi adalah kemampuan untuk memahami orang lain apa yang memotifasi mereka, bagaimana mereka bekerja, bagaimana kerja bahu-membahu dengan mereka. Sedangkan kecerdasan intrapribadi adalah kemampuan yang korelatif, tetapi terarah ke dalam diri sendiri yang teliti dan megacu pada diri sendiri serta kemampuan menggunakan model untuk menempuh kehidupan yang efektif (Howard Gardner, Multiple Inteligence, dalam Daniel Goleman, Inteligence Emotional, 2002:52)

Catatan:
Setiap sumber data pustaka baik dalam teks maupun catatan kaki, selain disebutkan sumbernya dalam teks, harus dicantumkan pula dalam bibliografi pada akhir karangan.

2.Catatan kaki (footnote)
Catatan kaki (footnote), dilakukan apabila penulis mencantumkan nomor indeks di akhir sebuah kutipan, lalu di bagian bawah halaman tersebut (bagian kaki halaman) terdapat keterangan nomor indeks yang menjelaskan sumber kutipan tersebut.
Sebuah tulisan ilmiah harus menggunakan salah satu jenis penulisan referensi tersebut, serta harus konsisten dengan jenis tersebut. Artinya, ketika sebuah tulisan menggunakan bodynote, maka seluruh referensi dari awal hingga akhir tulisan harus menggunakan bodynote. Atau, jika seorang penulis menggunakan catatan kaki, sejak awal hingga akhir tulisan, penulis harus menggunakan catatan kaki untuk menuliskan referensinya.
               
Teknik Menggunakan Catatan Kaki

Catatan kaki mempunyai kelebihan dibandingkan dengan catatan tubuh, yaitu:
1).    Catatan kaki mampu menunjukkan sumber referensi dengan lebih lengkap. Dalam cacatan tubuh, yang ditampilkan hanya nama pengarang, tahun terbit buku, serta halaman buku yang dikutip. Dalam catatan kaki, nama pengarang, judul buku, tahun terbit, nama penerbit, dan halaman dapat dicantumkan semua. Hal ini tentu mempermudah penelusuran bagi pembaca.
2).    Selain sebagai penunjukan referensi, catatan kaki dapat berfungsi untuk memberikan catatan penjelas yang diperlukan. Hal ini tentu tidak dapat dilakukan dengan catatan tubuh.
3).    Catatan kaki dapat digunakan untuk merujuk bagian lain dari sebuah tulisan.

Berdasarkan kelebihannya tersebut, catatan kaki bisa berisi:
1).    Penunjukan sumber kutipan (referensi).
2).    Catatan penjelas.
3).    Penunjukan sumber kutipan sekaligus catatan penjelas.
                   
Prinsip-prinsip dalam menuliskan catatan kaki:
1)      Catatan kaki dicantumkan di bagian bawah halaman, dipisahkan dengan naskah skripsi oleh sebuah garis. Pemisahan ini akan otomatis dilakukan oleh program Microsoft Word dengan cara mengklik insert, kemudian reference, kemudian footnote.
2)      Nomor cacatan kaki ditulis secara urut pada tiap bab, mulai dari nomor satu. Artinya, cacatan kaki pertama di tiap awal bab menggunakan nomor satu, begitu seterusnya.
3)      Catatan kaki ditulis dengan satu spasi.
4)      Pilihan huruf dalam catatan kaki harus sama dengan pilihan huruf dalam naskah skripsi, hanya ukurannya lebih kecil, yaitu:
ü  Times New Roman (size 10)
ü  Arial (size 9)
ü  Tahoma (size 9)
5)      Baris pertama catatan kaki menjorok ke dalam sebanyak tujuh karakter.
6)      Judul buku dalam catatan kaki ditulis miring (italic).
7)      Nama pengarang dalam catatan kaki ditulis lengkap dan tidak dibalik.
8)      Catatan kaki bisa berisi keterangan tambahan. Pertimbangan utama memberikan keterangan tambahan adalah: jika keterangan tersebut ditempatkan dalam naskah (menyatu dengan naskah) akan merusak alur tulisan atau naskah tersebut. Tidak ada batasan seberapa panjang keterangan tambahan, asalkan proporsional.

Buku dengan satu pengarang
Nama pengarang, judul buku (kota penerbit: nama penerbit, tahun terbit), halaman.[1]

Buku dengan dua atau tiga pengarang
Nama pengarang 1, nama pengarang 2, nama pengarang 3, judul buku (kota penerbit: nama penerbit, tahun terbit), halaman.[2]

Buku dengan banyak pengarang
Nama pengarang pertama, et al., judul buku (kota penerbit: nama penerbit, tahun terbit), halaman.[3]
Perhatikan: hanya nama pengarang pertama yang dicantumkan, nama-nama pengarang lainnya diganti dengan singkatan et al.

Buku yang telah direvisi
Nama pengarang, judul buku (rev.ed.; kota penerbit: nama penerbit, tahun terbit), halaman.[4]
Perhatikan: singkatan rev.ed. menunjukkan bahwa buku tersebut telah mengalami revisi.

Buku yang terdiri dua jilid atau lebih
Nama pengarang, judul buku (nomor volume/jilid; kota penerbit: nama penerbit, tahun terbit), halaman.[5]

Buku terjemahan
Nama pengarang asli, judul buku, terj. nama penerjemah (kota penerbit: nama penerbit, tahun terbit), halaman.[6]
Perhatikan: singkatan terj. menunjukkan bahwa buku tersebut telah diterjemahkan dan penulis mengutip dari terjemahan tersebut.

Kamus
Nama pengarang, judul kamus (kota penerbit: nama penerbit, tahun terbit), halaman.[7]



Artikel dari sebuah buku antologi
Nama pengarang artikel, ”judul artikel,” judul buku, ed. nama editor (kota penerbit: nama penerbit, tahun terbit), halaman.[8]
Perhatikan: jika editor satu orang maka menggunakan singkatan ed., namun jika editor dua orang atau lebih menggunakan singkatan eds.

Artikel dari sebuah jurnal/majalah ilmiah
Nama pengarang artikel, ”judul artikel,” nama jurnal/majalah ilmiah, edisi jurnal (bulan terbit, tahun terbit), halaman.[9]

Artikel dari koran/majalah
Nama pengarang artikel, ”judul artikel,” nama media, tanggal terbit, tahun, halaman.[10]

Berita koran/majalah
”Judul berita,” nama media, tanggal terbit, tahun, halaman.[11]

Skripsi/Tesis/Disertasi yang belum diterbitkan
Nama penulis, ”judul skripsi/tesis/disertasi,” (level karya, fakultas dan universitas, nama kota, tahun terbit), halaman.[12]

Makalah seminar yang tidak diterbitkan
Nama penulis, ”judul makalah,” (forum penyampaian makalah, penyelenggara seminar, nama kota, tanggal seminar, tahun).[13]

Dokumen yang tidak diterbitkan
Lembaga yang mengeluarkan dokumen, nama dokumen, (nama kota, tanggal dikeluarkan dokumen, tahun).[14]

Artikel dari internet
Nama penulis, ”judul artikel,” alamat lengkap internet (tanggal akses).[15]
Jika artikel di internet tidak mencantumkan nama penulis, maka langsung mengacu pada judul artikel.[16]

Pernyataan lisan
Nama narasumber, jenis pernyataan (wawancara atau pidato), tanggal pernyataan dilakukan.[17]

Referensi dari sumber kedua
Keterangan lengkap sumber pertama (sesuai dengan aturan catatan kaki), seperti dikutip oleh keterangan lengkap sumber kedua (sesuai aturan catatan kaki).[18]
Perhatikan: frase ”seperti dikutip oleh” menunjukkan bahwa penulis tidak membaca sumber asal (pertama) kutipan, hanya membaca dari orang lain (sumber kedua) yang mengutip sumber pertama.

a.       Beberapa Singkatan Khusus dalam Catatan Kaki

1)      Ibid.
Singkatan ini berasal dari bahasa latin ibidem yang berarti pada tempat yang sama. Singkatan ini digunakan apabila referensi dalam catatan kaki nomor tersebut sama dengan referensi pada nomor sebelumnya (tanpa diselingi catatan kaki lain). Apabila halamannya sama, cukup ditulis Ibid., bila halamannya berbeda, setelah Ibid. dituliskan nomor halamannya.

2)      Op.Cit.
Singkatan ini berasal dari bahasa latin opere citato yang berarti pada karya yang telah dikutip. Singkatan ini digunakan apabila referensi dalam catatan kaki pada nomor tersebut sama dengan referensi yang telah dikutip sebelumnya, namun diselingi catatan kaki lain. Op.Cit. khusus digunakan bagi referensi yang berupa buku.

3)      Loc.Cit.
Singkatan ini berasal dari bahasa latin loco citato yang berarti pada tempat yang telah dikutip. Singkatan ini digunakan sama dengan Op.Cit., yaitu apabila referensi dalam catatan kaki pada nomor tersebut sama dengan referensi yang telah dikutip sebelumnya, namun diselingi catatan kaki lain. Namun, referensi yang diacu Loc.Cit. bukan berupa buku, melainkan artikel, baik itu dari koran, majalah, ensiklopedi, internet, atau lainnya.

Contoh penggunaan:
1 Arthur Asa Berger, Media Analysis Techniques, terj. Setio Budi (Yogyakarta: Penerbitan Universitas Atma Jaya, 2000), hal. 45.
2 Ibid.
3 Ibid., hal. 55.
4 Dedy N. Hidayat, "Paradigma dan Perkembangan Penelitian Komunikasi," Jurnal Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia,  No. 2 (Oktober, 1998), hal. 25-26.
5 Ibid., hal. 28.
6  Arthur Asa Berger, Op.Cit., hal. 70.
7 Hubert L. Dreyfus, Paul Rabinow, Beyond Structuralism and Hermeneutics (Chicago: University of Chicago Press, 1982), hal. 72 - 76.
8 Francis Fukuyama, “Benturan Islam dan Modernitas,” Koran Tempo, 22 November, 2001, hal. 45.
9 Robert McChesney, “Rich Media Poor Democracy,” www.thirdworldtraveler.com/Robert_McChesney_page.html (akses 16 Agustus 2006).
10 Arthur Asa Berger, Op.Cit., hal. 96.
11 Ibid., hal. 99.
12 Ibid.
13 Dedy N. Hidayat, Loc.Cit., hal. 22.
14 Francis Fukuyama, Loc.Cit.
15 Hubert L. Dreyfus, Paul Rabinow, Op.Cit., 58.
16 Dedy N. Hidayat, Loc.Cit., hal. 21.

Cara membaca:
           
  •  Catatan kaki nomor (2) menggunakan Ibid., karena sumber kutipannya sama persis dengan nomor (1) baik buku maupun halamannya.
  • Catatan kaki nomor (3) buku referensinya sama dengan nomor (2), hanya saja beda halamannya.
  • Catatan kaki nomor (5) referensinya sama dengan nomor (4), hanya saja beda halamannya.
  • Catatan kaki nomor (6), referensinya sama dengan nomor (1), karena telah diselingi oleh catatan kaki lain, maka menggunakan Op.Cit., serta menuliskan nama pengarang dan halaman.
  • Catatan kaki nomor (10) referensinya sama dengan nomor (1), karena telah diselingi oleh catatan kaki lain, maka menggunakan Op.Cit.
  • Catatan kaki nomor (11), referensinya sama dengan catatan kaki sebelumnya, tanpa diselingi catatan kaki lain, yaitu nomor (10), hanya saja beda halamannya.
  • Catatan kaki nomor (12) referensinya sama persis dengan nomor (11).
  • Catatan kaki nomor (13) referensinya sama dengan nomor (4), hanya beda halamannya, karena telah diselingi oleh catatan kaki lain dan nomor (4) berbentuk artikel (bukan buku) maka menggunakan Loc.Cit., serta menuliskan halamannya.
  • Catatan kaki nomor (14) referensinya sama persis, termasuk halamannya, dengan nomor (8), karena telah diselingi oleh catatan kaki lain dan nomor (8) berbentuk artikel (bukan buku) maka menggunakan Loc.Cit.
  • Catatan kaki nomor (15) referensinya sama dengan nomor (7), hanya beda halaman, karena telah diselingi oleh catatan kaki lain dan nomor (7) berbentuk buku (bukan artikel) maka menggunakan Op.Cit., serta menuliskan halamannya.
  • Catatan kaki nomor (16) referensinya sama dengan nomor (4), hanya beda halamannya, karena telah diselingi oleh catatan kaki lain dan nomor (4) berbentuk artikel (bukan buku) maka menggunakan Loc.Cit., serta menuliskan halamannya.


3. Bibliografi
3.1 Penulisan Bibliografi
1.      Daftar pustaka disusun menurut abjad pengarang, tanpa nomor urut.
2.      Judul buku dicetak miring.
3.      Jarak antara butir buku dua spasi.
4.      Jarak dalam butir pustaka satu spasi.
5.      Perhatikan contoh-contoh dibawah ini.
3.1.1 Satu Pengarang
Munandar, Utami, Pengembangan Kreatifitas Anak Berbakat, Jakarta: Rineka Cipta, 1999.
Cara menuliskan :
1.      Urutan nama pengarang disusun dari belakang ke depan mengikuti urutan dalam buku kecuali nama Tionghoa.
2.      Jika penulis adalah satu badan atau instansi, yayasan, departemen, komite, organisasi, dan pusat, maka nama-nama badan tersebut menggantikan tempat nama pengarang/penuis.
3.      Jika tidak ada nama pengarang atau penulis, maka dimulai dengan nama buku.
4.      Nama buku dicetak miring dalam tulisan tangan atau ketikan nama buku mendapatkan garis bawah masing-masing.
5.      Urutan tanda baca seperti diatas itulah yang dikehendaki.
6.      Jika ada lebih dari satu nama kota, maka diambil nama yang pertama.
7.      Jika tidak ada angka tahun, berilah angka tahun terakhir. Angka tahun biasanya terdapat pada sampul dalam buku. Jika tidak ada juga, berilah singkatan t.th (tanpa angka tahun).
3.1.2 Dua Pengarang
Allen, Edward David, and Rebecca M. Valette, Classroom Tecnique: Foreign Language and English as a second Language, New Yor: harcourt javanich, Inc., 1977.
Catatan :
Penulis dua pengarang atau lebih, nama penulis pertama dibalik, penulis kedua dan seterusnya tidak dibalik.
3.1.3 Tiga Pengarang
Akhadiah, Sabarti,Maidar G. Arsjad, dan Sakura H. Ridwan, Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia, Jakarta: Erlangga, 1999.
3.1.4 Lebih dari Tiga Pengarang
Canfield, Jack, Mark Victor Hansen, Jannifer Read Hawthorne, Marci Shimoff, Chicken Soup for the Women’s Soul, terj. Anton MGS, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2000.
3.1.5 Editor atau Penyunting
Halim, Amran (ed), Politik Bahasa Nasional I. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1976.
3.1.6 Kumpulan Esai, Bunga Rampai, Himpunan Makalah.
Eko Budiardjo, Sejumlah Masalah Pemukiman Kota Cetakan ke-2, Bandung: Alumni, 1992.
3.1.7 Terjemahan
Amstrong, Thomas, Sekolah Para Juara Menerapkan Multiple Intelligence di Dunia Pendidikan, terj. Yudhi Martanto, Bandung: Kaifa, 2002.
Cara penulisan :
1.      Nama penulis/pengarang asli, judul buku asli atau terjemahan (sesuai dengan buku sumber), terjemahan (terj.) dan nama penerjemah.
2.      Jika tidak ada nama pengarang asli dalam terjemahan, judul buku terjemahan ditulis di tempat nama pengarang.
3.1.8 Artikel dalam Jumlah, Majalah
Nur Hidayat, “Analisis Perbandingan Laporan Keuangan Fiskal vs Laporan Keuangan Komersial,” Jurnal Perpajakan Indonesia, 1:10, 32-39 (Jakarta, Mei 2002).
Cara penulisan :
1.      Judul artikel dalam tanda petik anda.
2.      Koma diberikan sebelum tanda petik ganda terakhir.
3.      Angka romawi menyatakan volume atau tahun dan angka arab menunjukkan halaman.
4.      Petunjuk yang sama ini berlaku pula bagi pengutipan artikel dari sebuah ensiklopedia, bunga rampai, atau bab dalam buku.
5.      Nama buku, jurnal majalah, dan ensiklopedia mendapat garis bawah atau dicetak miring.
3.1.9 Tajuk Rencana, Artikel tanpa Nama
Tajuk Rencana,”Membangun Perangkat Lunak Demokrasi,” Kompas, 24 September 2004.
3.1.10 Wawancara, Interview Radio, dan Televisi
Natabaskara, Roni, Interview Televisi,”Pentingnya Penyuluhan untuk Membuat Masyarakat Berpikir Logis,” Rajawali Citra Televisi Indonesia, Jakarta 14 Agustus 2004.
3.1.11 Disertasi Diterbitkan
Keraf Gregorius, Morfologi Dialek Lamalera. Disertasi UI 1978. Ende/ Flores: Arnoldus, 1978.
3.1.12 Disertasi tidak Diterbitkan
Hermana Sumantri,”Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial dan beberapa Faktor Psikologis yang Mempengaruhinya,” Disertasi Universitas Negeri Jakarta, Jakarta, 2000.
Catatan :
1.      Disertasi, tesis, dan skripsi yang diterbitkan diberi notasi sebagai buku. Akan tetapi keterangan tentang disertasi, tesis, atau skripsi harus diberikan nama perguruan tinggi dan tahun ujian disertasi.
2.      Disertasi yang tidak diterbitkan ditulis dalam tanda petik ganda. Harus dituliskan pula disertasi, tesis, atau skripsi, nama perguruan tinggi, dan tahun.
3.1.13 Bersumber pada Internet
Kumaidi. 1998. “Pengukuran Bekal Awal Belajar dan Pengembangan Tesnya.” Jurnal Ilmu Pendidikan, (Online), Jilid 5, No.4, (http://www.Malang.ac.id, diakses 20 Januari 2000).
3.2 Penyusunan Bibliografi
3.2.1 Penyusunan Bibliografi Cara Pertama :
1.      Nama pengarang (susunan: nama kedua, koma, dan nama pertama)
2.      -      Judul buku
-          Judul artikel, nama jurnal vol. No./majalah/surat kabar
-          Judul esai, nama buku kumpulan esai
-          Judul karangan/penjelasan kata (istilah), nama ensiklopedia
3.      Nama kota
4.      Nama penerbit
5.      Tahun penerbitan
Contoh :
Allen, Edward David, and Rebecca M. Valette, Classroom Tecnique: Foreign Language and English as a second Language, New York: harcourt javanich, Inc., 1977.
3.2.2 Penyusunan Bibliografi Cara Kedua :
Susunan bibliografi cara kedua :
1.      Nama pengarang, titik.
2.      Tahun penerbitan, titik, (angka tahun boleh diapit tanda kurung, asal konsisten).
3.      Judul karangan, buku, jurnal, majalah, kumpulan esai, titik.
4.      Nama kota, titik dua.
5.      Nama penerbit, titik.
Allen, Edward David, and Rebecca M. Valette, Classroom Tecnique: Foreign Language and English as a second Language, New Yor: harcourt javanich, Inc., 1977.



Sumber: Widjono Hs. 2008. Bahasa Indonesia. Jakarta: grasindo.

[1] David Barrat, Media Sociology (London and New York: Routledge, 1994), hal. 273.
[2] Hubert L. Dreyfus, Paul Rabinow, Beyond Structuralism and Hermeneutics (Chicago: University of Chicago Press, 1982), hal. 72 - 76.
[3] Idi Subandi Ibrahim, et al., Hegemoni Budaya (Yogyakarta: Bentang, 1997), hal. 52 - 54.
[4] Jalaluddin Rakhmat, Psikologi Komunikasi (rev.ed.; Bandung: Remaja Rosdakarya, 2003), hal. 55.
[5] Ira M. Lapidus, A History of Islamic Societes (Vol.1; Cambridge: Cambridge University Press, 1988), hal. 131.
[6] Arthur Asa Berger, Media Analysis Techniques, terj. Setio Budi HH. (Yogyakarta: Penerbitan Universitas Atma Jaya, 2000), hal. 44 – 45.
[7] Lorens Bagus, Kamus Filsafat (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1994), hal. 595.
[8] Rudi Harisyah Alam, “Perspektif Pasca-Modernisme dalam Kajian Keagamaan,” Kajian Keagamaan dalam Tradisi Baru Penelitian Agama Islam Tinjauan Antardisiplin Ilmu, eds.  Prof. Dr. Mastuhu, M.Ed., M. Deden Ridwan (Bandung: Penerbit Nuansa dan PUSJARLIT, 1998), hal. 67-77.
[9] Dedy N. Hidayat, "Paradigma dan Perkembangan Penelitian Komunikasi," Jurnal Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia,  No. 2 (Oktober, 1998), hal. 25-26.
[10] Francis Fukuyama, “Benturan Islam dan Modernitas,” Koran Tempo, 22 November, 2001, hal. 4.
[11] “Islam di AS Jadi Agama Kedua,” Republika, 10 September, 2002, hal. 6.
[12] Muzayin Nazaruddin, “War Against Terrorism: Critical Discourse Analysis,” (Skripsi Sarjana, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sebelas Maret, Surakarta, 2004), hal. 205.
[13] Muzayin Nazaruddin, “Dua Tipe Perempuan dalam Film dan Sinetron Mistik Indonesia,” (Makalah disampaikan dalam Temu Ilmiah Nasional, Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Jakarta, 26 – 28 Juni, 2007).
[14] U.S. Department of Foreign Affairs, Testimony by John. J. Maresca, Vice President International Relations Unocal Corporation to House Committee on International Relations Subcommittee on Asia and The Pacific (Washington D.C., 12 February, 1998).
[15]Robert McChesney, “Rich Media Poor Democracy,”
[16] “Pengelolaan Bencana: Pengelolaan Kerentanan Masyarakat,” www.walhi.or.id/kampanye/bencana (akses 17 Agustus 2006).
[17] Samijan, wawancara dengan penulis, 11 November 2006.
[18] Karl Marx, Selected Writings in Sociology and Social Philosophy, eds. T.B. Bottomore and Maximilien Rubel (New York: McGraw-Hill, 1964), hal. 78, seperti dikutip oleh Arthur Asa Berger, Media Analysis Techniques, terj. Setio Budi HH. (Yogyakarta: Penerbitan Universitas Atma Jaya, 2000), hal. 44 – 45.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...