Ads by BuzzCity

Minggu, 17 April 2011

Home » » DIKSI

DIKSI

1. PENGERTIAN DIKSI
Pengertian diksi adalah pilihan kata. Maksudnya, kita memilih kata yang tepat untuk menyatakan sesuatu. Pilihan kata merupakan satu unsur sangat penting, baik dalam dunia karang-mengarang maupun dalam dunia tutur setiap hari. Dalam memilih kata yang setepat-tepatnya untuk menyatakan suatu maksud, kita tidak dapat lari dari kamus. Kamus memberikan suatu ketepatan kepada kita tentang pemakaian kat-kata. Dalam hal ini, makna kata yang tepatlah yang diperlukan.Kata yang tepat akan membantu seseorang mengungkapkan dengan tepat apa yang ingin disampaikannya, baik lisan maupun tulisan. Di samping itu, pemilihan kata itu harus pula sesuai dengan situasi dan tempat penggunaan kata-kata itu.

Selain itu,pilihan dan kesesuaian kata yang didukung dengan tanda baca yang tepat dapat menimbulkan nada kebahasan,yaitu sugesti yang terekspresi melalui rangkain kata yang disertai penekanan mampu menghasilkan daya persuasi yang tinggi.Gaya bahasa berdasarkan nada yang dihasilkan oleh tiga pilihan kata ini ada tiga macam,yaitu :

a) Gaya bahasa bernada rendah (Gaya sederhana)
Menghasilkan ekspresi pesan yang mudah dipahami oleh berbagai lapisan pembaca,misalnya dalam buku – buku pelajaran,penyajian fakta,dan pembuktian.

b) Gaya bahasa bernada menengah
Rangkaian kata yang disusun berdasarkan kaidah sintaksisdengan menimbulkan suasana damai dan menyejukkan,misalnya: dalam seminar,kekeluargaan dan kesopanan.

c) Gaya bahasa bernada tinggi mengekspresikan maksud dengan penuh tenaga menggunakan kata yang penuh vitalitas,enegri dan kebenaran universal. Gaya ini menggunakan kata – kata yang penuh keangguangan dan kemuliaan yang dapat menghanyutkan emosi pembaca dan
Pendengarnya.

2. KETETAPAN KATA
Diksi adalah ketepatan pilihan kata. Indikator ketepatan kata ini, antara lain:
• Mengomunikasikan gagasan berdasarkan pilihan kata yang tepat dan sesuai berdasarkan kaidah bahasa Indonesia
• Menghasilkan kamunikasi puncak (yang paling efektif) tanpa salah penafsiran atau salah makna
• Menghasilkan respon pembaca atau pendengar sesuai dengan harapan penulis atau pembicara
• Menghasilkan target komunikasi yang diharapkan
Selain pilihan kata yang tepat, efektifitas komunikasi menuntut persyaratan yang harus dipenuhi oleh pengguna bahasa, yaitu kemampuan memilih kata yang sesuai dengan tuntutan komunikasi.
Syarat-syarat ketetapan pemilihan kata:
  • Membedakan makna denotasi dan konotasi dengan cermat, denotasi yaitu kata yang bermakna lugas dan tidak bermakna ganda. Sedangkan konotasi dapat menimbulkan makna yang bermacam-macam.
  • Membedakan secara cermat makna kata yang bersinonim
  • Membedakan makna kata secara cermat kata yang mirip ejaannya
  • Tidak menafsirkan makna secara subjektif berdasarkan pendapat sendiri, jika pemahaman belum dapat dipastikan, pemakai kata harus menemukan makna yang tepat dalam kamus
  • Menggunakan imbuhan asing (jika diperlukan) harus memahami maknanya secara tepat
  • Menggunakan kata-kata idiomatic berdasarkan pasangan yang benar
  • Menggunakan kata umum dan khusus secara cermat
  • Menggunakan kata yang berubah makna dengan cermat
  • Menggunakan dengan cermat kata bersinonim; berhomonim; dan berhomografi
  • Menggunakan kata abstrak dan konkret secara cermat
3. Kesesuaian Kata

Kesesuaian kata dibutuhkan agar tidak merusak makna, suasana, dan situasi yang hendak ditimbulkan, dengan syarat kesesuaiannya:

1) Mengunakan ragam baku dengan cermat dan tidak mencampuradukkan penggunaannya dengan kata tidak baku yang hanya digunakan dalam pergaulan, misalnya: hakikat (baku), hakekat (tidak baku), konduite (baku), kondite (tidak baku)

2) Menggunakan kata-kata yang berhubungan dengan nilai sosial dengan cermat, misalnya: kencing (kurang sopan), buang air kecil (lebih sopan), pelacur (kasar), tunasusila (lebih halus)

3) Menggunakan kata berpasangan (idiomatik) dan berlawanan makna dengan cermat, misalnya: sesuai bagi (salah), sesuai dengan (benar), bukan hanya …. melainkan juga (benar), bukan hanya …. tetapi juga (salah)

4) Menggunakan kata dengan nuansa tertentu, misalnya: berjalan lambat, mengesot, dan merangkak, merah darah, merah hati

5) Menggunakan kata ilmiah untuk penulisan karangan ilmiah, dan komunikasi non ilmiah (surat-menyurat, diskusi umum) menggunakan kata popular, misalnya: argumentasi (ilmiah), pembuktian (popular), psikologi (ilmiah), ilmu jiwa (popular)

6) Menghindarkan penggunaan ragam lisan (pergaulan) dalam bahasa tulis, misalnya: tulis, baca, kerja (bahasa lisan), menulis, menuliskan, membaca, membacakan, bekerja, megerjakan (bahasa tulis)

Ketepatan kata terkait dengan konsep, logika, dan gagasan, demi menghasilkan kepastian makna. Sedangkan kesesuaian kata menyangkut kecocokan antara kata yang digunakan dengan situasi yang hendak dibangun. Memilih kata yang tepat untuk menyampaikan gagasan ilmiah menuntut penguasaan:

1) Keterampilan yang tinggi terhadap bahasa yang digunakan
2) Wawasan dalam bidang ilmu yang ditulis
3) Konsitensi penggunaan sudut pandang, istilah, baik dalam makna maupun bentuk agar tidak terjadi salah penafsiran
4) Syarat ketepatan kata
5) Syarat kesesuaian kata


Fungsi diksi:
1) Melambangkan gagasan yang diekspresikan secara verbal
2) Membentuk gaya ekspresi gagasan yang tepat (sangat resmi, resmi, tidak resmi) sehingga menyenangkan pendengar atau pembaca
3) Menciptakan komunikasi yang baik dan benar
4) Menciptakan suasana yang tepat
5) Mencegah perbedaan penafsiran
6) Mencegah salah pemahaman
7) Mengefektifkan pencapaian target komunikasi


4.PERUBAHAN MAKNA
Bahasa berkembang sesuai dengan tuntutan masyarakat pemakainya. Pengembangan diksi terjadi pada kata.Namun,hal yang berpengaruh pada penyusun kalimat,peragraf dan wacana.Pengembangan tersebut  dilakukan untuk memenuhi kebutuhan komunikasi.Perkembangan dapat menimulkan perubahan yang mencangkup perluasan, penyempitan, pembatasan, pelemahan, pengaburan, dan pergeseran makna.

Faktor penyebaba perubahan makna :

a) Kebahasaan
Perubahan makna yang di timbulkan oleh factor kebahasaan meliputi perubahan  intonasi, bentuk kata, bentuk kalimat.
• Perubana intonasi adalah perubahan makna yang di akibatkan oleh perubahan nada,irama dan tekanan.

Contoh :
Paman teman say belum menikah.
Paman, teman saya belum menikah.
Paman, teman, saya belum menikah.
Paman, teman, saya, belum menikah.

• Perubahan struktur frasa : kaleng susu ( kaleng bekas tempat susu)
   Susu kaleng (susu yang dikemas dalam kaleng)
• Perubahan bentuk kata adalah  perubahan makna yang di timbulkan oleh perubahan bentuk.
Misalnya,tua( tidak muda) jika ditambah awalan ke menjadi tua.
• Kalimat akan berubah makna jika struturnya berubah.
Misalnya,Ibu Rina menyerahkan laporan itu lantas di bacanya.

b) Kesejarahan
  Kata perempuan pada zaman penjajahan Jepang digunakan untuk menyebut  perempuan penghibur.Orang menggantinya dengan kata wanita.Kini,setelah orang melupakan peristiwa tersebut menggunakannnya kembali dengan  pertimbangan, kata perempuan lebih mulia disbanding wanita.

c)  Kesosialan
Masalah social berpengaruh terhadap perubahan makna.Kata gerombolan  pada mulanya bermakna orang yang  berkumpul atau kerumun.

d) Kejiwaan
Perubahan makna karena factor kejiwaan di timbulkan oleh pertimbangan : a.Rasa takut,
b.Kehalusan ekspresi,dan

c.Kesopanan.
Seperti pada halnya kata dirumahkan untuk mengganti dipecat. Kata korupsi diganti dengan menyalah gunakan jabatan. Pemakaian kata-kata tersebut dimaksudkan orang agar tidak menimbulkan masalah kejiwaan, misalnya: menderita, tidak takut, atau tidak menentang secara psikologis.

Perhatikan contoh di bawah ini:

a. Tabu
Germo disebut hidung belang
Koruptor disebut penyalahgunaan jabatan

b. Kehalusan
Bodoh disebut kurang pandai
Malas disebut kurang rajin

c. Kesopanan
Ke kamar mandi disebut ke belakang
Gagal disebut kurang berhasil

e) Bahasa Asing
Perubahan makna karena faktor bahasa asing, misalnya kata tempat orang terhormat diganti VIP. Kata symposium pada mulanya bermakna orang yang minum-minum di restoran dan kadang-kadang ada acara dansa yang diselingi diskusi. Dewasa ini kata symposium sudah dititikberatkan pada acara diskusi yang membahas masalah dalam bidang ilmu tertentu. Contoh lainnya:
Jalur khusus busway disebut busway
Kereta api satu rel disebut monorel

f) Kata Baru
Kretavitas pemakaian bahasa berkembang terus sesuai dengan kebutuhannya. Kebutuhan tersebut memerlukan bahasa sebagai alat ekspresi dan komunikasi. Kreativitas baru dihadapkan pada kelangkaan makna leksikal, yang mendasari bentuk inflesi suatu kata, atau istilah baru yang mendukung pemikirannya. Kebutuhan tersebut mendorong untuk menemukan isitilah baru bagi konsep baru yang ditemukannya. Misalnya: chip, microftword, server, download, cd, dvd, chetting, infokus, dan sebagainya. Dalam bahasa Indonesia terdapat bahasa asing yang diindonesiakan, ada yang dipertahankan keasingannya karena keinternasionalannya, dan kata asing yang cukup dengan penyesuaian ejaannya.
Perhatikan penggunaan kata berikut
Jaringan kerja untuk menggantikan network
Justifikasi untuk menggantikan pembenaran
Kinerja menggantikan performance
Klarifikasi untuk menggantikan clarification
Konfirmasi untuk menggantikan confirmation

5. DENOTASI dan KONOTASI
 Makna denotasi dan konotasi dibedakan berdasarkan ada atau tidaknya nilai rasa. Kata denotasi lebih menekankan tidak adanya nilai rasa, sedangkan konotasi bernilai rasa kias.

 Makna denotasi lazim disebut 1) makna konseptual yaitu makna yang sesuai dengan hasil observasi (pengamatan) menurut penglihatan, penciuman, pendengaran, perasaan, atau pengalaman yang berhubungan dengan informasi.(data)factual dan objektif. 2)makna sebenarnya, umpamanya, kata kursi yaitu tempat duduk yang berkaki empat (makna sebenarnya). 3)makna lugas yaitu makna apa adanya, lugu, polos, makna sebenarnya, bukan makna kias.

 Konotasi berarti makana kias, bukan makan sebenarnya. Sebuah kata dapat berbeda dari satu masyarakat ke masyarakat lain, sesuai dengan pandangan hidup dan norma masyarakat tersebut. Mkana konotasi dapat juga berubah dari waktu ke waktu. Dlaam kalimat “Megawati dan Susilo Bmabang Yudhoyono berebut kursi presiden.” Kalimat tersebut tidak menunjukan makana bahwa Megawati dan Susilo Bambang Yudhoyono tarik-menarik kursi karena kata kursi berarti jabatan presiden.

 Sebuah kata dapat merosot nilai rasanya karena penggunaannya tidak sesuai dengan makna denotasinya. Umpamanya, kata kebijaksanaan yang bermakna denotasi kelakuan atau tindakan arif dalam menghadapi suatu masalah menjadi negatif konotasinya akibat kasus-kasus tertentu, mislanya :

(1) Pengemudi kendaraan bermotor ditilang karena melanggar peraturan lalu lintas minta kebijaksanaan kepada petugas agar tidak diperkarakan (damai di tempat).

(2) Orang tua murid yang anaknya tidak naik kelas mohon kebijaksanaan kepada kepala sekolah agar bersedia menolong anaknya (menaikkan kelas).

(3) Untuk mengurus surat-surat di kantor pemerintah  seringkali kita pun diminta memberi kebijaksanaan oleh sang petugas agar urusan tidak terlambat (memberikan uang suap).
Dapat ditegaskan bahwa makan akata konotatif cenderung bersifat subjektif. Makna kata ini lebih banyak digunakan dalam situasi tidak formal, misalnya: dalam pembicaraan yang bersifat ramah tamah, diskusi tidak resmi, kekeluargaan, dan pergaulan.

Perhatikan contoh berikut ini.
(1) Laporan Anda harus diserahkan selambat-lambatnya 1 Juni 2004. (denotasi)
(2) Laporan Anda bekum memmenuhi sasaran. (konotasi)
(3) Laporan Anda sudah mencapai target yang ditentukan, menggunakan data yang akurat, menyerahkan hasil tepat waktu, dan memberikan masukan yang sangat diperlukan bagi kebijakan selanjutnya. (denotasi)
(4) Penulis memnajatkan puji syukur atas selesianya laporan ini. (konotasi)
(5) Kepada Tuhan penulis mengucapkan puji syukur atas penyelesian laporan ini dengan baik dan tepat waktu. (denotasi)


6. SINONIM
  Sinonim ialah persamaan makna kata. Artinya, dua kata atu lebih yang berbeda bentuk,ejaan,dan pengucapannya, tetapi bermakna sama. Misalnya, wanita bersinonim dengan perempuan, makna sama tetapi berbeda tulisan maupun pengucapannya. Dalam kalimat kedua kata tersebut dapat dipertukarkan. Tradisi di daerah itu memasak dikerjakan oleh perempuan. Kata perempuan dapat diganti dengan wanita. Tradisi di daerah itu memasak dikerjakan oleh wanita.
  
Perhatikan contoh kata-kata bersinonim dan hampir bersinonim berikut ini. Cermatilah, dapatkah kata-kata tersebut dipertukarkan penggunaannya dalam sebuah kalimat? Jika tidak, kata-kata tersebut tidak bersinonim sepenuhnya.
(1) Hamil,bunting
(2) Hasil, produksi, prestasi, keluaran
(3) Kecil, mikro, minor, mungil
(4) Korupsi, mencuri
(5) Strategi,teknik, taktik, siasat, kebijakan
(6) Termianal, halte, perhentian, stasiun, pangkalan, pos

Jadi, kesinoniman mutlak jarang ditemukan dalam perbendaharaan kata bahasa Indonesia. Ketidakmungkian menukar sebuah kata dengan kata lain yang bersinonim atau hampir bersinonim disebabkan oleh berbagai alasan : waktu, tempat, kesopanan, suasana batin, dan nuansa makna.
(1) Kegiatan, mislanya : aman-tenteram, matahari-surya.
(2) Kesopanan, misalnya : saya, aku.
(3) Nuansa makna, mislanya : melihat, melirik, melotot, meninjau, mengintip; penginapan, hotel, motel, losmen; mantan, bekas.
(4) Tempat atau daerah, mislanya kata : sya, beta
(5) Waktu, misalnya, pasar hampir bersinonim dengan konsumen atau pelanggan. Pasar pada masa lalu berarti tempat orang berjual-beli. Sedangkan pasar pada situasi masa sekarang, mengalami perluasan bukan hanya tempat berjual-beli, tetapi juga pemakai produk, konsumen, atau pelanggan.

Dua kata bersinonim atau hampir bersinonim tidak digunakan dalam sebuah frasa. Misalnya : adalah merupakan, agar supaya, bagi untuk, adalah yaitu,yth. Kepada. Dlam sebuah kalimat, penggunaan kedua kata tersebut misalnya:
(1) Kucing adalah merupakan binatang buas. (salah)
(2) Kepada Yth. Bapak Nurhadi. (salah)
(3) Ia bekerja keras agar supaya sukses. (salah)

Penggunaan kata bersinonim dalam sebuah frasa tersebut slah, seharusnya:
(1) a. Kucing adalah binatang buas. (benar)
      b. Kucing merupakan binatang buas. (benar)
(2)  a. Kepada Bapak Nurhadi. (benar)
       b. Yth. Bapak Nurhadi. (benar)
(3)  a. Bagi saya, pendapat itu salah. (benar)
       b. Untuk saya, pendapat itu salah. (benar)

7. Idiomatik
  Idiomatik adalah penggunaan kedua kata yang berpasangan. Misalnya : sesuai dengan, disebabkan oleh, berharap akan, dan lain-lain. Pasangan idiomatik kedua kata seperti itu tidak dpat digantikan dengan pasangan lain.

Contoh :
(1) Bangsa Indonesia berharap akan tampilnya seorang presiden yang mampu mengatasi berbagai kesulitan bangsa.
(2) Karyawan itu bekerja sesuai dengan aturan perusahaan.
(3) Kekacauan sosial di berbagai tempat disebabkan oleh tidak meratanya keadilan dan kemakmuran.

Kata berharap akan (kalimat 1) tidak dapat diganti oleh mengharapkan akan atau berharap dengan. Pasangan kedua kata sesuai dengan (kalimat 2) tersebut tidak boleh diganti pasangan lain. Misalnya : sesuai pada, disebabkan karena, mengharapkan akan. Kata disebabkan oleh (kalimat 3) tidak dapat diganti disebabkan karena atau disebabkan dengan.


8. Kata Tanya: Di Mana, Yang Mana, Hal Mana
 Kata Tanya hanya digunakan untuk menanyakan sesuatu jika tidak menanyakan sesuatu tidak digunakan (digunakan berarti salah). Kata-kata Tanya yang sering digunakan secara salah, mislanya: yang mana, di mana, dan hal mana.

 Perhatikan penggunaan kata0kata tersebut dalam kalimat berikut ini.

(1) Laboratorium komputer hal mana sangat diperlukan untuk mengembangkan kreativitas dan komunikasi para siswa SMP itu menjadi pemacu penegembangan kecerdasan para siswanya. (salah)

(2) Sahabatku yang mana sangat baik kepadaku ketika di SMP dulu sekarang menjadi pengusaha yang sukses. (slah)

(3) SMP itu di mana kami sekolah dulu disumbangnya dengan perlengkapan laboratorium komputer beberapa hari yang laly. (salah)

(1)  Laboratorium komputer itu sangat diperlukan untuk mengembangkan kreativitas dan komunikasi para siswa SMP sehingga memacu lecerdasan siswanya. (benar)

(2) Sahabatku yang sangat baik kepadaku ketika di SMP dulu sekarang menjadi pengusaha sukses. (benar)

(3) SMP sekolahku itu disumbangnya dengan perlengkapan laboratorium komputer beberapa hari yang lalu. (benar)


9. Homonim, homofon, homograf

9.1 Homonim
 Kata homonym berasal dari bahasa homo berarti sama dan nym berarti nama. Homonim dapat diartikan sama nama, sama bunyi, sebunyi, tetapi berbeda makna.
Contoh :

(1) Syah = raja
      Syah = kepala

(2) Buku = ruas
      Buku= kitab

(3) Bandar = pelabuhan
      Bandar = parit
      Bandar = pemegang uang dalam perjudian

9.2 Homofon
 Homofon terdiri atas homo berarti sama dan foni 9phone) berarti bunyi atau suara. Homofoni mempunyai pengertian sama bunyi, berbeda tulisan, dan berbeda makna.
Kata lain yang berhomonim :

(1) Halaman (halaman buku, halaman rumah)

(2) Baku (bahasa baku berarti bahasa standar, baku hantam berarti saling hantam; baku berarti standard, saling)

(3) Bank (tempat menyimpan/mengutang uang), bang(berarti sebutan kakak laki-laki)


9.3 Homograf
 Homograf terdiri dari kata berarti sama dan graf  (graph) berarti tulisan. Homograf ditandai oleh kesamaan tulisan, berbeda bunyi, dan berbeda makna.
Contoh :

(1) Ia makan apel (buah) sesudah apel (upacara) di lapangan

(2) Pejabat teras (pejabat utama) itu duduk santai di teras (lantai depan rumah) sambil membaca berita di Koran tentang pertanian di daerah teras (bidang tanah datar yang miring di perbukitan).

(3) Polisi serang (mendatangi untuk meyerang) penjahat di Kabupaten Serang (nama tempat). Serangan jantung (penyakit jantung yang mendadak) melanda orang tua yang tidak pernah berolah raga.


10. Kata Abstrak dan Kata Konkret

 Kata abstrak mempunyai referensi berupa konsep, sedangkan kata konkret mempunyai referensi objek yang dapat diamati.

 Pemakaian dalam penulisan bergantung pada jenis dan tujuan penulisan. Karangan berupa deskripsi fakta menggunakan kata-kata konkret, seperti : hama tanaman penggerek, penyakit radang paru-paru, virus HIV. Tetapi, karangan berupa klasifikasi atau generalisasi sebuah konsep menggunakan kata abstrak, seperti : pendidikan usia dini, bahasa pemrograman, high text markup language (HTML). Uraian sebuah konsep biasanya diawali dengan pembahasan umum yang menggunakan kata abstrak dilanjutkan dengan detail yang menggunakan kata konkret.

Perhatikan contoh berikut ini :

(1) APBN RI mengalami kenaikan lima belas persen. (kata konkret)

(2) Kebaikan (kata abstrak) seseorang kepada orang lain bersifat abstrak (tidak berwujud atau berbetuk).

(3) Kebenaran (kata abstrak) pendapat itu tidak terlalu tampak.


11. Kata Umum dan Kata Khusus
 Kata umum dibedakan dari kata khusus berdasarkan ruang lingkupnya. Makin luas ruang lingkup suatu kata, makin umum sifatnya. Sebaliknya, makna kata menjadi sempit ruang lingkupnya makin khusus sifatnya.

 Makin umum suatu kata makin besar kemungkinan terjadi salah paham atau perbedaan tafsiran.  Sebaliknya, makin khusus, makin smepit ruang lingkupnya, makin sedikit kemungkinan terjadi salah paham. Dengan kata lain, semakin khusus kata yang dipakai, pilihan kata semakin tepat.

Perhatikan contoh berikut ini :

(1) Kata umum : melihat
      Kata khusus : melotot, melirik, mengintip, menatap, memandang.

(2) Kata umum : berjalan
       Kata khusus : tertatih-taih, ngesot, terseok-seok, langkah tegap.

(3) Kata umum : jatuh
      Kata khusus : terpeleset, terjengkang, tergelincir, tersungkur, terjembab, terperosok,  terjungkal.

12. Peristilahan
 Istilah adalah kata atau gabungan kata yang dengan cermat mengungkapkan suatu makna, konsep, proses, keadaan, atau sifat yang khas dalam bidang tertentu. Ada dua macam istilah : (1) istilah khusus; dan (2) istilah umum. Istilah khusus adalah kata yang pemakaiannya dan maknanya terbatas pada suatu bidang tertentu, misalnya cakar ayam (bangunan), agregas(ekonomi); sedangkan istilah umum ialah kata yang menjadi unsur bahasa umum, misalnya : ambil alih, daya guna, kecerdasan, dan tepat guna merupakan istilah umum, sedangkan radiator, pedagogi, androgogi, panitera, sekering, dan atom merupakan istilah khusus. Istilah dalam bahasa Indonesia bersumber pada : kosa kata umum bahasa Indonesia, kosa kata bahasa serumpun, dan kosa kata bahasa asing.

 Proses pembentukan istilah dilakukan melalui pemadanan atau penerjemahan, misalnya busway menjadi jalur bus; penyerapan kosa kata asing, misalnya camera menjadi kamera; dan gabungan penerjemahan dan penyerapan, misalnya subdivision menjadi subbagian.

12.1 Sumber Istilah

12.1.1 Istilah Indonesia
 Kata atau istilah dalam bahasa Indonesia dapat dijadikan sumber istilah jika memenuhi salah satu atau lebih syarat-syarat bahwa istilah yang dipilih adalah kata atau frasa: (1) paling tepat untuk mengungkapkan konsep yang dimaksudkan. (2) paling singkat di antara pilihan yang tersedia, (3) berkonotasi baik, (4) sedap didengar,dan (5) bentuknya seturut dengan kaidah bahasa Indonesia (Pusat Bahasa Pendidikan Nasional, Pedoman Pembentukan Istilah, 2005:2)/

12.1.2 Istilah Nusantara
 Jika dalam bahasa Indonesia tidak ditemukan istilah yang tepat yang dapat mengungkapkan makna konsep, prose, keadaan, atau sifat yang dimaksudkan. Istilah dapat dimabil dari istilah Nusantara, baik yang lazim maupun yang tidak lazim, asal memenuhi syarat, misalnya: Garuda  Pancasila, bineka tunggal ika, wayang, sawer, dan lain-lain. (Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Pedoman Pembentukan Istilah, 2005:4).

12.1.3 Istilah Asing
 Istilah baru dapat dilakukan dengan pemadanan melalui penerjemahan atau penyerapan istilah asing. Penerjemahan perlu memperhatikan kesamaan dan kesepadanan makna konsepnya, misalnya: network-jaringan kerja, jejaring; medical treatment bertai pengobatan, brother-in-law berarti abang/adik ipar,(begrooting) pist berrati mata anggaran.
 Penyerapan istilah asing dilakukan jika dalam istilah Indonesia dan istilah nusnatara tidak lagi dapat ditemukan. Istilah asing diserap jika dapat (1) meningkatkan ketersalinan bahasa asing dan bahasa Indonesia secara timbale balik, (2) mempermudah pemahamaan teks asing oleh pembaca Indonesia, (3)lebih singkat dibandingkan dengan terjemahan dalam bahasa Indonesia, (4)mempermudah kesepakatan antarpakar jika istilah Indonesia terlampau banyak sinonimya, atau(5) lebih tepat karena tidak mengandung konotasi buruk. Penyerapan istilah asing dengan dilakukan dengan: (1) penyesuaian ejaan dan lafal, mislanya (disain) desain (desain), (2) tanpa penyesuaian ejaan, tetapi dengan penyesuaian lafal, misalnya bias (baies) bias(bias), (3) tanpa penyesuaian ejaan dan lafal, mislanya status quo, in vitro, (4) tanpa penyesuaian ejaan dan lafal, misalnya golf,internet.

12.1.4 Perekeciptaan
 Para ahli dalam berbagai bidang keilmuan (ilmuwan, budayawan, seniman) pencetus ide, konsep, sistem, dan lain-lain yang tidak pernah ada sebelumnya dapat dikategorikan sebagai perekecipta. Untuk menamai hasil pemikiran tersebut dapat menciptakan istilah baru sesuai dengan lingkungan dan corak keilmuannya, misalnya : pondasi cakar ayam, sasra bahu(dalam bidang bangunan), dan agrowisata(wisata pertanian) (Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. Pedoman Pembentukan Istilah,2005:6-21)

12.2 Tata Bahasa Peristilahan
 Pembentukan istilah perlu memperhatikan morferm peristilahan yaitu kata imbuhan yang digunakan dalam pembentukan istilah.
a. Istilah bentuk dasar dipilih di antara kelas kata utama, seperti nomina, verba, adjketiva, dan numeralia, misalnya : kaidah(rule), keluar ( out), kenyal (elastic), gaya empat (four force).
b. Istilahan bentuk berafiks disusun dari bentuk dasar dengan penambahan prefix, infiks, sufiks, atau konfiks seturut kaidah pembentukan bahasa Indonesia, misalnya hantar menjadi penghantar atau hantaran, sabut menjadi serabut, bineka menjadi kebinekaan.
(1) Paradigma bentuk berafiks ber-, misalnya : ber-tani menjadi bertani, petani, pertanian.
(2) Paradigma bentuk berafiks me-, misalnya : me-baca menjadi membaca, pembaca, pemabacaan; meng-ganda menjadi menggandakan, pemberdaya, pemberdayaan, mem-persatukan, pemersatu, pemersa-tuan, persatuan, ke-bermakna-an menjadi kebermanaan.

c. Istilah bentuk ulang :
1) Bentuk ulang utuh, misalnya : paru-pari, ubur-ubur, undur-undur.
2) Bentuk ulang suku awal, misalnya : jarring menjadi jejaring, tangga menjadi tetangga.
3) Bentuk ulang berafiks, misalnya : daun menjadi dedaunan, pohon menjadi pepohonan
4) Bentuk ulang salin suara, misalnya : sayur menjadi sayur-mayur.
d. Istilah bentuk majemuk atau kompositum :
Istilah ini dibentuk dengan penggabungan dua bentuk atau lebih yang menghasilkan satuan leksikal baru.
(1) Penggabungan bentuk bebas dan bentuk bebas, misalnya: garis lintang.
(2) Penggabungan bentuk (dasar) bebas dan bentuk terikat, mislanya : sistem penghijauan.
(3) Penggabungan bentuk berafiks dan bentuk berafiks, misalnya : penelitian berkelanjutan, pembangunan berkelanjutan.
(4) Penggabungan bentuk terikat dan bentuk bebas, misalnya : adi-daya menjadi adidaya, catur-catur menjadi caturwarga, dwi-bahasa menjadi dwibahasa, maha-siswa menjadi amhasiswa, non-teknik menjadi nonteknik, panca-sila menjadi pancasila, swa-sembada menjadi swasembada,tuna-karya menjadi tunakarya
(5) Penggabungan bentuk terikat, mislanya : dwi + tunggal menjadi dwitunggal, dasa + warsa menjadi dasawarsa.
(6) Istilah bentuk analogy : pemebnetukan istilah ini bertolak dari pola bentukn istilah yang sudah ada, seperti pegulat, juru musi, berdasarkan pola ini terbentuklah berbagai istilah lain, misalnya : pegulat-pegolf, juru mudi-juru teknik, pramuniaga-pramuwisma.
(7) Istilah bentuk singkatan : istilah bentuk yang penulisannya diperpendek menurut tiga cara berikut :
(1) Pembentukan berdasarkan satu huruf atau lebih yang dilisankan sesuai dengan istilah lengkapnya, misalnya : cm (dibaca sentimeter), l dibaca (liter).
(2) Pembentukan berdasarkan bentuk tulisannya yang terdiri satu huruf atau lebih yang dillisankan huruf demi huruf, misalnya : KKN (Kuliah Kerja Nyata) dilisankan Ka-Ka-En
(3) Istilah yang sebagian unsurnya ditinggalkan, misalnya : promo berasal dari promosi, demo berasal dari demonstransi, bulanan berasal dari majalah bulanan.
(8) Istilah bentuk akronim: pemendekan bentuk amjemuk yang berupa gabungan huruf awal suku kata, misalnya : asi dari kata sir susu ibu, gabungan suku kata, misalnya: rudal dari kata peluru kendali. (Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Pedoman Umum Pembentuk-an Istilah, 2005:23-38).

12.3 Semantik Peristilahan
 Selain aspek ketatabahasaan, istilah dibentuk berdasarkan aspek semantik peristilahan (makna). Untuk itu, perngkata kata peristilahan disusun dengan mengacu pada paradigm pembentukan yang dilakukan secara konsisten sehingga menghasilkan (1) sinonim, misalnya: gulma= tanaman penggangu, gambut(Banjar) peat(Inggris), absorb=serap; absorbate=zat terserap; absorbent=zat penyerap, absorber=penyerap; absorptivity=keabsortifan=kedayaserpan=daya serap jenis; absortive, absorbent=absortif, berdaya serap; absortance, ansorbancency=daya serap, absorbans; absorbability= keterserapan;absorbilitas, absorbtion = penyerapan, serapan, absorbsi. (2) Istilah baku yang diutamakan di samping istilah sinonim, misalnya : absorb (Inggris) menjadi serap (dalam istilah yang diutamakan), absorb (dalam istilah sinonim). (Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Pedoman Pemebntukan Istilah, 2005 :40-41).

13.  Definisi
Definisi mempunyai beberapa pengertian, yaitu : 1) kata, frasa, atau kalimat yang mengungkapkan makna, keterangan, atau ciri utama dari orang, benda, proses, atau aktivitas; 2) batasan arti. 3) rumusan tentang ruang lingkup dan ciri-ciri suatu konsep yang menjadi pokok pembicaraan atau studi (KBBI). 4) uraian pengertian yang berfungsi membatasi objek, konsep, dan keadaan berdasarkan waktu dan tempat suatu kajian.

Ciri-ciri umum definisi:
1) Terdapat unsur kata atau istilah yang didefinisikan,lazim disebut definiendum.
2) Terdapat unsur kata, frasa, atau kalimat yang berfungsi menguraikan pengertian (definiens).
3) Pilihan kata : (1) definiens dimulai dengan kata benda, didahului kata ada-lah. Misalnya: a) Cinta adalah perasaan setia, bangga, dan prihatin. b) Mahasiswa adalah pelajar di perguruan tinggi. (2) definiens dimulai selain kata benda, didahului kata yaitu. Misalnya :  a) Cinta yaitu merasa setia, bangga, dan prihatin. b) Setia yaitu merasa terdorong untuk mengakui, memahami, menerima, menghargai, menghormati, mematuhi, dan melestarikan. (3) Definiens memberikan pengertian rupa atau wujud diawali kata merupakan. Misalnya : Mencintai merupakan tindakan terpuji untuk mengakhiri konflik. (4) Definiens berupa sinonim didahului kata ialah. Misalnya : a) Cinta ialah kasih saying. b) pria ialah laki-laki.

13.1 Jenis Definisi
Definisi dapat dibedakan atas: definisi nominal, definisi formal, definisi personal, definisi kerja atau definisi operasional, dan definisi luas.

13.1.1 Definisi Nominal
Definisi nominal berupa pengertian singkat. Definiens pada jenis definisi jenis ini ada tiga macam, yaitu
1) Sinonim atau padanan, contoh: manusia ialah orang, perempuan ialah wanita.
2) Terjemahan dari bahasa lain, contoh: kinerja ialah performance, pengembang ialah developer.
3) Asala-usul sebuah kata, contoh: psikologi berasal dari kata psyche berarti jiwa, dan logos berarti ilmu, psikologi ialah ilmu jiwa.

13.1.2 Definisi Formal
Definisi formal disebut juga definisi terminologis, yaitu definisi yang disusun berdasarkan logika formal yang terdiri tiga unsur. Struktur definisi ini berupa kelas, genus, dan pembeda(differensiasi). Ketiga unsur tersebut harustampak dalam definiens. Struktur formal diawali dengan klarifikasi, diikuti dengan menentukan kata yang akan dijadikan definiendum, dilanjutkan dengan menyebutkan genus, dan diakhiri dengan menyebutkan kata-kata atau deskripsi pembeda. Pembeda harus lengkap dan menyeluruh sehingga benar-benar menunjukan pengertian yang sangat khas dan membedakan pengertian dari kelas yang lain.
Contoh :
Manusia adalah makhluk yang berakal budi
Hewan adalah makhluk yang hidup berdasarkan naluri dan insting.
Mahasiswa adalah pelajar di perguruan tinggi.

Syarat-syarat definisi formal:
1) Definiendium dan definiens bersifat konterminus, mempunyai makna yang sama.
2) Definiendium dan definiens bersifat konvertabel, dapat dipertukarkan tempatnya.
3) Definiens tidak berupa sinonim, padanan, terjemahan, etiomologi, bentuk popular, atau pengulangan definiendum.
Misalnya:
1) Manusia adalah orang yang berakal budi (salah).
2) Manusia adalah insane yang berakal budi (salah).
3) Manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna (benar).
4) Definiens bukan kiasan, perumpamaan, atau pengandaian.
Misalnya:
Manusia adalah ibarat makhluk yang selalu ingin dekat kepada pencipta-Nya (salah).
Manusia adalah bagaikan hewan yang tidak pernah merasa puas (salah).
Masusia adalah ciptaan Tuhan yang diperintahkan untuk beribadah kepada-Nya. (benar)
5) Definiens menggunakan makna parallel dengn definiendum, tidak menggunakan kata di mana, yang mana, jika, misalnya, dan lain-lain.
Misalnya:
Manusia adalah makhluk yang mana merupakan ciptaan Tuhan (salah).
Pendidikan adalah proses pendewasaan peserta didik melalui pengajaran dan pelatihan. (benar)
6) Definiens menggunakan bentuk positif, bukan kalimat negatif, tanpa kata negatif: tidak, bukan.
Misalnya:
Pendidikan kewarganegaraan tidak lain adalah pembinaan pelajar agar menjadi warga Negara yang baik sehingga mampu hidup bersama dalam masyarakat, baik sebagai anggota keluarga, masyarakat, maupun warga negara. (salah)
Pendidikan kewarganegaraan adalah pembinaan pelajar agar menjadi warga Negara yang baik sehingga mampu hidup bersama dalam keluarga, masyarakat, dan Negara. (benar)
7) Pembeda (diferensiasi) pada definiens harus mencukupi sehingga mengahasilkan makna yang tidak bias (samar) dengan kelas lain.
Misalnya:
1) Manusia adalah ciptaan Tuhan. (pembeda tidak lengkap)
 Hewan adalah ciptaan Tuhan. (pembeda tidak lengkap)
2) Manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna. (benar)

13.1.3 Definisi Operasional
 Definisi operasional adalah batasan pengertian yang dijadikan pedoman untuk melakukan suatu kegiatan atau pekerjaan, misalnya penelitian. Oleh karena itu, definisi ini disebut juga definisi kerja karena dijadikan pedoman untuk melaksanakan suatu penelitian atau pekerjaan tertentu. Definisi ini disebut juga definisi subjetif karena disusun berdasarkan keinginan orang yang melakukan pekerjaan.

Ciri-ciri definisi operasional:
1) Mengacu pada target pekerjaan yang hendak dicapai.
2) Berisi pembatasan konsep, tempat, dan waktu.
3) Bersifat aksi, tindakan,atau pelaksanaan suatu kegiatan.

Contoh :
1) Penelitian ini merupakan upaya untuk mengetahui pengaruh indeks prestasi kumulatif terhadap kecerdasan mahasiswa Jurusan Ekonomi Universitas Indonesia Angkatan 2004.
2) Prestasi mahasiswa adalah indeks prestasi kumulatif yang diperoleh sejak awal kuliah sampe akhir perkuliahan.
3) Prestasi atlet bulutangkis adalah jumlah medali yang diperoleh pada setiappertandingan sejak awal karier bermain bulu tangkis sampai akhir,

13.3.4 Definisi paradigmatis
Definisi paradigmatis bertujan untuk memengaruhi pola berpikir orang lain. Defini jenis ini di susun berdasarkan pendekatan nilai-nilai tertentu.

Ciri-ciri definisi paradigmatis:
1) Disusun berdasarkan paradigma (pola pikir) nilai-nilai tertentu.
2) Berfungsi untuk mengetahui sikap, perilaku, atau tindakan orang lain.
3) Bertujuan agar pembaca mengubah sikap, sesuai dengan definisi.
4) Berhubungan dengan nilai-nilai tertentu. misalnya: bisnis, etika, budaya, ajaran, falsafah, adat istiadat, pandangan hidup .

5) Fungsi definisi  paradigmatis:
• Untuk mengembangkan pola berpikir.
• Memengaruhi sikap pembaca atau pendengan.
• Mendukung argumentasi atau pembuktian.
• Memberikan efek persuasif.
Contoh:
1) Globalisasi bisnis adalah usaha lebih banyak melampaui batas-batas negara untuk mendapatkan uang, barang, dan konsumen.
2) Pendidikan adalah upaya mendewasakan anak didik.
3) Budaya merupakan modal pengembang kreatifitas bisnis yang bernilai ekonomi tinggi.
4) Kekayaan laut merupakan yang  dapat memenuhi dua pertiga kebutuhan.

13.1.5 Definisi Luas
Definisi Luas adalah batasan pengertian yang sekurang-kurangnya terdiri atas satu paragraf. Definisi ini hanya berisi satu gagasan yang terdefinisikan.
Ciri-ciri definisi luas:
1) Terdiri sekurang-kurangnya satu paragraf.
2) Berisi satu gagasan yang berupa definiendum.
3) Tidak menggunakan kata kias.
4) Setiap kata dapat dibuktikan atau diukur kebenarannya.
5) Menggunakan penalaran yang jelas.
Contoh:
Globalisasi bisnis adalah usaha lebih banyak melampaui batas-batas negara untuk mendapatkan uang, barang, dan konsumen.Globalisasi ini dilakukan dengan melakukan konsentrasi penjualan produk ke negara lain. Kegiatan ini dilakukan dengan menjalin kerja sama antarproduk, antarpengusaha, dan antarnegara. Misalnya: imbal beli, patungan, murni mengekspor produk.


14. Kata Baku dan Nonbaku

Salah satu penanda kata atau istilah baku adalah penulisannya. Cermatilah penulisan kata baku dan tidak baku berikut ini.
Baku  Tidak baku Baku Tidak baku
Aerobik erobik kompleks komplek
Alquran  Al Quran konduite kondite
Andal handal kongres konggres
Anutan  panutan koprs korp
Arkais arkhais kualitas kwalitas
Baut baud kuesioner kwesioner
Ekstrem ekstrim kurva kurve
Geladi gladi manajemen  managemen
Hakikat  hakekat metode metoda
Hierarki hirarki prangko perangko
Imbau himbau psikotes psikotest
Insaf insyaf sutera sutra
Jadwal jadual teknik tehnik
Karier karir terampil trampil
Kelola klola wasalam  wassalam

14.1 Kata dan Frasa Penghubung Antarkalimat diikuti Koma
Kata penghubung antarkalimat diikuti koma (,). Tanpa koma, penulisan dinyatakan salah. Perhatikan contoh berikut ini.
Akan tetapi, ...  Oleh karena itu, ...
Dampaknya, ...  Singkatnya, ...
Kecuali itu, ...  Tegasnya, ...
Meskipun demikian, ... Walaupun demikian, ...

14.2 Kata Dalam yang Didahului Koma.
 Penulisan kata tertentu ( karena, tetapi, sedangkan, antara lain, misalnya, seperti ) yang diikuti detail ( perincian ) harus didahului koma. Perhatikan contoh berikut ini :
 …, antara lain …  …, sedangkan …
 …, misalnya …  …, seperti …
 …, namun …   …, yaitu …
 …, padahal …   …, tetapi …
 Kata dalam kalimat yang tidak didahului koma jika tidak diikuti detail atau perincian.
 … bahwa …   … maka…
 … karena …   … sehingga …

14.3 Penulisan Kata Berdasarkan Kebenaran Fakta.
 Fakta ditulis dalam kurung dengan huruf capital :
1) Fakta Geografi : nama kota atau daerah diapit tanda kurung. Ciawi ( Bogor ), Ciawi ( Tasik ), Ciledug ( Tangerang) .
2) Fakta Sejarah : nama peristiwa sejarah ditulis dengan huruf capital : Hari Ibu 22 Desember, Hari Kartini 21 April.
3) Fakta Ilmiah : air (  ), karbondioksida ( ), besi ( Fe )

14.4 Nama Jenis dan Nama Produk.
 Penulisan nama jenis benda yang terkait dengan nama kota ditulis dengan huruf kecil, sedangkan nama kota penghasil produk ditulis dengan huruf capital :
1) Nama jenis benda : apel malang, asam jawa, duku Palembang.
2) Nama kota penghasil produk ditulis dengan huruf capital : asinan Bogor, batik Yogyakarta, pempek Palembang, rending Padang.
3) Nama kota penghasil karya seni ditulis dengan huruf capital : ketoprak Mataram, langgam Jawa, legong Bali, lenong Betawi.

14.5 Kata Baku Berimbuhan.
 Baku     Tidak Baku
 Dimungkiri    dipungkiri
 Ditemukan    diketemukan
Mengkritik    mengritik
Mengubah    merubah
Menyilakan    menyilahkan
Pertanggungjawaban   pertanggungan jawab

14.6 Seperti, Misalnya, Antara Lain.
 Seperti, misalnya, antara lain tidak diakhiri dengan kata dan lain-lain atau dan sebagainya.
Contoh :
1) Ayam makan biji-bijian, seperti : beras, jagung, dan lain-lain. ( salah )
2) Ayam makan biji-bijian, seperti : beras, jagung, dan kedelai. ( benar )
3) Ayam suka makan biji-bijian, misalnya : beras, jagung, dan kedelai, dan sebagainya.
4) Ayam makan biji-bijian, misalnya : beras, jagung, dan kedelai ( benar )
5) Teman saya banyak, antara lain : Rudi, Rini, Rita, dan lain-lain. ( salah )
6) Teman saya banyak, antara lain : Rudi, Rini, dan Rita. ( benar )

14.7 Masing-masing, Setiap, Suatu dan Sesuatu.
 Masing-masing dan sesuatu dapat berdiri sendiri tanpa lain, sedangkan setiap dan suatu tidak dapat berdiri sendiri dan harus disertai kata lain.
Contoh :
1) Mahasiswa diwajibkan membayar SPP, masing-masing harus menyetorkan uang tersebut selambat-lambatnya 10 Agustus 2003. ( benar )
2) Mahasiswa diwajibkan membayar SPP, masing-masing mahasiswa harus menyetorkan uang tersebut selambat-lambatnya 10 Agustus 2003. ( salah )
3) Mahasiswa wajib membaya SPP, setiap mahasiswa harus menyetorkan uang tersebut selambat- lambatnya 10 Agustus 2003. ( benar )
4) Setiap orang cenderung sensitive terhadap suatu perubahan yang ada di dekatnya. ( benar )
5) Mereka dapat bereaksi secara tepat ata gejala sesuatu. ( benar )

14.8 Penggunaan Kata Idiomatik.
 Idiomatik adalah penggunaan kedua kata yang berpasangan. Misalnya : sesuai dengan, disebabkan oleh, berharap akan, dan lain-lain. Pasangan idiomatic seperti itu tidak dapat digantikan dengan pasangan lain.
Perhatikan contoh berikut ini :
1) Karyawan itu bekerja sesuai dengan aturan perusahaan. Pasangan kedua kata tersebut tdak boleh diganti pasangan lain. Misalnya : sesuai pada, disebabkan karena, mengharapkan akan.
2) Kekacauan social diberbagai tempat disebabkan oleh tidak meratanya keadilan dan kemakmuran. Kata disebabkan oleh tidak dapat diganti disebabkan karena atau disebabkan dengan.
3) Bangsa Indonesia berharap akan tampilnya seorang presiden yang mampu mengatasi berbagai kesulitan bangsa. Kata berharap akan tidak dapat diganti dengan  mengharapkan akan atau berharap dengan.

Sumber: Widjono Hs. 2008. Bahasa Indonesia. Jakarta: grasindo.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...