Senin, 04 Oktober 2010

Home » » SEJARAH SYAHRIR

SEJARAH SYAHRIR

Di mana Bung Syahrir ?
Muncul di Pusat Pentas

Jika Tan Malaka menjadi legenda dan misteri karena sepanjang hidupnya memang selalu
nyaris berada “di bawah tanah”, maka Sjahir tetap menjadi teka-teki (barangkali)
karena ia selalu berdiri tegak  di atas tanah”, “di tengah pentas”, dengan sikap
yang tenang dan sabar di tengah arus zaman yang justru sedang tergesa-gesa dan tak
sabar!

Sampai di sini saya tak bisa untuk tak mengutip Goenawan Mohamad. Dia pernah
mendeskripsikan Sjahrir, persis seperti yang saya maksudkan. Syahrir, kata Goenawan
Mohamad dengan memungut analogi dari permainan bulutangkis, “menyerang, mengkritik,
tapi pukulannya bukan smash. Dia seorang pemain rally yang pelan, cermat.”
Sejarah mencatat: Sjahrir menjadi Perdana Menteri pertama dengan Amir Syarifuddin
sebagai Menteri Pertahanan. Tetapi mereka akhirnya bersimpangjalan, dan final ketika
Amir makin radikal setelah kedatangan Musso pada Agustus 1948, karena Sjahrir memang
tak pernah goyah oleh godaan sentimentalitas revolusioner golongan komunis yang
sering, dalam kata-kata Sjahrir sendiri, “menghancurkan dalam diri mereka sendiri
jiwa serta semangat sosialisme yaitu kemampuan untuk menghargai kemanusiaan dan
martabat manusia.”

Sjahrir, yang akrab dipanggil Bung Kecil karena perawakannya yang mungil, tentu
belajar dari apa yang dilakukan Stalin dengan Gulag-nya. Dan itulah sebabnya ia
kokoh berdiri: sosialismenya adalah sosialisme yang percaya atas martabat manusia.
Itulah yang menurutnya menjadi inti “sosialisme kerakyatan”; istilah yang kemudian
diplesetkan menjadi “soska” alias sosialis kanan, plesetan yang ditujukan pada
Sjahrir yang (terutama oleh komunis dan para revolusioner dari kelompok pemuda)
dinilai sebagai sosialime malu-malu, sosialisme yang kompromistis, kebarat-baratan.
Sjahrir, tentu saja, akhirnya menjadi tak populer, tidak hanya di mata golongan kiri
radikal (baik komunis maupun faksinya Tan Malaka), melainkan juga di mata kebanyakan
tentara (dengan wakil Soedirman), dan juga para pemuda yang tak sabar.
Salah satu penyebab awal dari ketidakpopuleran Sjahrir adalah terbitnya brosur

politiknya, Perjoeangan Kita.

Brosur politik itu dikeluarkan pada 10 November 1945 bersamaan dengan mulai
menghebatnya pertempuran November di Surabaya dan (yang jauh lebih penting),
bersamaan dengan berhembusnya isu ihwal akan ditunjuknya Sjahrir untuk membentuk
kabinet yang bertanggungjawab kepada parlemen, Komite Nasional Indonesia Pusat
(KNIP); isu yang hanya dalam hitungan hari terbukti benar.
Sjahrir lama hanya melihat, menunggu dan menjaga jarak dengan Soekarno-Hatta,
terutama sejak Jepang mulai menunjukkan tanda-tanda kekalahannya dari Sekutu.
Sjahrir tak terlibat langsung dalam Proklamasi, dan seperti Tan Malaka, ia juga tak
menghadiri pembacaan proklamasi. Dan hingga 3 bulan Proklamasi dibacakan, ia juga
tak mau terlibat dalam pemerintahanSoekarno-Hatta.
Dengan diawali terbitnya Perjoengan Kita, Bung Kecil memulai perjuangannya
menyelamatkan republik yang masih bayi dari ancaman perpecahan dan juga kebebalan
politik Belanda yang masih menganggap Indonesia sebagai Hindia Belanda. Sebuah
perjuangan yang dilakukan langsung dari dalam: menjadi Perdana Menteri pertama
Indonesia dalam usia 36 tahun.



Di Mana Bung Sjahrir
Perjuangan Kita

Perjoengan Kita adalah jawaban atas dorongan banyak kalangan agar Sjahrir ikut serta
dalam pemerintahan. Perjoengan Kita dengan demikian bisa ditempatkan sebagai
penjelasan di mana posisi Sjahrir sekaligus sebagai cetak biru dari program yang
hendak dijalankan Sjahrir begitu ia diangkat menjadi Perdana Menteri.
Perjoengan Kita ditulis untuk menjelaskan, tulis Sjahrir beberapa tahun kemudian
(Out of Exile, 1949: 263), “…kedudukan kita sehubungan dengan sejarah masa silam dan
perjuangan sekarang, dan menjelaskan apa yang kita anggap sebagai taruhan dan tujuan
revolusi.”

Dalam tulisannya yang paling termasyhur itu, terlihat benar betapa Sjahrir adalah
orang yang merdeka, tak bergantung pada siapa pun, sekaligus terlihat tanpa beban.
Itu terpancar dari serangan-serangannya yang tajam, yang di beberapa bagian bahkan
sangat kasar, terhadap semua kalangan yang menurutnya laik dihantam.
Ia mengritik habis kaum nasionalis generasi tua yang bekerjasama dengan Jepang.
Menurutnya, unsur-unsur kolaborator itu mesti dibabat habis hingga ke akarnya.
Pembersihan Indonesia dari para kolaborator itu adalah awal mula dari apa yang ia
sebut sebagai perjuangan “demokrasi sosial” dan “revolusi demokrasi”.
Ada yang menarik jika kita bandingkan Perjoengan Kita cetakan pertama dan
cetakan-cetakan selanjutnya. Di cetakan pertama, Sjahrir bahkan menggunakan kata
sekasar “anjing-anjing yang berlari” kepada kaum nasionalis yang bekerjasama dengan
Jepang, Soekarno-Hatta termasuk tentu saja; kalimast kasar yang kemudian raib pada
cetakan-cetakan selanjutnya.

Ia juga menyerang angkatan muda yang menurutnya terlampau diayun-ayun oleh
romantisme revolusioner yang membodohkan. Para pemuda dinilainya tak memiliki
pengertian yang jelas tentang apa yang mereka perjuangkan, selain hanya Merdeka atau
Mati! Titik.
Jika para pemuda itu, kata Sjahrir, “mulai merasa kemerdekaan belum juga tercapai
sedangkan kematian masih jauh, mereka akan terus berada dalam kebimbangan.”
Ia juga membidik soal pentingnya “partai revolusioner buruh demokratik” yang
menurutnya tak harus besar yang penting ditopang oleh pasukan yang berdisiplin
ketat. Hanya partai yang demikianlah yang menurutnya bisa menjadi inti revolusi
Indonesia.
Yang tak kalah berharga adalah uraian Sjahrir atas posisi Indonesia dalam percaturan
politik mondial. Ia yakin Indonesia tak terlepas dari arus yang terjadi, dalam
kata-kata Sjahrir sendiri, “di dunia kapitalisme dan imperialisme Anglo-Saxon”.
Perjuangan melawan imperialisme, menurut Sjahrir, pada hakikatnya ialah membangun
jarak: untuk memaksa segala amcam gerakan dan dorongan politik sampai lemah, untuk
menciptakan ruangan supaya di dalamnya orang yang lemah relatif dapat bergerak
bebas.

Di titik inilah Sjahrir sudah memancangkan orientasi perjuangannya yang lebih
mementingkan diplomasi ketimbang perjuangan bersenjata. Baginya, kaum kapitalis
melulu menghitung dari sudut pandang laba-rugi. Selama mereka tak mengeluarkan
biaya, mereka kemungkinan akan netral dalam perjuangan Indonesia. Dan Indonesia,
kata Sjahrir, harus memastikan bahwa kita tidak memeroleh kebencian asing, agar
mereka bisa berada di belakang Indonesia.
Yang paling menyentuh adalah simpati Sjahrir terhadap orang-orang yang terjebak pada
sisa kolonialisme dan tak bisa bergerak, mereka adalah orang Belanda sendiri
(Sjahrir tak pernah membenci orang Belanda, ia hanya menentang sistem kolonialisme
Belanda), Indo-Belanda, orang Ambon yang memihak Belanda dam orang Indonesia yang
menjadi tentara kolonial sebelum Jepang muncul. Di sini humanisme Sjahrir yang
terkenal itu muncul. Sjahrir menyebut orang-orang seperti itu sebagai “orang-orang
yang terjepit atau in-between”.
Bagian inilah yang menurut Sal Tas, karib Sjahrir yang merupakan aktivis anti
kolonial di Belanda, sebagai bagian paling mengesankan dari Perjoeangan Kita. Dalam
kenang-kenangan saat Sjahrir wafat, Sal Tas menyebut perhatian dan simpati Sjahrir
itu sebagai “panggilan untuk keksatriaan” (Souvenir of Sjahrir, 169: 150)
Begitu terbit, Perjoeangan Kita segera dan selama bertahun-tahun kemudian menjadi
masalah yang hangat dipertukarcakapkan oleh para politisi, kaum intelektual dan para
akademisi.

Ben Anderson, dalam disertasinya Java in A Time of Revolution (1972: 195), menyebut
Perjoeangan Kita sebagai “satu-satunya usaha yang dilakukan selama bertahun-tahun
pasca perang untuk menganalisa secara sistematik kekuatan domestik dan internasional
yang memengaruhi Indonesia dan memberikan perspektif yang masuk akal bagi gerakan
kemerdekaan di masa depan”.

Beberapa karib dekat Sjahrir menyebut pamflet itu menunjukkan cara berpikir Sjahrir
yang ternyata begitu dekat dengan Mao sehingga bahkan ada yang berpikir kalau dua
orang itu sempat bertemu. Franklin Weinstein, sarjana Amerika yang menulis disertasi
seputar kaum elit Indonesia, menyebut Perjoeangan Kita sering dibandingkan dengan On
New Democracy-nya Mao dan bahkan rakyat di dunia komunis menerima Perjoeangan Kita
sebagai sumbangan yang setaraf dengan sumbangan Mao.
Tetapi sebagai alat untuk menopang kekuasaannya sebagai Perdana Menteri, Perjoeangan
Kita seringkali justru memersukar posisi Sjahrir. Terjangan tanpa tedeng aling-aling
Sjahrir terhadap generasi tua dan angkatan muda sekaligus membikin Perjoeangan Kita
justru (dalam kata-kata Ben Anderson) ”memerbanyak jumlah musuh Sjahrir sebanyak
menambah sahabat-sahabatnya”.
Serangan Sjahrir atas kaum muda di tengah heroisme angkatan muda yang merasa sebagai
pihak yang paling berjasa dalam tercetusnya proklamasi, masihkah diherankan jika
Sjahrir akhirnya tak populer di angkatan pemuda, kelompok yang sangat menentukan
itu?

Tak perlu diherankan jika beberapa saat kemudian, banyak angkatan muda yang
merapatkan barisan ke kubu Tan Malaka yang konsisten dengan garis perjuangan
bersenjata tanpa diplomasi yang mencuat sebagai kekuatan baru lewat organ taktis
Persatuan Perjuangan yang didukung 146 organisasi politik, termasuk beroleh dukungan
terang dari Jenderal Soedirman.
Di saat-saat genting ketika Sekutu baru saja membumihanguskan Surabaya, dan saat
Belanda sudah siap mengambil keuntungan dengan keterlibatan Sekutu, Sjahrir masih
sempat-sempatnya menulis: “Bukan nasionalisme (yang) harus nomer satu, tapi
demokrasi!”
Cukup jelas: bagi mereka yang tidak cukup memiliki kesabaran revolusioner, Sjahrir
adalah suara tanpa tindakan.




Di Mana Bung Sjahrir?

Konduktor Sjahrir

Tetapi bukan berarti Sjahrir selalu berpangku tangan. Setidaknya Sjahrir cermat
membaca keadaan, persisnya membaca kecenderungan dan arah politik global, yang
kemudian ia implementasikan dalam sejumlah taktik dan strategi diplomasi yang dalam
beberapa tahun kemudian jelas menuai hasil “baik”, jika kata “cemerlang” barangkali
dinilai terlampau superlatif.
Jika Agus Salim, dengan segenap erudisi, retorika dan humornya yang memikat, menjadi
pelaku/aktor dibalik keberhasilan operasi diplomasi (terutama di Timur Tengah,
khususnya Mesir); Sjahrir, dengan intusinya membaca situasi tata mondial
termutakhir, bisa disebut sebagai “konduktor yang cermat dan sabar mengelola,
menjaga dan mengatur irama pertunjukan orkestra diplomasi Indonesia di dunia
internasional”.
Momen simbolik Sjahrir sebagai konduktor operasi diplomasi Indonesia terjadi pada
Agustus 1947, hanya berselang beberapa hari dari Agresi I Belanda. Peristiwa itu
terjadi di depan Dewan Keamanan PBB di Lake Succes. Di situlah Sjahrir berpidato,
mewakili sebuah bangsa baru di Timur Jauh yang sedang terancam kemerdekaannya.
Sjahrir, seperti diceritakan kembali dengan baik oleh Charles Wolf Jr., memulai
pidatonya dengan mengisahkan sebuah bangsa yang sudah mengenal tulisan sejak seribu
lima ratus tahun silam, yang memiliki berserat-serat sejarah emas di bawah Sriwijaya
dan Majapahit, yang terbentang dari Papua di Timur hingga Madagaskar di Barat. Dalam
pasang surut sejarah yang sukar dirumuskan, bangsa itu mulai ditindas oleh
orang-orang Eropa.
Dengan cemerlang sekaligus efektif, Sjahrir mengakhirinya dengan kata-kata: “Dalam
proses itu, negeri saya kehilangan kemerdekaannya… dan jatuh dari tempatnya yang
megah dahulu menjadi tanah jajahan yang lemah dan hina.”
Di atas mimbar di Lake Succes, di hadapan DK PBB, Sjahrir seakan menjadi konduktor
di mana dunia internasional, perlahan tapi pasti (dan dipercepat oleh kebebalan
politik Belanda), bergerak ke arah seperti yang diinginkan Sjahrir: mengutuk Belanda
dan memaksa Belanda duduk di perundingan!
Apa yang dilakukan Sjahrir ketika itu mengingatkan pada pidato pertama kali Yasser
Arafat di PBB mewakili PLO yang dianggap sebagai representasi keinginan bangsa
Palestina untuk bebas dari pendudukan Israel. Di momen itulah Palestina, seperti
juga Indonesia ketika Sjahrir berpidato, untuk kali pertama mendapat pengakuan
secara de facto sebagai sebuah bangsa di perserawungan resmi antar negara.
Jika Sjahrir memulai pidatonya dengan sebuah kisah, Arafat memulainya dengan
memamerkan sebuah ranting zaitun yang patah, yang kata Arafat jadi simbol keinginan
merdeka bangsa Palestina yang terancam rengkah.
Di bawah juru runding Sjahrir pula Indonesia berunding dengan Belanda di
Linggarjati. Dan seperti kita tahu, Sjahrir tersingkir dari kursi Perdana Menteri
karena dinilai terlalu kompromistis dengan Belanda; hal yang sama juga terjadi pada
Schermerhorn, juru runding Belanda di Linggarjati, yang seperti bisa kita baca dalam
buku hariannya yang sudah diterbitkan dengan judul Schermerhorn, ternyata juga
dibenci oleh banyak kalangan konservatif di Belanda karena dianggap terlalu
memberikan kompromi pada Indonesia.

Hal inilah yang menjadi salah satu pasal pokok dari kesukaran kesadaran sejarah
Indonesia memosisikan Sjahrir. Sejak itu, Sjahrir selalu saja dianggap sebagai juru
runding yang gagal, politisi yang dinilai terlalu kompromistis, peragu, dan
terlampau berbelaskasih terhadap Barat





Di Mana Bung Sjahrir?

Di Penjara karena Paux Vas

Sejak itulah Sjahrir perlahan tapi pasti tenggelam, sebuah proses sejarah yang tidak
hanya menyesakkan bagi Sjahrir dan para pengikutnya, melainkan juga membikin heran
banyak orang asing yang mengikuti perkembangan Indonesia. Seorang diplomat diplomat
asing, di hari dikebumikannya Sjahrir, merasa heran bagaimana bisa Sjahrir bisa
tersingkir dan dilupakan secara tragis, padahal, kata dia, di masa awal revolusi
dunia internasional jauh lebih mengenal Sjahrir ketimbang tokoh pergerakan mana pun.
Sjahrir memang praktis tersingkir. Setelah penyerahan kedaulatan pada Konferensi
Meja Bundar 1949, Sjahrir makin jauh dari dunia politik. Sesekali ia masih
disibukkan oleh statusnya sebagai Ketua Umum Partai Sosialis Indonesia. Tetapi
kekalahan tragis yang menimpa PSI dalam pemilu 1955, hampir dipastikan membikin
kemungkinan kembalinya Sjahrir ke dalam percaturan politik menjadi betul-betul
tertutup.
Puncak pengasingan Sjahrir terjadi ketika ia, bersama Anak Agung, Soebadio
Sastrosatomo, Sultan Hamid, Roem dan pemimpin Masyumi lainnya, dipenjarakan oleh
Soekarno pada 1962 dengan tuduhan terlibat Bali Connection.
Seperti terpapar dengan detail dalam Sjahrir: Politics and Exile in Indonesia, karya
sejarawan Ceko, Rudolf Mrazek, pada 18 Agustus 1962 mantan raja Gianyar akan
dingaben dalam sebuah upacara besar. Anak Agung Gede Agung, putra Sang Raja,
mengundang sejumlah karibnya: Soetan Sjahrir, Moh Hatta, Roem, Sultan Hamid dari
Pontianak, Soebadio Sastrosatomo plus ribuan tamu dan penonton lain yang hadirtentu
saja.
Tapi Anak Agung, dalam kata-katanya sendiri, melakukan faux pas, semacam blunder
dalam bersikap dan mengambil keputusan: dia tak mengundang Soekarno. Sadar akan
kekeliruannya, Anak Agung segera mengundang Soekarno. Tetapi Soekarno tampaknya
sudah merasa dihina karena tak diundang. Soekarno, menurut Anak Agung sendiri,
akhirnya merasa kecewa.
Lantas pada7 Januari 1962, Soekarno yang sedang melakukan perjalanan di Makasar
untuk kampanye Irian Barat, dilempari granat. 3 orang tewas, 28 penonton luka.
Soekarno dan rombongan sendiri selamat.
Delapan hari berselang, dua orang Belanda ditangkap. Sejak itulah mulai beredar
desas-desus bahwa peristiwa itu diakibatkan oleh apa yang disebut sebagai “Bali
Connection”: sebutan untuk komplotan politik yang terdiri dari orang-orang yang
berkumpul pada upacara ngaben Raja Gianyar.
Akhirnya pada 16 Januari 1962, Sjahrir, Anak Agung, Soebadio, Sultan Hamid, Roem dan
beberapa pemimpin Masyumi lainnya, ditangkap. Tak begitu jelas siapa yang bermain
dalam isu “Bali Connection”. Ada yang menyebut Soebandrio, tetapi jenderal Nasution
juga disebut. Akhirnya, tidak bisa tidak, Soekarno pun tersangkut.
Dan Soekarno, dua tahun kemudian, seperti terlacak dalam autobiografi yang disusun
Cindy Adams, mengakuinya. Soakerno menyebut penangkapan Sjahrir sebagai “hukum
revolusi”: pukul musuh kamu, bunuh atau dibunuh. Penjarakan atau dipenjarakan.
Beberapa waktu yang lalu, kata Soekarno dengan kata-kata yang menggeletar, “Sjahrir
merencanakan komplotan untuk menggulingkanku dan merenggut pemerintahan. Kini
Sjahrir dalam penjara. Aku tidak menaruh dendam. Aku menyadari bahwa ini suatu
permainan dua sisi yang mengerikan dan aku terlibat. Permainan untuk kelangsungan
hidup.”
Dan dalam status sebagai tahanan politik itu, tanpa proses pengadilan yang fair dan
terbuka, Sjahrir mengembuskan nafasnya yang terakhir. Sjahrir, lelaki yang dalam
usia 36 tahun menjadi Perdana Menteri pertama, mendiang “dalam pengasingan”; sesuatu
yang menurut Mrazek nyaris selalu melingkupi kehidupan dan karir politik Sjahrir.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...